Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Kehidupan di Asrama: Hukuman, Perlukah?

Asrama SMA Plus Negeri 17 Palembang adalah tempat tinggal wajib bagi siswa-siswi kelas X. Tahun pelajaran 2007-2008 saya diminta kepala sekolah menjadi koordinator asrama. Pada awalnya saya menertawakan permintaan itu –ga sopannya, saya lakukan itu langsung di depan kepala sekolah! Yah, rada-rada kurang etika kelihatannya.

Tetapi karena kesediaan saya ditanyakan berulang kali oleh beliau, dan dengan iseng saya ceritakan pada putra saya -dan ajaibnya dia setuju!- akhirnya saya bersedia mempertimbangkan permintaan beliau. Seperti biasa sebelum menerima sebuah tugas, saya selalu mengukur kemampuan saya, mempelajari tugas tersebut hingga detil kecil, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan saya hadapi atau saya jalankan.

Bagaimana Menerapkan Aturan

Saya menganggap asrama layaknya rumah sendiri. Saya ingin anak-anak yang tinggal di asrama juga merasa mereka sedang tinggal di rumah sendiri, meski tentu ga mungkin sama. Paling tidak, kasih sayang yang seharusnya mereka dapatkan di rumah juga akan mereka dapatkan saat tinggal di asrama. Tapi saya tahu, saya hanyalah seorang ibu dengan ratusan anak, pasti akan banyak kemungkinan yang tidak bisa saya lakukan dibandingkan ayah-ibu mereka di rumah yang hanya ‘mengurusi’ 2-3 anak.
Saya menerapkan cara yang sama yang saya terapkan pada putra saya: aturan dibuat karena keinginan bersama, ada sanksi yang harus dijalankan jika melanggar aturan, tetapi sanksi ditetapkan secara bersama.

Pada hari-hari pertama saya langsung mempelajari dan mengenali lingkungan asrama, bertukar pikiran tentang rencana di kepala saya dan meminta pendapat pembina asrama lainnya yang akan bekerja bersama selama setahun ke depan, berusaha mengenal petugas cleaning service, petugas katering, dan pegawai yang membantu perbaikan sarana asrama (sayangnya hingga detik ini saya tidak mampu menghafal nama mereka semua dengan baik), dan juga mensosialisasikan peraturan asrama pada anak-anak. Saya tidak pernah berusaha mencari tahu latar belakang seorang anak. Saat anak-anak di asrama, mereka adalah anak-anak saya.

Ada 3 orang pembina asrama yang membantu saya mendidik ratusan anak-anak itu dan mereka juga menetap di lingkungan asrama. Pembina putri untuk anak putri dan pembina putra untuk anak putra, sedangkan koordinator menangani semua siswa. Dua orang gadis muda (Miss Cho dan Bu Suster) sebagai pembina asrama putri dan seorang pria muda yang soleh (Kak Usop) sebagai pembina asrama putra. Nama yang dituliskan di artikel ini adalah nama sapaan anak-anak bagi ketiganya.

Ketiga orang muda ini belum berkeluarga sehingga ga mungkin meminta mereka bersikap layaknya seorang ibu atau bapak bagi anak-anak. Yang bisa mereka lakukan adalah menjadi kakak yang baik. Miss Cho yang juga menjadi guru fisika mungkin sedikit lebih punya pengalaman sebagai ibu muda, tapi tentu tidak berpengalaman sebagai ibu yang bisa mendengar keluh-kesah anak-anak remajanya.

Karena hanya ada 1 pembina putra, maka saya lebih banyak terjun langsung mengecek anak-anak putra dan menyerahkan permasalahan harian anak-anak putri pada kedua pembina lainnya. Tanpa disadari, waktu membuktikan anak-anak menjadi terpecah dua: anak-anak putra kerap bertandang ke rumah untuk sekedar meminta ijin pergi atau duduk ngobrol di teras rumah saya, sedangkan anak-anak putri lebih segan berkunjung.

