Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Pilkada: Pemilihan Walikota Palembang

Pilkada Walikota Palembang berlangsung Sabtu, 7 Juni 2008. Seperti pilkada di propinsi lain, sebelumnya diadakan kampanye termasuk iring-iringan kendaran bermotor, dan bahkan arak-arakan pasangan calon walikota dan calon wakil walikota layaknya sepasang pengantin. Kebetulan pasangan itu calon walikotanya wanita sedangkan calon wakil walikotanya pria.

Saya mungkin termasuk orang yang apatis pilkada akan berlangsung ‘bersih’. Mulai dari masa kampanye yang sudah didahului dengan berbagai aksi mogok pasangan yang menilai pasangan tertentu menjalankan an unfair game, manipulasi surat suara, hingga tak jelasnya program serta misi-visi para pasangan. Saya juga mungkin termasuk penduduk yang tak terlalu peduli dengan pilkada. Sehari sebelum pilkada saya bahkan belum tahu apakah saya terdaftar sebagai pemilih atau tidak. Saya tidak pernah didatangi atau ditelpon panitia pilkada soal ini, meski secara sah saya memiliki KTP dan kartu keluarga domisili Palembang. Ketidakpedulian ini terjadi karena saya belum bisa menentukan pasangan mana yang mau saya pilih yang bisa memimpin kotamadya Palembang dengan ‘bersih’. Karena berita yang saya dengar (sebab saya tidak tertarik terlibat politik praktis) pasangan tertentu bahkan melibatkan segerombolan preman untuk mengatasi berbagai persoalan mereka. Yah, mirip-mirip cerita ‘the Godfather’.

Saat berbincang-bincang dengan siswa-siswa soal pilkada, saya menjadi orang yang lebih lugu dibandingkan siswa-siswa yang belum punya hak pilih itu. Mereka bahkan hafal nama pasangan yang akan memperebutkan kursi nomor satu dan nomor dua untuk kotamadya Palembang. Sedangkan saya, sekali pun belum pernah mendengar ada pasangan yang membeberkan misi-visinya di depan rakyat yang akan memilih mereka. Paling tidak, misalnya, televisi menyiarkan hal tersebut. Oh, bisa jadi acara sejenis pernah ditayangkan. Hanya karena saya hampir tidak pernah menonton tivi maka saya tidak tahu betapa ‘hangat’-nya berita pilkada.

Pemimpin Impian saya

Menjadi pemimpin adalah amanah yang berat. Ini opini saya. Tidak mudah menjadi seorang pemimpin. Konteks pemimpin adalah seseorang yang mengepalai suatu lembaga atau sejenis itu dan mampu mengayomi, membimbing, terlebih memberi teladan bagi yang dipimpinnya sesuai amanah orang-orang yang dipimpinnya. Segenap jiwa, raga, dan pikiran benar-benar dijalankan sesuai norma-norma yang ditentukan bersama orang-orang yang dipimpinnya. Segala fasilitas pekerjaan hanya digunakan untuk mempermudah pekerjaannya. Tidak ada kata anak emas untuk siapa pun dalam hal menjalankan hukum dan peraturan yang berlaku. Tetapi harus memiliki perasaan peka terhadap berbagai persoalan yang menyeruak di antara orang-orang atau lembaga yang dipimpinnya.

Saya jadi ingat bagaimana para sahabat Nabi Muhammad SAW saling tunjuk untuk menghindar menjadi pemimpin karena mengerti bagaimana beratnya mengemban amanah yang harus dijalankan. Bahkan Abu Bakar harus menyamar untuk mengetahui apakah semua rakyatnya bisa hidup layak di bawah kepemimpinannya.

Mungkin Mahmoud Ahmadinejad, presiden Iran, adalah salah satu kepala negara yang rela melepaskan berbagai kenyamanan fasilitas negara yang selayaknya dinikmatinya, karena dia adalah presiden sebuah negara pengekspor minyak dunia. Dia rela melepaskan karpet merah di istana kepresidenan, mengganti limousin dengan mobil kebanyakan, makan layaknya yang dimakan pegawai istana lainnya, atau mengganti perabotan mewah di rumah presiden dengan karpet buatan tangan rakyatnya.

Dari sisi ini, saya mengagumi Mr. Ahmadinejad. Saya rutin mengunjungi website pribadinya sekedar untuk membaca berbagai pemikirannya tentang perdamaian dunia dan sisi kemanusiaan dalam pandangan seorang presiden. Dari sisi ini, saya menilai dia seorang pemimpin yang manusiawi, meski tentu saja tidak semua lapisan masyarakat akan mau menerima gaya kepemimpinan seperti ini. Karena tidak semua orang ikhlas melepaskan segala kemewahan yang dimilikinya. Hidup sangat singkat dan hanya sekali, kenapa tidak dinikmati, seperti yang banyak dikemukakan. Cara menikmati hidup yang berbeda inilah yang membuat sang presiden tidak didukung semua lapisan masyarakat yang dipimpinnya, termasuk menjadi musuh besar negara lain.

Jika Saya Menjadi Pemimpin

Saya tidak pernah memimpikan hal ini kecuali di sini. Tapi jika saya, meski dalam mimpi, menjadi pemimpin, maka itu artinya saya harus mengasah semua indra saya lebih tajam lagi. Mata saya harus mampu melihat mana yang benar dan mana yang tidak. Lidah saya harus mampu mengatakan kebenaran sebagai sebuah kebenaran. Anggota tubuh saya harus mampu menjalankan kebenaran di atas kebenaran. Hidung saya harus mampu mencium aroma kebenaran dan membawa orang-orang yang saya pimpin ikut merasakannya. Kulit saya harus mampu merasakan kebenaran untuk menularkannya ke seluruh jaringan syaraf saya. Di atas semua itu, jika orang melihat saya maka orang tidak akan pernah meragukan kebenaran ada bersama saya.

Bukan karena saat ini saya tidak mau kebenaran mencakup setiap inci kehidupan saya maka saya tidak berniat menjadi pemimpin, tetapi karena saya yakin saya belum mampu melakukan semua itu.

6 June 2008 - Posted by | Opini | ,

2 Comments »

  1. Ibu Wyd,
    Perkenalkan nama saya Andar. Beberapa kali saya membaca blog Ibu. Saya coba cari alamat email Ibu, tapi tidak ketemu.
    Begini saya pengen nawarin kerja sama utk menerjemahkan naskah kimia utk SMP dari bhs Inggris ke bhs indonesia.
    Mohon balas via email jika Ibu bersedia. Sebelum dan sesudahnya, saya ucapkan banyak terima kasih.

    salam,
    andar

    Comment by Andarastuti | 9 July 2008

  2. wah… ngirim emailnya ke mana nih?

    email: netlesson@gmail.com
    tapi plz tulis subject dengan jelas biar ga di-delete, ya.

    thx udah mampir, Dar.

    Comment by wyd | 11 July 2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s