Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Gelar Gelar Gelar

Tengoklah deretan panjang di depan dan belakang nama seorang praktisi akademisi. Nama boleh sepotong tapi gelar akademik plus gelar keagamaan berbaris mengikuti. Hal itu yang akan saya bahas kali ini. Seperti biasa, siapa pun berhak berbeda pendapat dengan pendapat yang saya tulis di sini. Dan seperti biasa saya hanya menuliskan pandangan saya tanpa bermaksud menggurui atau bahkan mempengaruhi pendapat orang lain agar menyetujui pendapat saya.

Gelar Akademik dan Jabatan

Jumlah orang Indonesia yang bergelar akademik, baik S-1, S-2, maupun S-3 sudah tak terhitung jumlahnya, baik tamatan luar negeri terlebih dari berbagai perguruan tinggi dalam negeri. Herannya kebiasaan menuliskan berbagai gelar akademik itu tak surut ditelan waktu. Dulu saya berpikir kebiasaan itu hanya muncul karena jumlah orang yang menyandang gelar tersebut masih dapat dihitung dengan jari. Tapi nyatanya tidak.

Bukan karena saya tidak memiliki gelar akademik maka saya tidak suka mencantumkan gelar akademik di belakang nama saya, kecuali karena keharusan saat menandantangani lembaran yang berhubungan dengan pekerjaan saya di lembaga pemerintah. Prinsipnya, saya dilahirkan dengan nama pemberian dari orang tua dan nama itu tidak akan berubah meski saya hanya menamatkan SD, SMP, atau bahkan hingga S-2 atau S-3. Nama saya tetap sama seperti ketika saya diberikan nama itu oleh kedua orang tua saya. Tidak pernah berubah apostrophe atau ada huruf yang berpindah dari depan ke belakanga atau sebaliknya. Lalu, kenapa saya harus tambahkan gelar akademik jika itu bukan bagian dari nama saya?

Penambahan gelar akademik bukannya tidak memberikan efek negatif, satu hal yang membuat saya tidak suka menambahkannya di depan nama saya.
Pertama, penambahan itu jelas akan menunjukkan adanya jurang antara kaum berpendidikan dan kaum tak berpendidikan. Padahal tidak berarti orang yang telah menyelesaikan pendidikannya dalam jenjang tertentu berakibat langsung wawasannya setingkat lebih tinggi daripada orang yang jenjang pendidikannya setingkat di bawahnya. Tidak ada pengaruh penulisan gelar pendidikan seseorang dengan wawasan yang ada dalam kepalanya. Bukan tidak banyak orang yang berpendidikan tinggi tapi wawasannya nyaris kosong. Bahasa yang digunakan tak beda dengan bahasa yang digunakan para tukang parkir di pasar yang -mungkin- hanya perlu tamat SD. Bukan tidak banyak orang yang sudah menamatkan S-2 tapi tak bisa menuangkan hasil pikirannya berupa kata-kata. Yang diperlukan adalah berapa banyak karya nyata telah dihasilkan seseorang, bukan berapa panjang gelar akademiknya.

Kedua, dengan menuliskan gelar akademik di antara deretan nama seseorang, bisa membuat seseorang merasa dia lebih penting daripada orang lain yang tak memiliki gelar. Akibatnya dia akan merasa sebagai orang yang paling diperlukan, merasa tahu paling banyak (meski kenyataannya tidak), dan harus mendapat prioritas. Efek langsung perasaan ini adalah orang tersebut akan meminta ‘hak-hak’ yang tak seharusnya. Misalnya, boleh datang sangat terlambat ke suatu acara tanpa alasan yang jelas tapi harus sudah
disediakan tempat spesial untuknya. Bandingkan dengan kedatangan orang ke mesjid untuk sholat berjamaah. Siapa duluan datang, dia harus mengisi shaf di depan. Kecuali imam tentunya. Karena imam adalah pemimpin sholat.

Ketiga, penulisan gelar yang panjang dapat mempengaruhi orang lain dalam memberikan pendapat. Boleh jadi orang akan segan mengatakan kesalahan atau kekeliruan yang telah dilakukan oleh si empunya gelar, apalagi jika gelarnya tak sepanjang gelar orang yang akan dikritik. Hal ini dapat berakibat si empunya gelar terus-terus melakukan kekeliruan atau kesalahan tanpa menyadari bahwa dia telah melakukannya dan telah merugikan orang lain. Bukankah kita seringkali alpa dengan kesalahan sendiri jika tak ada orang yang memberitahukan hal itu pada kita?