Saya cukup terkejut dan sedikit trenyuh ketika suatu malam 3-4 anak putri mengadukan permasalahan mereka. Katanya, mereka ‘tertangkap’ basah sedang membeli camilan di persimpangan (simpang 5) –berjarak sekitar 10 meter dari kompleks sekolah- dan di saat yang sama kedua pembina asrama sedang makan bakso. Masalahnya, mereka pergi tanpa surat izin. Menjadi keharusan saat meninggalkan lingkungan asrama atau lingkungan sekolah, siswa harus mengisi lembaran izin yang ditandatangani salah satu pembina mereka.

Anak-anak putri itu mempermasalahkan hukuman yang harus mereka jalani. Yaitu membersihkan asrama Dewi Sartika, asrama yang dihuni kedua pembina putri. Menurut mereka, beberapa kamar di asrama itu penuh kotoran tikus dan berbau busuk. Dan lagi, mereka merasa aneh dengan jenis hukuman yang sama meski kesalahan yang mereka lakukan berbeda. Karena lupa menitipkan kunci, pulang telat, ga ikut apel, hukumannya sama: membersihkan asrama Dewi Sartika.

Saat mereka mengadukan itu, seorang siswa putra datang mengucapkan salam. Seperti biasa, saya menjawab: ‘Masuk, sayang! Ga dikunci.’ Setelah memberikan beberapa nasehat (wuih!), saya mempersilakan anak putra tersebut kembali ke asramanya dengan memintanya tidak mengulangi perbuatannya.

Salah satu anak putri di ruangan itu meneteskan airmata. Saya terkejut. Sebuah perasaan yang saya rasakan berkali-kali selama mereka menjelaskan semua masalah mereka malam itu. Menurut mereka, kesalahan yang dilakukan siswa putra tadi lebih berat dibandingkan mereka tapi siswa putra ‘hanya’ saya nasehati. Sedangkan mereka mendapat hukuman dari pembina putri. Mereka lebih suka mendapat hukuman membersihkan rumah saya selama seminggu dibandingkan membersihkan asrama Dewi Sartika. Tapi tentu saja percuma, karena rumah yang saya tempati sudah cukup bersih bahkan jika anak-anak tidur di lantai tanpa alas. Karena putra saya selalu membantu membersihkan rumah bersama 

Peraturan dan Konsekuensinya

Peraturan di asrama berlaku sama untuk seluruh anggota asrama. Dalam beberapa hal terdapat dispensasi jika memang keadaan mengharuskan begitu. Misalnya, aktivitas sore berakhir jam setengah enam sore. Tetapi tentu tidak berlaku untuk anak-anak yang les di luar asrama. Atau siswa yang sakit boleh pulang sebelum waktunya untuk pengobatan lebih intensif di rumahnya.

Beberapa peraturan asrama putra tidak berlaku di asrama putri. Misalnya, anak-anak putra yang terlambat bangun Sholat Subuh berjamaah akan disiram air sehingga harus menjemur kasurnya pada siang hari. Tapi mereka akan dengan mudah mendapatkan ijin pergi sore hari asalkan kembali sebelum setengah enam sore. Saya memahami mereka ingin tetap berlatih band meski tidak ada festival karena asrama tidak menyediakan fasilitas. Paling tidak, itu bisa menghindari stress.

Karena anak-anak putra hanya memiliki satu pembina, maka saya lebih sering menyambangi mereka, untuk sekadar mengecek kebersihan asrama atau ngobrol. Bahkan kadang sampai jam setengah dua belas malam (biasanya malam Sabtu).

Mungkin karena putra saya seumuran anak-anak itu, maka saya tidak jengah ketika mendapati salah satu dari mereka tidur bertelanjang dada. Kelihatannya mereka juga tidak peduli saya datang saat mereka hanya mengenakan celana dalam atau handuk terlilit di pinggang. Bahkan seorang anak putra minta saya mencium pipinya sebagaimana saya lakukan pada putra saya sekadar untuk mengobati kangennya pada sang mama. Beberapa rekan guru mengatakan hal itu cukup ‘ganjil’ untuk mata orang Indonesia. Saya tidak peduli apa kata orang. Bagi saya mereka adalah anak-anak yang saya sayangi dan rasa sayang bukan hal memalukan untuk diperlihatkan pada orang lain.

