Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Kursi Nomor 1 Sumsel

Dengan alasan ke-golput-an saya, seorang teman meminta saya menuliskan soal Pilkada Sumsel. Sebenarnya saya ga memilih golput. Karena saya ga terdaftar sebagai pemilih maka otomatis saya golput. Dengan alasan ini, menurut dia, saya yang ga suka politik praktis, pastilah ga akan condong ke salah satu pihak. Sekali pun saya punya hak pilih, saya ga akan pernah menjadi tim sukses pihak mana pun, berapa pun mereka mau membayar saya. Sekali lagi, saya ga tertarik politik praktis. Sebenarnya saya ga terlalu mengikuti perkembangan Pilkada Sumsel. Memang saya mendengar banyak isu miring soal putra-putra terbaik Sumsel yang akan bertarung dalam Pilkada 4 September 2008. Saya tahu calon urut pertama adalah Alex Nurdin dan pasangannya, Eddy Yusuf. Calon kedua Syahrial Oesman dan Helmi Yahya. Saya hanya tahu Alex Nurdin menjabat bupati salah satu kabupaten di Sumsel. Pokoknya ada kota Sekayu-nya. Dua kali kalau ga salah, meski kabupatennya beda.

Sedangkan Syahrial Oesman jelas saya tahu. Beliau menjabat gubernur sebelum Pilkada ini digelar. Helmi Yahya? Siapa sih orang di Indonesia ini yang punya TV dan hanya menonton channel Indonesia, ga tahu Helmi Yahya? Meski ga tahu acara yang dipandunya, saya dapat mengingat bahwa dia salah satu host kuis terbaik. Mudah-mudahan saya ga keliru sama Tantowi Yahya, kakaknya.

Sedangkan Eddy Yusuf, terus terang saya ga tahu kecuali dalam Pilkada ini. Tapi ga heran, saya rada kuper soal nama-nama orang terkenal. Awalnya sih saya senang waktu tahu si ‘Yahya’ ikut Pilkada. Karena saya mengira Tantowi yang ikut. Di mata saya, Tantowi Yahya orang yang cerdas, sedikit angkuh (tipikal pemimpin, mirip Syahrial Oesman kalau lagi bicara), dan berwawasan luas. Sedang Helmi Yahya tipikal pengusaha sukses. Tapi setelah melihat daftar riwayat pendidikannya, wah, saya ga bisa bilang Tantowi adalah Yahya satu-satunya yang pintar. Helmi nyaris selalu juara satu di setiap jenjang yang dilampauinya. Referensi yang bagus buat murid-murid saya.

Alex dan Program Sekolah Gratis

Saya nyaris ga percaya kalau ada pemimpin bangsa ini yang berani menggratiskan segala keperluan sekolah bagi siswa-siswa SD, SMP, hingga SMA. Bahkan waktu Mbak Tutut sekian tahun lalu menyatakan akan membebaskan SPP dari seluruh pelosok negeri, saya pikir program itu justru akan menaikkan anggaran pengeluaran orang tua terhadap pendidikan anaknya dengan naiknya iuran wajib (BP3 atau Komite saat ini). Dan dugaan saya benar.

Untungnya kemudian ada program BOSS, meski saya ga terlalu setuju dengan teknik pelaksanaan BOSS yang berlaku untuk semua kalangan. Alex mengusung program sekolah gratis sampai buku dan pakaian seragam gratis untuk semua siswa di Sumsel. Berdasarkan rencananya, beliau akan menaikkan APBD atau menaikkan anggaran pendidikan Sumsel. Oke, itu alasan yang logis karena ga mungkin tercukupi dari APBD yang ada sekarang.

Tapi, apakah akan terlaksana dalam tahun pertama pemerintahannya? Karena saya mendengar sendiri komitmen berani yang ditawarkannya di dalam gedung DPRD (lewat TV tentunya, itupun telah diedit) bahwa beliau dan pasangannya akan mengundurkan diri jika program-program yang ditawarkannya tidak terlaksana pada tahun pertama kepemimpinannya. Wah, mungkin beliau akan menjadi gubernur Indonesia pertama yang berjiwa ksatria jika benar beliau melaksanakan komitmennya kelak.

