Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Menerbitkan Majalah Sekolah Layak Jual

noteMajalah sekolah dapat dijadikan maskot sekolah selain untuk melakukan publikasi berbagai kegiatan positif sekolah, melaporkan berbagai kendala yang dihadapi manajemen sekolah dalam usaha meningkatkan kualitas sekolah secara keseluruhan, sekaligus mempromosikan dan memsosialisasikan berbagai program sekolah. Sayangnya banyak majalah sekolah tak dikelola secara profesional. Saya telah memperhatikan beberapa majalah sekolah yang telah terbit secara teratur, dimulai dari tata letak sampai ke isi majalah.

Dalam hal ini saya tidak sedang membicarakan majalah Marella, nama majalah sekolah tempat saya mengajar, yaitu SMA Plus Negeri 17 Palembang. Saya sempat menangani Marella mulai dari pembentukan tim, pengumpulan naskah, pengeditan (editing), tata letak (layout) dan isi (content), kecuali masalah pencetakan dan distribusi. Percetakan langsung menerima dalam bentuk file yang siap turun cetak. Saya tidak mau mengatakan bahwa majalah sekolah yang diterbitkan tim yang saya pimpin seideal yang ada di kepala saya, tapi paling tidak semua anggota tim telah bekerja secara profesional dengan hasil yang tidak mengecewakan berdasarkan hasil survei dan SMS yang masuk ke nomor ponsel saya. Saya menangani majalah tersebut hanya untuk satu kali penerbitan saja. Karena satu dan lain hal, saya tidak bersedia terlibat dalam penerbitan selanjutnya.

Yang ingin saya bahas di sini adalah bagaimana sebaiknya menangani majalah sekolah sehingga benar-benar dapat menjadi corong sekolah kepada semua warga sekolah, kepada pihak-pihak yang terkait dengan warga siswa, termasuk kepada pihak-pihak luar sehingga dapat dijadikan referensi perkembangan sekolah dari tahun ke tahun.

1) Harus profesionalworkhard

Meskipun namanya majalah sekolah yang berarti (wajib) dibeli warga sekolah tersebut, pengelolaannya haruslah tetap seprofesional mungkin. Setiap anggota tim harus dapat memberikan sumbangsih hingga terbitnya majalah tersebut. Jangan merekrut anggota tim yang tidak mempunyai kemampuan sehingga tidak akan berperan apa-apa dalam penerbitan majalah. Tim redaksi adalah orang-orang yang benar-benar mau dan bisa bekerja serta berkomitmen menghasilkan malajah sekolah berkualitas dan layak jual. Jangan terpaku dengan konsumen yang sudah pasti akan membeli (karena wajib) tetapi tetap berhitung sebagai penjual yang akan menawarkan barang di pasaran. Tentu sebagai penjual kita akan melakukan yang terbaik untuk menghasilkan barang bermutu yang akan laris manis di pasaran.

2) Membentuk tim sebelum bekerja

Jangan pernah bekerja sebelum anggota tim terbentuk dan mengetahui tugas (job description) masing-masing. Pembina boleh berangan-angan menerbitkan majalah tapi tentu tak mungkin bekerja sendiri untuk menghasilkan majalah sekolah teamworkberkualitas. Pemilihan anggota tim redaksi mutlak dilakukan dengan benar dan tepat. Setiap anggota tim harus dapat menunjukkan hasil karyanya, meskipun belum pernah dipublikasikan, misalnya. Jika ada unsur yang diperlukan tetapi tak ada anggota yang dapat melakukannya, anggota tim harus dibina terlebih dulu. Misalnya tidak ada siswa sebagai tim redaksi yang dapat melakukan reportase, maka pembina harus memberikan arahan terlebih dahulu. Setelah itu melakukan latihan di lapangan pada tokoh nyata tak sebenarnya sebelum terjun ke tokoh yang dikehendaki rapat redaksi. Yang dimaksud tokoh nyata tak sebenarnya adalah bukan tokoh yang diinginkan tetapi dapat diwawancarai (teman sekelas, teman sekolah, orang tua, penjual di pasar, dan seterusnya).

3) Unsur minimal yang harus ada

workHarus ada orang yang bisa menulis (menulis dalam arti menghasilkan naskah), atau suka menulis, atau pernah berkecimpung dalam dunia penulisan, atau bisa mengedit tulisan orang lain agar menjadi naskah yang layak dipublikasikan, atau paling tidak mencintai dunia penulisan. Karena sosok yang satu ini berperan besar terhadap isi sebuah majalah, kecuali majalah yang ingin diterbitkan hanya berupa kumpulan foto tanpa kata-kata. Kalau isi majalah lebih banyak tulisan (apalagi jika belum ada pemasang iklan) maka tim penulis ini haruslah paling banyak jumlahnya di antara unsur lainnya.

Harus ada orang yang bisa menghasilkan foto objek langsung yang layak ditempatkan dalam sebuah majalah, dalam arti mengerti ‘sedikit’ fotografi. Tentu anda tidak akan mau membeli sebuah majalah hiburan yang foto-foto artis di dalamnya kelihatan aneh atau lebih jelek dari aslinya yang sering mereka lihat di media lain. Atau ketika anda membuka sebuah majalah yang mengupas tentang suatu jenis tanaman baru, tetapi foto yang terpajang adalah foto jaman perang Vietnam. Anggota tim ini harus bisa menyediakan foto-foto yang diperlukan oleh penulis naskah, terutama jika naskah tersebut berhubungan dengan profil yang dapat ditemui secara langsung. Misalnya naskah profil seorang tokoh daerah di mana sekolah berada, sebaiknya langsung diambil dari tokoh bersangkutan dan bukan merupakan duplikasi (kecuali untuk beberapa dokumen yang tak mungkin diambil langsung).