Saya bukan tipe ibu yang percaya sebuah hukuman akan membuat anak menjadi lebih baik. Tapi saya tidak alergi terhadap hukuman. Saya tipe ibu yang sukarela mendengarkan jenis musik yang diputar anaknya meski bikin telinga saya sakit dan kepala saya sedikit pusing. Saya bukan tipe ibu yang memaksa anaknya mengenakan gaun atau kemeja tertentu agar saya bisa berbangga diri memiliki anak-anak yang berpenampilan ‘manis’. Mungkin saya bukan ibu yang cukup baik tapi begitulah sikap saya terhadap anak-anak.

Dalam pekerjaan, saya tipe pemimpin – anggap saja saya pemimpin dan para pembina lain sebagai staff saya  – yang berani mendelegasikan tugas pada staff dan tidak akan mencampuri kebijakan yang mereka lakukan sepanjang tidak menyalahi aturan. Saya tipe pemimpin yang akan menanggung semua resiko pekerjaan meski karena perbuatan staff saya (dalam hal satu ini saya mirip pemimpin TNI, yah?).

Saya mengerti kedua pembina asrama putri pasti punya alasan tersendiri untuk menugaskan siswa yang melanggar aturan dan saya tidak mau mencampuri alasan mereka. Meski di mata saya seharusnya seseorang membersihkan rumahnya secara keseluruhan meski tidak semua bagian rumah ditempatinya
Dan untuk siswa, mereka harus belajar berani menanggung konsekuensi jika memutuskan untuk melanggar sebuah aturan, sekecil apa pun pelanggaran itu.

Ciuman

Waktu saya katakan pada putra saya bahwa salah seorang siswa mengatakan dia tidak pernah dipeluk atau dicium mamanya padahal dia menginginkannya, putra saya tertawa. Katanya, teman-temannya (SMP) tidak ada yang melakukan itu pada ibunya.
‘Okay, don’t do that then. Don’t kiss me, don’t hug me any more,’ saya meminta pendapatnya. Dan saya geli dengan jawabannya kemudian.
‘Biar aja orang lain ga. Saya kan anak mama.’

Boss saya –orang Amerika– tertawa saat saya ceritakan hal itu. Menurutnya, seorang anak tetaplah seorang anak bagi ibunya meski anaknya sudah memiliki anak pula. Dan seorang anak boleh memeluk atau mencium pipi ibunya kapan saja sebagai ungkapan rasa sayang.

Saya geli mendengar pernyataan beberapa teman yang mengatakan itu hanya berlaku untuk orang ‘barat’. Wah, artinya orang Indonesia tidak boleh menunjukkan rasa sayang pada anak-anaknya? Dan anak-anak Indonesia tidak boleh menunjukkan rasa cinta pada kedua orang tuanya? Kalau begitu, jangan heran jika kelak kita akan memiliki pemimpin yang tidak peduli dengan nasib rakyatnya sendiri. Nah!