Syahrial dan Kota Metropolis

Meski bukan seorang konsumen tetap salah satu mall atau swalayan di Palembang, saya senang-senang aja mall menjamur di Palembang. Saya akan lebih senang kalau mall bisa buka 24 jam karena artinya saya akan punya banyak waktu di malam hari belanja berbagai hal. Karena saat saya punya waktu belanja, semua mall dan pertokoan di Palembang sudah tertutup rapat Kalau Tanjung Siapi-api berjalan, Sumsel akan menjadi pintu gerbang investasi ekonomi. Sayang, saya mendengar isu nasional ga sedap soal proyek Tanjung Siapi-api dari berbagai berita di TV dan nama Syahrial termasuk dikait-kaitkan di dalamnya.

Sumsel Masa Depan

Daya tarik Sumsel sebagai kota wisata sebenarnya amat terbuka, hanya saja belum dikelola dengan baik. Saya belum menjelajah banyak kota di Sumsel tapi cerita dari teman-teman asli Sumsel, menunjukkan banyaknya kawasan yang bisa dijadikan tempat wisata. Ada air terjun yang bagus (kalau ga salah di Lahat), ada kebun teh dengan alamnya yang indah (kalau ga salah di Pagaralam), ada berbagai tempat bersejarah, termasuk area Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) dan Sungai Musi.

Pemerintah kota atau pemerintah propinsi sudah mulai mengembangkan area Sungai Musi tetapi masih belum optimal, masih terlalu kumuh sebagai kawasan wisata. Kerja sama dengan berbagai BUMN terutama yang memiliki areal pabrik sekitar Sungai Musi dapat mendukung pengembangan lebih cepat. Ga mungkin mengharapkan sungai terlebar di Indonesia itu berubah jadi lautan indah, tetapi bukan ga mungkin mengubahkan jadi sungai yang bersih dengan pemandangan sekitarnya yang ‘layak’ dinikmati.

Jadi siapa tahu di masa depan anak-anak sekolah ga lagi menyusuri Sungai Musi untuk mencari data pencemaran sungai itu buat penulisan karya ilmiah mereka, tapi justru dampak Sungai Musi sebagai pendukung utama perekonomian dan wisata daerah. Siapa tahu…. Bermimpi indah tentang daerah sendiri ga ada salahnya, kan?

27 August 2008 - Posted by | Opini | ,

5 Comments »

  1. asslkum…..bu wyd lama gak mampir….waduh bu wyd sayang y gak k daftar jdi daftar pemilih…..pdhal sya pgen bget ikut nyoblos but apa mau dkata tgl 1 septmber ini udah mo msuk kul….y udahlah..smga sumsel mendapatkan pemimpin yg terbaik amin……wss

    Comment by adrian cf | 28 August 2008

  2. nonton debat kandidat calgub di metro malem ini? yg dtg cm calgub no 1, alex and edy. calgub no 2 syahrial dan helmi tdk dtg. aku mau tau komntar kamu ttg ini

    Comment by Denny | 29 August 2008

  3. asslkum..waduh bu jdi tersanjung ma ungkpan “wooow”-ny ibu heheheh……alhamdulillah kmi para alumni slalu berusha utk menmbawa nma 17 d bangku kuliah..ini juga karena doa2 dri ibu dan guru2 lainnya…aq cma mo ngucpin trima ksih yg sbesar2besarny kpda Ibu n guru2 lainnya krna telah dgn ikhlas mengajari kmi n mendoakan kmi smpai saat ini….mungkin ucpan trima ksih ni gak ckup utk memblas jasa2 guru2ku slama ini….smga Allah memblas smua jasa guru2 dengan anugerah kebahagiaan dunia-akhirat….skali lagi trima kasih yg sbesar-besarnya..mohn doanya…wss

    Comment by adrian cf | 30 August 2008

  4. buat saya, penjelasan pak alex nurdin kurang substansial, mungkin karena saya orang eksakta ga suka berbelit-belit. tapi saya salut sama pak alex dan pak edy yang mau memenuhi undangan tersebut.

    buat kubu pak syahrial dan pak helmi mungkin mereka terlalu sibuk sesuai kapasitas pekerjaan mereka saat ini. atau mungkin mereka pikir debat itu hanyalah debat yang diselenggarakan publik untuk memuaskan rasa ingin tahu maka lebih baik melakukan agenda pekerjaan mereka.

    dan malam itu bukan debat karena memang ga ada perdebatan.
    padahal kalau memang terjadi debat kandidat, seru juga yah… bisa jadi ada banyak pemilih yang berubah haluan🙂

    Comment by wyd | 30 August 2008

  5. turun be kau alex jenggol!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    curang kau tu,…..awas dak kau tepati janji pecah ke kepala kau…!!!!
    dasar tukang ngambil istri orang…..

    Comment by muis | 8 November 2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s