Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

MARI TURUN KE JALAN

Wah, saya ga lagi membakar amarah orang agar ikut demo ke jalan. Turun ke jalan dalam konteks ini adalah melihat bagaimana situasi jalanan di Palembang. Kalau anda pernah ke Medan, dan tahu bagaimana ‘gila’-nya supir di jalanan kota itu terutama supir angkutan umum, maka anda akan menemukan hal yang sama di Palembang. Bedanya, hal ini dilakukan hampir semua pengendara dari berbagai jenis kendaraan. Diperburuk lagi dengan parahnya kondisi jalanan kota Palembang, secara umum.

Satu Hari di Jalanan

Dua hari lalu, saya menghabiskan banyak waktu di jalanan kota Palembang dan melintasi banyak ruas jalan. Pengalaman itulah yang membuat saya menuliskan artikel ini. Saya berangkat dari rumah jam enam pagi dengan motor ‘ala koboi’. Maksudnya, kendaraan itu bisa melaju sangat kencang ga ubahnya motor di arena balap. Meski ga suka ngebut kecuali karena diburu waktu kadang-kadang saya kendarai dengan kecepatan 90 km/jam meski tak jarang cuma 40 km/jam.

Beberapa hal saya perhatikan tentang jalanan di kota Palembang adalah:

1) Jalanan ‘terlihat’ mulus, siapa pun dapat menikmati perjalanan dengan ‘tenang’.
‘Terlihat’ berarti apa yang tampak oleh mata sewaktu kita mengendarai kendaraan. Karena ternyata beberapa ruas jalan, sebut salah satunya jalan protokol Demang Lebar Daun dan jalan Jendral Sudirman, mewakili apa yang saya katakan hanya ‘terlihat’ mulus dan bukan sesungguhnya mulus. Karena kalau tidak hati-hati maka ada banyak cekungan lumayan dalam yang hanya bisa dirasakan dari atas kendaraan, akan membuat perjalanan anda terguncang dalam makna yang sebenarnya.

2) Jalanan dalam perbaikan, harap maklum.
Di perempatan Rumah Sakit Charitas, akan terbaca plang kecil yang berdiri di atas trotoar: hindari Simpang Polda. Bagi pendatang di kota ini pasti penasaran ada apa dengan Simpang Polda. Simpang Polda adalah nama perempatan tepat di sekitar kantor Polda. Sejak hampir dua tahun yang lalu, di daerah itu dibangun jalan bebas hambatan yang tentunya bermaksud mengurangi kemacetan dan berbagai hambatan jalanan di daerah itu. Karena memang daerah sekitar Polda menjadi daerah masalah buat pengendara kendaraan bermotor. Tidak macet hingga berjam-jam memang, tetapi bertahun-tahun saya melewati tempat itu, bertahun-tahun pula saya rasakan ketidakteraturan jalanan, meski ada pos polisi lalu lintas di perempatan itu.
Lucunya pembangunan jalan bebas hambatan itu memakan waktu demikian lama sehingga malah menambah kemacetan. Palembang bukan satu-satunya kota yang sedang membangun jalan bebas hambatan, saya kira.
Jika melewati daerah itu, mata anda akan terbiasa melihat pengendara bermotor melaju di atas trotoar atau berkumpul di sebelah kanan lampu merah (artinya ruas buat pengendara belok kiri). Karena kalau tidak, maka mereka akan terjebak dalam beberapa kali lampu merah berganti. Hal ini diperparah jika hujan (yang seringkali turun di musim kemarau sekali pun) datang sedikit lebat. Jangan coba membuka mulut atau berbicara sewaktu menunggu lampu hijau menyala jika anda tidak mau tertelan air hujan di jalanan yang disemprotkan kendaraan lain.