2 June 2008 - Posted by | Pendidikan | , ,

25 Comments »

  1. asslkum Bu wyd….
    wah tulisannya bikin aq rindu tinggal d asrma 17 lagi (although sekrg d asrama juga hehehe…beda taste-ny kaliii..)..
    aq stuju ma Ibu klo seharusnya mengekspresikan cinta antara anak ke ortu atau sbaliknya wajar2 aja (kecuali klo udah melanggar moral kyak kasus pemerkosaan bapak kandung ke anaknya..naudzubillahhimindzalik…)…justru dengan hal tersebut hubungan antara ortu n anak akn semakin harmonis dan erat……di samping itu juga ya udah kewajiban kita menghormati ortu sperti dalam al-quran….
    “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Al-Ahqaaf : 15)……..namun perlu kita sadari bersama bahwa kebiasaan dan adat masyarakat atau setiap keluarga kan berbeda-beda ada yang secara terang-terangan menunjukan ekspresi sayang dan cinta ke keluarganya seperti dengan memeluk ortu, mencium kening anak, dll….tetapi ada juga keluarga yang emang kyak militer (keras) tetapi hal tersebut karena tidak lain dari ekspresi sayang n cinta ortu ke ank2ny or sebaliknya..mreka tidak menunjukkan rasa sayang n cintany secara gamblang n terang2an…tetapi yakinlah di balik kekerasan tersebut terdapat kelembutan yang suci dipenuhi cinta dan kasih….ingat Sabda Nabi Muhammad SAW tentang Umar bin Khattab yang terkenal keras wataknya namun lembut nan suci hatinya…..Subhanallah…semoga Allah merahmati kita selalu…ya kesimpulanny….setiap kultur/budaya, pribadi, watak, dan persepsi org berbeda-beda namun alangkah baiknya kita menghormati perbedaan itu….karena mungkin saja orang yang berbeda dengan kita itu lebih baik dari kita…..wallahu’alam bishawwab….salute u/ Bu Wyd…wss wr wb

    Comment by adrian cf | 2 June 2008

  2. pa kabar?
    emang Adrian sekarang di mana, sih?

    thx for a nice comment….

    Comment by wyd | 3 June 2008

  3. alhamdulillah baik bu….ibu pa kabr?…
    aq sekrg kul d poltek negeri bandung..ex poltek itb….y aq juga tinggal d asrma polban so suasana asrma sma dlu sdikit kerasa d asrma sekrg….

    Comment by adrian cf | 3 June 2008

  4. hmmm, lama nih nggak menyentuh dunia blog,,,
    hehe

    Wah, kayaknya aku jadi pengen nyobain “ngawas” asrama…
    hehehe

    Kalo jadi “pengasuh” bayi2 dan sepupu dan ponakan sering bu…
    aku tergolong Ibu Sukses… (*.*)
    para bayi dan adek2 pada nurut…
    hehehe

    Nah, kalo anaknya rada gede belom nyoba nih…
    hehe

    Comment by rocco90 | 9 June 2008

  5. mungkin kamu akan ngerasa hal yang sama: badan super capek, waktu istirahat nyaris ga pernah ada, tapi akan selalu ngerasa jadi ‘lebih muda’

    Comment by wyd | 10 June 2008

  6. ya allah bu wyd!
    ini ayu bu,mudah2an ibu masi inget sama ayu,hehhehe!
    bentar lagi udah mau balik!
    ibu apa kabar?
    boleh minta alamat email ibu ga?🙂

    Comment by rien ayu maharani | 10 June 2008

  7. welcome back to indonesia!

    Comment by wyd | 11 June 2008

  8. assalamualaikum bu,,
    keren deh bu tulisannya, satu kata untuk itu “MANTAP”
    bu, aku juga mulai nulis nih bu., aku mulai nulis disini bu http://newpr0g.co.cc
    tapi masih dikit bu, kemaren lusa baru buat
    eh bu, masukin link blogroll yah web aku itu hehhehhehe

    komentar untuk tulisan ibu :
    menurut saya hukuman itu perlu bu, karena kita adalah negara hukum jadi harus ada hukuman lah (hahhahaha kidding)
    rasanya k’lo gak ada hukuman dari pembina asrama itu, di asrama itu hidupnya datar bu,, (ini menurut aku)
    kayak di iklan bu, “Live is not flat” (hehehhehhe)
    hukuman tak mesti dengan kekerasan kan bu? jadi buatlah hukuman yang menyenangkan bu

    Comment by anang aji rahmawan | 12 June 2008

  9. wah… tim sukses salah satu calon walikota palembang kemaren yah???? ada kata ‘m….p’ tuhhh….

    udah lihat blog-mu…. bagus… tapi mau komentar harus login dulu… ini agak susah buat yang passwordnya di mana-mana sama🙂

