Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Gila Ponsel

 

Ponakan-ponakan saya yang beranjak remaja mungkin beberapa di antara sekian banyak orang yang gila ponsel. Contoh paling akurat tentu saja putra saya. Bangun tidur -jam berapa pun dia terbangun- pasti ponsel menjadi barang pertama yang dicarinya. Jangan tanya kalau mau tidur, ponsel pasti ada di atas tempat tidur yang sama. Saya harus bolak-balik mematikan suara ring tone-nya karena SMS masuk berkali-kali, bahkan setelah lewat tengah malam. Suara musik hard metal itu tak mengusik tidurnya sama sekali tetapi tentu amat sangat mengganggu konsentrasi saya mengetik. Saya heran, apa teman-temannya tergolong remaja yang ga butuh tidur?

Positif-Negatif Ponsel

Kalau ditimbang-timbang, sisi negatif akan lebih menggunung dibandingkan sisi positifnya. Tentu akan mudah menghubunginya jika kami berada di tempat berbeda, tinggal tekan keypad. Tapi ini seringkali ga bekerja. Dia membiarkan saya menelponnya berkali-kali tanpa ada jawaban. Alasannya, sedang di tempat ramai atau ring tone dibiarkan silent. Kalau saya kirim SMS, ga peduli panjang atau pendek, jawabannya selalu singkat: ‘ok….’ atau ‘okay…’ atau kalau pun panjang, paling cuma: ‘oke, mamah….!!!’

Selain itu, saya ga perlu direpotkan membawa banyak buku bacaan saat bepergian karena dia akan sangat sibuk ber-SMS ria. Meski pesawat ditunda 2-3 jam, dia tenang-tenang saja. Sampai detik ini saya masih ga paham bagaimana dia bisa mengirimkan SMS dengan cepat pada temannya lewat keypad yang huruf-hurufnya dihilangkan atau saat listrik padam. Kelihatannya dia telah menduplikatkan mata di atas jempolnya🙂

Sisi negatifnya, saya harus rela membiarkannya membuang waktu ngobrol berjam-jam lewat ponsel. Herannya, setiap kali dia masuk rumah sepulangnya dari bepergian, selalu saja suara panggilan datang ke ponselnya, bahkan kadang tepat di langkah pertama dia masuk. Meski sering saya sindir betapa besar biaya telpon yang harus dikeluarkan temannya, alasannya operatornya lagi promo tarif gratis atau cuma sekian rupiah perdetik.

Meski diiming-imingi berbagai free charge, saya ga tertarik pindah operator. Pertama, karena saya harus menghafal nomor yang baru lagi, dan itu ga mudah buat saya. Kedua, tentu harus memberitahukan perubahan nomor itu ke semua teman, relasi, boss, dan sanak famili. Saya ga bisa bayangkan harus melakukan hal itu, terutama untuk salah satu boss saya yang kalau lagi bad mood, lebih suka marah duluan, baru bertanya belakangan, itu pun kalau beliau anggap perlu J

Proyek Hilang Akibat Ponsel

Di mata putra saya beserta sepupu-sepupunya, saya tipe orang yang kuper ponsel. Saya hanya tertarik ponsel karena saya lebih banyak di luar dibandingkan di rumah sehingga orang akan sulit menghubungi saya lewat telpon rumah. Saya juga ga suka SMS, karena jempol saya belum bisa bersahabat dengan keypad. Saat tidak menunggu telpon penting atau semua masalah pekerjaan telah teratasi, saya lebih suka membiarkan ponsel tanpa ring tone atau nada getar sekalipun. Sehingga saya gaakan tahu seseorang menelpon kecuali saat itu saya memerlukan ponsel. Saya ga suka menerima telpon saat di mengajar, kecuali sangat penting. Saya juga terbiasa membiarkan ponsel di dalam ransel meski telah berjam-jam tiba di rumah. Artinya, hidup saya ga akan terganggu sedikit pun meski tanpa ponsel.

Tapi cerita menjadi lain, tiga hari yang lalu. Ketika itu saya mengirimkan SMS pada salah satu boss saat tubuh sudah di atas tempat tidur. Saya pernah bekerja pada salah satu proyeknya hampir setahun yang lalu dan sejak sebulan belakangan dia meminta saya menangani sebuah proyek lagi. Beerapa hari lalu dia meminta saya menghubunginya untuk penetapan tanggal penandatanganan, tepat malam saya mengiriminya SMS. Dalam kasus ini saya lebih suka menggunakan SMS karena ga murah menelponnya. Mungkin karena beda negara sehingga jalur operator ga terlalu lancar (saya pernah mengalami hal yang sama dengannya sebelumnya) atau karena kesibukannya ga sempat membalas SMS atau menelpon balik, saya kirimi SMS lagi. Tak juga ada balasan. Saya sabarkan menunggu sekitar 15 menit. Karena tak kunjung dibalas, maka seperti biasa saya matikan ring tone, mengiriminya SMS pendek: ‘have a nice day’ lalu meninggalkan ponsel di ruang tivi.

Keesokan harinya saya terkejut membaca beberapa SMS berisi kegusaran plus pembatalan pekerjaan darinya. SMS itu dikirim semalam, 2-3 menit setelah saya mengiriminya SMS terakhir dan meletakkan ponsel di atas meja. Meski kemudian saya jelaskan bahwa setelah mengiriminya SMS, saya matikan ring tone, dan menuju kamar tidur, si boss ga bisa memahami itu.

‘ok, u used to leave mobile on a table or something as it has no ring tone at all, then u go away but u must see a light on lcd, rite?’

Sayang saya ga mungkin mencari-cari alasan dengan mengatakan bahwa saya juga mematikan light option-nya, meski itu memang yang saya lakukan!