3) Lampu merah menyala, kendaraan boleh jalan.
Nah, di sini saya tidak tahu apa gunanya lampu rambu lalu lintas. Saya memilih taat peraturan lalu lintas dan menghentikan kendaraan ketika lampu merah menyala atau memperlambat laju kendaraan ketika lampu berubah kuning. Tapi harus ekstra hati-hati, karena bisa-bisa kendaraan di belakang akan coba menabrak sebagai tanda agar kita tetap jalan meski lampu merah sudah di depan mata.
Sebuah joke ringan dari teman-teman yang biasa melewati ruas-ruas jalan protokol, bahwa lampu kuning bukan pertanda hati-hati tetapi artinya kebutkan kendaraan sekencang mungkin atau kendaraan di belakangmu menabrakmu. Ini bukan cerita kosong tetapi sungguh terjadi beberapa kali di depan mata saya. Untungnya bukan kendaraan saya yang ditabrak.
Tapi sebagai gantinya saya berulang kali mendapat umpatan tak sedap dari pengendara di belakang saya karena terpaksa berhenti saat lampu merah, setelah saya yang berada di depannya berhenti duluan. Satu-dua kali saya iseng turun dari kendaraan dan menghampiri orang yang mengumpat, terutama jika datang dari kendaraan mulus berharga mahal dan si pengendara terlihat berpendidikan. Yang saya lakukan adalah menanyakan alasannya mengumpat saya. Saya akan kembali ke kendaraan saya setelah dia meminta maaf dan tak lupa meninggalkan ucapan selamat tinggal: stupid!

4) Jalanan ditutup sementara karena ada private party, silakan pilih jalur lain.
Saya hampir ga kenal jalan pintas atau ruas-ruas jalan kecil. Akan menjadi masalah yang cukup menyebalkan buat saya ketika saya terpaksa harus mencari jalan alternatif atau memutar cukup jauh hanya karena ada orang yang sedang mengadakan private party atau hajatan. Ini terjadi terutama di hari Minggu. Anehnya lagi mereka bahkan berani menutup ruas jalan meski tidak mengantongi izin kepolisian.

Komentar Teman-teman

Ini komentar-komentar lucu sekaligus lugu dari teman-teman yang kebetulan berasal dari negara yang menjalankan disiplin berlalu lintas. Saya terjemahkan dengan gaya bahasa saya….

– Wow, polisi Indonesia baik hati banget. Mereka cuma tersenyum meski melihat orang melanggar peraturan lalu lintas. (Komentar saya: yah, tipikal orang Indonesia itu kayak saya ini… baik hati, lembut, sabar, ramah, suka menolong, gemar menabung, hafal Pancasila….)
– Pantesan orang bilang bangsa Indonesia terkenal sabar. Buktinya meski kendaraan di sekitarnya menyalip kendaraannya tanpa memberi tanda lebih dulu, dia tetap aja tenang dan membiarkan orang itu berlalu. Pasti kena tinju pengendara tipe begituan di negara saya. (Komentar saya: Sebagai pengendara, kami terbiasa mengerahkan segenap indra, termasuk indra keenam🙂 )
– Saya harus acungkan jempol untuk polisi Indonesia. Meski banyak mobil menggunakan kaca super gelap, mereka tetap bisa menangkap teroris di jalanan (Komentar saya: polisi kami bekerja pakai mata hati. Teman saya mengangguk-anggukan kepala tanda setuju).
– Pengendara Indonesia bisa jadi pembalap hebat di dunia balap. Tanpa melihat kendaraan di depan karena tertutup kaca gelap mobil di depannya, dia tetap bisa menyalip dan… tetap selamat! (Komentar saya: kami cuma mau memberi kesempatan pada negara lain buat jadi juara karena kami sudah menjuarai banyak hal. Pernyataan saya membuatnya mengerutkan kening tapi saya ga melanjutkan komentar).
– Saya percaya orang Indonesia sopan-sopan. Buktinya meski pakai kaca mobil gelap, mereka ga gunakan itu untuk berbuat mesum di dalamnya (Komentar saya: hahahahaha)