    Comment by wyd | 12 June 2008

  10. bu wyd,,,,,,

    kangendh ma ibuuuu,,,

    kangendh ma sekolah,,,

    kangendh ma kimia,,,,

    kangendh juga ma p’ gede,,,,

    kimia kimia kimia,,,,

    harusnya saya sekarang kuliah di FMIPA KIMIA UNPAD 2007 buuu,,,,

    tapi,,,

    apa daya,,,,

    saya dituntut untuk ambil akun trisakti,,,

    padahal saya cinta kimia buuuuuuu,,,,,

    huhuhuhuhuhuhuuuuuu,,,,,

    …ADYSTA PUTRI 1588…

    Comment by ADISTA PUTRI | 13 June 2008

  11. hahhaha bukan tim sukses ya bu,, emang sapa yah yg pake kata itu? gak terlalu perhatian aku dengan pilkada
    kemaren aja gak nyoblos, padahal udah 18thn hohoho..
    sorry mam,, ane lupa ganti itu settingannya..
    sekarag udah bisa deh kasih comment tanpa harus login

    Comment by anang aji rahmawan | 13 June 2008

  12. hallu bu wyd..
    masih inget ga ma aku???
    dah lupa kali yaah..
    da banyak yg diajar c…
    hehehe..
    aduh.. da ga pernah tau lagi berita di sekolah..
    hehehee..

    Ibu jadi koordinator asrama???
    waaah..pasti rame banget jadinya..

    jadi kangen…

    dahsyat deh c ibu… tulisannya Okeh BAGET!!!!

    jadi keingetan dulu waktu diasrama..
    aku sering loh bu ma anak2 keluar dari asrama (buat nyari cemilan coz stok dikamar udah abiz) ga izin dulu..hehhee..
    tapi ga pernah ketauan dan ga pernah dihukum..
    hehe…bandel ternyata aku…hehehe…

    bu,masih suka ngebut ga bawa motornya???hehhee…

    Comment by Miftah Andini_anktn7 | 14 June 2008

  13. masihhh inget euy… yang kecil, imut, putih…plus cara ngomongnya khas tersipu….

    eh mestinya jangan nanya soal motor di sini deh… kan jadi kebongkar rahasia kita….🙂

    Comment by wyd | 16 June 2008

  14. bu,, ternyata belajar kimia itu susah2 gampang yaah???
    tapi bnykkan susahnya..hehhee…

    sekarang aku udah kenalan dengan yg namanya kimia organik (ni matkul yg sbnrnya asyik tapi ntah lah nampak menyeramkan,,hehe), kimia analitik (ga bgt coz isinya hapalan semua,,bikin pusing),kimia kuantum,kmia fisik,dan teman2nya yg lain..

    try to more love it..hehhe

    Comment by Andini | 19 June 2008

  15. Assalamualaikum, Bu Wid.

    Masih inget sama saya. Saya Maya, Bu. Waktu itu yang dari kelas I.6. Hehehe… Yang dulu dodol banget Kimianya. Hehehe…
    Nggak nyangka sekarang Ibu jadi pembina asrama. Pasti seru banget tuh jadinya. ^^

    Comment by Maya Rismauly | 19 June 2008

  16. Bu…

    Assalmu alaikum ibu..
    Dah lama ga ketemu..
    hehe..

    Saya sekarang alhamdulillah di TI ITB.
    Mudah mudahan ibu masih kenal saya,,,

    Well,
    saya rindu sama guru kritis dan penuh kejutan seperti ibu,
    terima kasih atas bimbingannya selama ini..

    Artikel ibu bagus bagus..
    Membuka wawasan!

    Comment by yeris TI ITB 07 | 17 July 2008

  17. hey mana bisa lupa sama yeris kompetitornya ino di pemilihan pelajar berprestasi????

    thx apresiasinya… seneng aja kalau yeris juga bisa ikut menikmati tulisan2 ibu….

    moga sukses kuliahnya yahh!!!