14 July 2008 - Posted by | Opini | , ,

7 Comments »

  1. asslkum bu wyd pa kbr ? dah lma gak nimbrung ne aq..hehehe… wah udah lma juga Ibu gak nulis jdi rindu ma tulisan2ny….ehm ….btw bu kyaknya terkdang ponsel juga bisa jdi bencna….bener se terkdang melalui hp slah kaprah sering terjdi ya ama tmen, ma ortu dll…sbgai ank aq jga terkadang mnemui mslah ktika menggunakan ponsel sbagai media berkomunikasi dgn ortu….but klo dpkir2 jga banyak sisi positifnya…..jarak dan waktu smakin tidak berarti klo ingin berkomunikasi dgn org lain….ya itulah konsekuensi dri sebuah kemajuan teknologi ada plus-minusnya…dan tentunya semua itu bergantung pada si usernya..mau menjdi buruk atau baik..bermanfaat atau berbahaya…btw Bu klo bisa tulisan2nya sering2 d update y bu coz aq suka bget ma tulisan2 Ibu dan kdang2 tulisan2 tersebut menjdi sebuah inspirasi bagi saya….thx bu….wss wr wb

    Comment by adrian cf | 14 July 2008

  2. malem bu. .
    gila ponsel .?muthe banget tuh.
    anak jaman sekarang bu . .SD aja udah pada bawa hape.
    lagian emang menurut muthe pribadi, hape itu lebih irit n praktis daripada telpon rumah.
    apalagi dengan perang tarif “GILA-gilaAn” dari provider2 baik tarif SMS maupun Nelepon (bahkan saking gilanya,nyebarin berita masalah santet- menyantet lewat SMS lagi).
    Bahkan salah satu provider berani Men”gratis”kan tarif SMS (walau ke sesama operator).
    Tapi justru karena itu juga, saya pribadi jadi bete gara2 ngeliat adek saya yang harusnya belajar malah sibuk SMS an. Alasannya “Mumpung sms ke sesama GRATIS kak”
    Sebagai kakak kan pengennya adeknya lebih baek dari kakak nya. .

    Trus kalo cowok mah bu, emang gak hobi sms panjang2.
    Kayak ayah sama abang2 saya, kalo sms palingan jawab “OK” juga.

    Cuma mau ngomong itu siy, Maaf bu sebelumnya (insomnia saya kambuh lagi)

    Comment by AboRaH LauRa FuweL | 14 July 2008

  3. Wa’alaikum salam, Yan…
    Itu deh yang jadi tujuan penulisan artikel (selain tentang SMA Plus Negeri 17 Palembang), yaitu memberikan ‘sesuatu’ sama pembaca blog ini, minimalnya bisa menggelitik nurani buat berani bilang setuju atau ga setuju, paling ga di dalam hati pembaca.

    Soal bikin tulisan lagi, sebenarnya yang ada di kepala super banyak buat ditumpahkan di blog ini tapi sekali lagi: waktu. Ada sih sisa 3-4 jam setelah berbagai aktivitas, cuma sayangnya ibu juga kan perlu istirahat🙂 tapi pasti diusahakan mampir nulis meski 2-3 paragraf kalau ada waktu….

    Buat Muthe:
    Eh, jangan-jangan si adek niru tingkah kakaknya nih….:)

    Comment by wyd | 16 July 2008

  4. Assalamualaikum mam wid!

    Sebenernya dah lama saya menjadi penikmat tulisan2 yg ada di blog ini.

    malem ini akhirnya saya tergerak hati untuk berpendapat.😉

    Bisa dikatakan saya emang salah satu maniak handphone.

    Kepraktisannya yg membuat saya bisa melakukan banyak hal seperti tlp,sms,chatting bahkan buka blog ini saya lakukan dgn handphone menjadi alasannya.

    Yg buat saya heran, kok ada ya orang seperti mam wid yg tidak tergiur dngn kepraktisan yg ditawarkan handphone?

    Padahal mam wid orang yg simple!

    Comment by Eddy permana sari | 20 July 2008

  5. makasih untuk sering mampir ke sini.
    seneng aja kalau tulisan di blog ini bisa dinikmati orang lain atau kalau bisa malah memberikan inspirasi.
    moga ada manfaatnya buat pembaca….

    soalnya (1) handphone terlalu kecil…. ga praktis buat ngetik bagi ‘orang tua’ :)… (2) enakan ngobrol langsung daripada lewat handphone(ga bisa lihat muka lawan bicara ngobral omongan manis doang atau emang bicara pake hati)…

    Comment by wyd | 20 July 2008

  6. assalamualaikum bu..

    wah,. bicara soal handphone, saya juga tergolong orang yang ga bisa jauh dr handphone bu,.. bangun pagi pun dibangunin oleh Hp..dikit2 berurusan sm hp..
    malah saya sempet murung beberapa hari karena handphone saya tiba2 rusak dua minggu yg lalu.. buat beli baru belum sanggup akhirnya pinjem sama temen yang punya 2 (maklum anak rantau jadi susah kalo bener2 ga ada hp)..

    wah,.. kalo kejadian yg sm (hp rusak maksudnya) terjadi sm ibu,. ibu ga akan murung kayak saya dong,.. hehehe

    btw, seneng deh baca tulisan2 ibu di blog ini,..
    ibu masih susah ingat nama2 siswa ga?? misalnya kayak mellynda dulu ibu suka tuker2 dengan melisa ,.. haha..

    Comment by mellynda adelia | 17 August 2008

  7. Moga ga salah kali ini… ini pasti mellynda yang keriting, agak berisi, dan bukannya ‘mellynda’ yang berambut lurus, kan?

    harusnya jgn cuma bilang merantau tapi tulis merantaunya ke mana. ok?

    Comment by wyd | 19 August 2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s