Gelar Keagamaan

Pasti tak ada orang yang akan setuju jika saya katakan orang yang telah memiliki gelar haji atau hajjah di depan namanya berarti pula kesholehannya lebih besar dibandingkan yang belum pernah menunaikan ibadah haji. Tentu, karena tak ada jaminan pernah menunaikan ibadah haji di tanah suci dijamin telah mengetahui seluk-beluk agama dengan fasih. Apalagi jaman sekarang ketika perekonomian sebagian kalangan memungkinkannya menunaikan ibadah haji di tanah suci meski persiapan mental dan keagamaannya untuk berangkat ke sana minim. Namun cukup banyak orang yang telah menunaikan ibadah haji menjadi lebih dekat dengan Tuhannya.

Pertanyaannya, mengapa hanya ibadah haji yang dicantumkan gelarnya di antara nama seseorang? Bukankah menunaikan ibadah haji hanya salah satu dari rukun Islam yang ada enam itu? Mengapa mereka tidak meletakkan ibadah lainnya di antara nama mereka? Misalnya, Bapak Drs. Shahadat. Sholat. Puasa. Zakat. Haji. Anu, M.Sc. Apakah ibadah haji jauh lebih penting daripada sholat, puasa, atau zakat, sebagai contoh? Kalau tidak, mengapa ada diskriminasi terhadap ibadah lainnya?

27 March 2008 - Posted by | Opini | , ,

10 Comments »

  1. Nah, Ibu Guru,lebih baek saya komentar disini..
    Lebih aman dan lebih nyaman..

    Bukan kah lebih baek buat make gelar di depan ato belakang nama?
    Supaya orang tahu kalo kita itu lulusan univ..Lebih tinggi lebih oke lagii..

    Kalau saya sendiri, saya pengen pasang gelar ahh Ibu Guru..
    Supaya orang2 tahu..Lha, kuliah kan dak murah Ibu Guru..
    Banyak ongkosnya..
    Dan kuliah juga tidak gampang..
    Jadi supaya orang2 tahu bahwa saya sudah berkorban banyak sekali buat universitas..
    Jadi menurut saya, gelar itu worth it dengan apa yang sudah kita korbankan..

    Comment by Mr.LooG | 29 March 2008

  2. Buat ibu bukan gelar yang penting dan ga penting orang tau apa ga kalau ibu punya gelar akademik. yg penting adalah apa yg ibu bisa berikan buat -paling ga- orang di sekitar ibu dan lingkungan terdekat. syukur2 bisa punya ‘sesuatu’ yg berguna buat orang banyak.

    kalau insya allah suatu saat ibu bisa ke tanah suci, ibu ga perlu pengakuan dari orang lain tp apakah setelah pulang dari beribadah di sana, ibu jd lebih baik dalam hubungan dengan tuhan maupun dengan sesama.

    setiap orang kan punya pendapat berbeda dalam hal ini makanya ada yg suka menuliskan gelarnya ada yg ga. ibu termasuk tipe kedua.

    Comment by wyd | 29 March 2008

  3. ehemm,

    kalo gelar Haji ni ya buk ya…

    Maap ngomong, siapa sih yang hajinya sempurna dan pasti diterima Allah

    Jawabannya Rasul.saw

    Apakh pernah ada yg menyebut Haji Muhammad?

    -itu sebenernya merupakan analogi bodoh-

    Tapi, yah kayaknya untuk Haji… kayaknya ndak perlu.

    Untuk gelar akademis, saya setuju sama Mr. LooG
    hehe.

    Itu merupakan bentuk penghargaan.

    tapi, terlepas dari kita pake gelar ati enggak yang penting adalah kita mampu

    Memandang orang lain, bukan dari gelar. Tapi, dari apa yang dia lakukan.