    Comment by wyd | 18 July 2008

  18. maam wyd boleh mnta email maam gak???
    oia,,,
    kmaren lia ikut TO gitu,,,
    maam bisa bantu gak ngbahas soalnya,,,??
    thank bwt waktuny maam,,

    Comment by lia rizandra xii ia 1 ang X | 27 July 2008

  19. ini alamat emailnya: netlesson@gmail.com

    kalau sempat pasti dibales deh

    Comment by wyd | 28 July 2008

  20. Senang bacanya bu. Saya pernah tinggal di pesantren jadi tau bagaimana kehidupan asrama itu. Saya selalu mengagumi dan menghargai dewan guru sewaktu di pesantren, walaupun perasaan itu baru datang kemudian. Dulu saya belum dapat mengapresiasinya (waktu itu saya SMP dan nakal sekali. Tukang kena hukum). Tapi gak pernah tuh saya dulu dihukum bersihin asrama. Beberapa kali dihukum cuci dan setrika baju bekas pakai yang akan disumbangkan. Hukuman paling berat adalah memakai jilbab pelangi. Jilbab khusus didisain untuk hukuman. Jilbab itu seprti bendera warnanya ada dua ungu dan orange. Sehebat apapun kita melipatnya, pasti kelihatan 2 warna mencolok berbeda dan harus dikenakan selama beberapa hari ketika sekolah. Padahal yang lain memakai jilbab wrna putih seragam. Saya tidak pernah merasakan hukuman itu, yang paling berat adalah harus membayar 5 perak. Nyari uang lima perakan itu sampai nangis saya..
    hehe…

    Saya jadi ingat lagi🙂

    Comment by Alifia Alisarbi | 19 September 2008

  21. Menurut saya, tulisan ini sangat menarik.
    Untuk mengomentari isinya, saya akan mengkhususkan kepada sub judul ‘Bagaimana menerapkan Aturan’. Menjadi seseorang yang mengurusi banyak orang itu tentu tidaklah mudah. Kita harus berusaha untuk bersifat adil walaupun memang yang berhak menyandang kata Maha Adil itu adalah Allah. Seorang pembina asrama harus dapat berperan sebagai orang tua. Dan bagi saya, hukuman di asrama itu diperlukan tetapi tentu saja harus melihat kesalahan yang telah dilakukan. Apabila siswa hanya melakukan kesalahan kecil, sebaiknya hukuman yang diberikan hanya hukuman yang sederhana saja. Tetapi apabila kesalahannya cukup besar maka hukuman pun harus berskala cukup besar juga. Sehingga akan terjadi keseimbangan antara kesalahan yang dilakukan dan hukuman yang diberikan.

    Comment by Sania Rifa Zaharadina - KIRANA | 18 November 2010

  22. Kehidupan asrama memang sangat menarik untuk dibicarakan. Apalagi ketika itu Maam Wid masih menjadi pembina asrama. Berbagai kejadian yang terjadi sebagai wujud kedekatan antara pembina dan siswa atau sebagian pengganti orang tua dan siswa sangat menarik. Tugas pembina memang luar biasa beratnya, bukan hanya membuat siswa menjadi disiplin tetapi lebih ke membuat mereka nyaman dengan suasana asrama yang disiplin. Jadi asrama bukan sebagai neraka yang membuat siswa jauh dari dunia keaasikannya, tetapi tempat yang nyaman untuk menghargai sesama dan berbagi.

    Comment by Ressy Felisa - kirana | 18 November 2010

  23. Today, I went to the beach front with my children. I found a sea shell and gave it to my 4 year old daughter and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She placed the shell to her ear and screamed. There was a hermit crab inside and it pinched her ear. She never wants to go back! LoL I know this is completely off topic but I had to tell someone!

    Comment by Latrina Schee | 3 April 2011

  24. Hey! I simply want to say that i prefer your publishing means and that so Im attending to follow your blog frequently from now on Keep writing!

    Comment by Ozie Balasa | 3 April 2011

  25. Hi! Would you mind if I share your blog with my myspace group? There’s a lot of people that I think would really enjoy your content. Please let me know. Thanks

    Comment by Gerald Marante | 5 April 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s