28 July 2008 - Posted by | Opini | , ,

5 Comments »

  1. asslkum..aduh..bu wyd tulisanyo ckup kocak apalagi pas d bagian komentar tmen2 bu wyd..hehehehe….anyway memang kondisi jalan di Indonesia yang sangat memprihatinkan bahkan termasuk membahayakan para pengguna jalan jangankan di jalan raya yang macet dan sesak bahkan di jalan tol yg notabene bebas hambatan aja msih sering terjdi kecelakaan exmple pas sya k JKT skitar 2 bulan yang lalu melewati tol cipularang ada plang yg berisi data kecelakaan yg terjdi di jln tol tersebut dan mengejutkan jumlah kecelakaan yg terjdi mendekati angka seratus hanya utk thun 2008 n ampe bulan itu aja….kecelakaan tersebut mnurut sya disebabkan karena dua faktor utama yaitu kondisi jalan yang kurang memadai dan human error (tetapi disengaja so erorr yg disengaja ma humannya hehehe)……..nah tetapi ktika di jalan tol apakah kurang memadai kondisi jlannya?…ehm kurasa sudah ckup memadai nah faktor kedualah sepertinya yg tepat yaitu human error yg sengaja di-error errorin hehhee…nah disetiap daerah sepertinya faktor kecelakaan berkaitan dengan sosiokultur masyarakatnya…contohnya aja ktika sya msih di Palembang tentunya sring sekali terjdi kecelakaan n kmacetan yg disebabkan sebagian besar krna banyak masyarakat Palembang yg kurang sabaran orangnya(aduh ngomongin kaum sndiri ne but emg itu faktanya)….berbeda ktika sya sekrg melihat di Bandung yg jln2ny udah sempit n kendaraannya padat tetapi lumayan teratur dibanding d palembang krna perangai kebanyakan org bandung yg lebih memilih mengalah dripada ribut di tenganh jalan..hehehe… oh ya lupa disisi lain jga terkdang kondisi jln2 d Indo yg msih banyak rusaknya padahal kan kita udah banyak bayar pajak yg ktany digunain utk pembangunan fasilitas umum dsb…tetapi???…pada kmana uang pajak tersebut ? menguap entah kmana…y smoga aja Kdepannya ntar masyarakat n pemerintah bisa duduk bersama membicarakan n mencari solusi ttg maslah ini..amiiinn..wss

    Comment by adrian cf | 28 July 2008

  2. jalanan di kota bandung umumnya pendek2 maka pengemudi ga terlalu stress karena bentar2 udah muter lagi, udah ganti situasi jalan lain… tapi kalau palembang kan jalanannya panjaaaaannggg banget…. hitungannya miles kalau ga fokus bisa2 ketiduran di jalan🙂

    Comment by wyd | 29 July 2008

  3. ehmm..mungkin jga y bu…

    Comment by adrian cf | 29 July 2008

  4. Ass.W.W
    Non Wyd sayang . mampir lagi nih
    saya tertarik dengan tulisan jalan non Wyd, karena saya pengguna jalan setiap hari ,dengan jalan yang sangat rutin terlewati ,plaju,simpang jaka baring, ampera,sudirman,skip,swadaya dan 17.itu PP lagi.
    dijalan rutinitas yang yang sangat dibenci adalah pas lampu merah,lampu hijau berhenti,kuning ngebut,merah jalan .Masya Allah pengguna jalan kita ini. Apa ini yang terjadi non Wyd.
    Pernah lampu merah simpang Charitas, kita berhenti dari dari belakang tat…tit…tut… untuk menyuruh kita jalan,kita disiplin,ehhhhhhhh di marah dari belakang.aneh …aneh.
    Krisis apa lagi ini non Wyd.Yang lucu lagi dalam situasi yang sudah terbiasa amburadul polisi jarang ditempat pada saat yang diperlukan.Tapi masah kemacetan belum seberapa di Palembang ini, saya menikmati aja kemacetan ini, dibandingkan selama saya di Kota Metropolitan.

    Comment by yoe | 4 February 2009

  5. @yoe: kalau pun polisi ada tempat, paling cuma ngasih mata melotot plus teriakan ga jelas, bu.
    kalau palembang semacet jakarta? wahhh saya ngungsi ke bulan aja deh, bu…🙂

    Comment by wyd | 5 February 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s