    Seorang tukang sampah, tidak bergelar. Tapi, lihat apa yang dia lakukan?

    hehe

    Comment by rocco90 | 29 March 2008

  4. gelar pada nama keqnya ga perlu,
    yg diperlukan itu ijazah,
    soalnya klo mo ngelamar kerja,
    yg diliat ijazahnya,..
    bukan gelarnya,…
    hohohooo,…

    tapi bener sih beberapa org memiliki gelar,
    tapi tidak memiliki kmampuan di bidang itu,
    mungkin karena,..
    bisa masuk kuliah gara2 nyogok,
    nilai bagus gara2 nyontek,
    proyek tinggal bayar,
    dan skripsi bayar org,..
    awkokwokw

    skrang aku kuliah dah smster 4,
    dan ternyata salah ambil jurusan,
    karena tidak minat pada kedua jurusan yg saya ambil,
    saya lebih tertarik pada komputer,

    dan alhamdulillah,
    kmren ada yg memberikan tawaran buat jadi programer,
    disalah satu perusahaan di jakarta,
    (walaupun part time, dan kuliah saya bukan dibidang itu)

    hhhmmmm,.
    buat gelar Haji,
    itu mungkin untuk mengingatkan,
    pada org itu sendiri,
    agar mereka bisa mempertanggungjawabkan,
    gelar itu,
    dimanapun mereka berada,.
    tapi untuk org kaya mendapatkan gelar Haji gampang,
    tinggal terbang,
    toh duit mereka banyak,
    sedangkan ke imanan yg mereka miliki masih sangat minim,

    Comment by Sofian Hadiwijaya(Inyonk) | 31 March 2008

  5. emang sekarang kuliah di teknik apa?

    Comment by wyd | 31 March 2008

  6. teknik industri bu’,..
    xp

    Comment by Sofian Hadiwijaya(Inyonk) | 2 April 2008

  7. Mengenai gelar, kalau menurut saya penting juga…

    Kata dosen saya, bukan maksud untuk sombong2an ..
    Tapi, sebuah gelar (apalagi gelar S3) bukan perkara yang ringan utk didapat. Jadi, ada baiknya juga sbg bagian dari penghormatan akan kerja keras…

    Comment by Zulfi | 14 April 2008

  8. Gelar mah gak perlu. Di kecamatan Samarinda Ulu, Kaltim, tempat saya tinggal, petugas sana sampai merasa perlu mencetak pengumuman di loket pengurusan Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk, bahwa dilarang menuliskan di formulir data:
    1. gelar kebangsawanan
    2. gelar pendidikan
    3. gelar keagamaan.

    Cukup sebagaimana salinan nama pada AKTA KELAHIRAN!!

    Saya amat setuju. Lama saya berdebat sengit dengan calon istri saya waktu itu tentang tidak perlunya (menurut saya) menuliskan gelar pendidikan di Surat Nikah, sementara istri saya menginginkannya untuk sekali itu saja, dengan alasan untuk menghargai jerih payah orang tua yang telah membiayainya.

    Anda tau hasil akhirnya, saya kalah dalam perdebatan itu, dan sambil mengomel saya cantumkan gelar saya di sana😦

    Hanya sekali itu. Tak pernah saya ulang kesalahan itu di perubahan status di KTP saya. Saya hanya mengubah status dari tidak kawin menjadi kawin, lain tidak!

    Setuju dengan rocco90. Muhammad saja tak pernah disapa dengan Haji Muhammad dalam doa2 orang Islam, lha kok para pengikutnya pada kemaruk ….

    Comment by Timurku Datang | 17 November 2009

  9. Rizka setuju sama Ibu.. menurut Rizka, apapun bentuk gelarnya itu sama sekali ga penting.. gelar hanya akan membuat deskriminasi di antara sesama manusia.. sebenernya yang kita pengen dapet dari sekolah yang susah itu bukanlah gelar, tapi ilmunya.. untuk gelar haji, ga ada ketentuannya di dalam agama Islam buat nyantumin gelar2 segala

    Comment by Rizka Hidayati | 2 April 2010

  10. Hehehe Gelar buat pusing…., syukur2 dijalaninya dengan baik, kalo jalan salah ?? Andai nti dikemudian hari saya mendapt “””gelar””” lagi, sya cenderung ga pake “”gelar”” tsb, karena saya merasa masih banyak kekurangannya…
    Pengalaman, Kalo saya yang buat surat / dispo/ rekom / proposal / kontak kerja dll yg sya tanda tangani, biasanya hanya nama yang diberikan oleh Ortu tanpa gelar, walau ada yang bilang knpa tdk pake gelar ?? Jika orang lain yang konsep surat dll maka biasanya gelar ditulis. Kadang sdh saya ingatkan untuk tidak tulis gelar di kemudian hari. Prinsip ku, jangan lihat kerja/gelar ku, tapi lihat lah karyaku…. tqu.

    Comment by Mlg | 2 September 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s