Harus ada orang yang mengerti tentang tata letak untuk mengatur penempatan isi majalah, baik naskah maupun gambar. Belajar tata letak dapat dilakukan secara otodidak melalui berbagai sumber baik langsung kepada ahlinya, maupun tak langsung, misalnya dari media cetak atau online.

Harus ada orang yang mengerti reportase. Ini terutama penting dimiliki jika majalah selalu menampilkan tokoh tertentu dalam setiap edisinya. Tidak mungkin seorang reporter bolak-balik menghubungi nara sumber karena menyadari kekurangan bahan atau data saat hasil wawancara siap dijadikan tulisan. Bagaimana kalau nara sumber adalah orang penting yang untuk menemuinya harus melalui protokoler berbelit-belit?4ss

Harus ada anggota tim yang bisa menggambar, baik berupa gambar animasi atau vignet. Hal ini terutama akan digunakan untuk mengisi bagian-bagian kosong suatu halaman atau menunjang naskah. Misalnya cerpen tak cocok disertakan gambar nyata seorang siswa tetapi akan lebih baik jika berupa lukisan dengan pensil warna, pensil khusus atau tinta cina. Saya pribadi lebih suka menggambar dengan menggunakan tinta cina atau pensil alis. Tinta cina sangat bagus untuk vignet sedangkan pensil alis bagus untuk gambar realita (manusia, tokoh, binatang dan sejenisnya).

Harus ada orang yang mengerti dan mau terlibat dalam hal keuangan. Bagian keuangan mungkin merupakan orang yang selalu ada pekerjaan. Saat pengumpulan naskah, pencarian materi dan pengeditan, bagian ini harus bolak-balik mencatat pengeluaran anggota tim lain untuk menunjang ketepatan waktu kerja. Misalnya, untuk keperluan fotokopi, rental internet (kalau sekolah tidak memiliki fasilitas itu), membeli alat dan bahan penunjang kerja tim, dan sebagainya. Saat turun cetak, bagian ini harus berurusan dengan percetakan. Ketika distribusi, dia yang menentukan bagaimana cara pendistribusian atau pembayaran. Setelah itu harus menghubungi pihak luar tim yang akan menerima pembayaran atas pemuatan naskahnya, umpamanya. Sambil melakukan kegiatan terakhir ini, anggota tim naskah mulai sibuk menangani naskah-naskah baru dan ini artinya unsur keuangan akan mengulangi siklusnya dari awal.

4) Pembiasaan tenggat waktu

deadlineSetiap anggota tim harus membiasakan diri bekerja dengan tenggat waktu (deadline). Jika majalah akan diterbitkan sebulan sekali, sebagai contoh, maka harus terbit sekali dalam sebulan. Tidak boleh mengkambinghitamkan ulangan atau berbagai kegiatan lain sehingga tenggat waktu tidak tercapai dan penerbitan majalah tertunda.

5) Dengar pendapat

Pertemuan lengkap anggota tim redaksi minimal dilakukan dua kali, yaitu sebelum dan setelah penerbitan. Hal ini penting dilakukan terutama untuk menyamakan misi tertentu yang akan diemban dalam suatu edisi. Biarkan setiap anggota tim mengeluarkan pendapat tentang bagian yang akan dikerjakan tim lain. Biarkan imajinasi setiap anggota tim berkembang di saat pertemuan. Misalnya, jika edisi mendatang berupa edisi penyambutan siswa baru, tim fotografi bisa saja mengusulkan agar dimuat siswa-siswa berprestasi di sekolah sebelumnya. Tugas tim naskah untuk mencari data dan tugas reporter untuk melengkapinya.

6) Bebaskan siswa belajar manajemen langsung

Cara paling efektif untuk mentransfer ilmu kepada siswa adalah melibatkan siswa secara langsung dalam praktik di lapangan, bukannya hanya memberikan teori hingga mulut berbusa. Pembina majalah sekolah dapat memberikan tanggung jawab dimulai dari hal-hal kecil kepada setiap anggota tim hingga akhirnya terbentuk tim yang solid yang dapat melakukan manajemen majalah dari awal hingga tuntas. Jangan pernah takut membagi ilmu kepada siapa pun karena ilmu yang sempat kita bagi tak akan mengurangi ilmu yang telah kita kuasai. Dengan memberikan kepercayaan penuh kepada tim sambil tetap memberikan masukan dan menjaga kekompakan tim, maka sebuah majalah sekolah yang layak dibaca pasti dapat diterbitkan tepat waktu.

25 March 2008 - Posted by | Pendidikan | , ,

11 Comments »

  1. Um,

    Bu, hehe.

    Numpang nampang lg nih…

    Harus diakui masalah terberat dan terbesar, adalah

    “WAKTU” atau deadline…

    Sangat sulit membuat tim mampu tepat waktu dan mengumpulkan artikel serta bahan2 terbitan tepat waktu.

    Selama kurang lebih satu tahun bergabung dalam “tim” majalah sekolah SMA saya dulu… Belum pernah satu kalipun… artikel dan bahan2 dikumpulkan tepat waktu.

    Kendalanya amat beragam, kebanyakan sih karena berantakannya manajemen waktu anak2…

    Mungkin, perlu juga diadakan pelatihan dan sedikit tips membagi waktu,

    Serta amat diperlukan ketegasan dan follow up yang bersifat kontinu dari Pembina.

    Dari pengalaman saya biasanya: setelah briefing pertama, bagi2 tugas, menentukan deadline.
    Pembina tidak lagi melakukan “pengejaran” terhadap artikel, tidak lagi melakukan “penekanan” terhadap tim…

    Dengan alasan, Pembina masih banyak kerjaan lain, pembina ini gag cuma mau ngurusin majalah. Dengan alasan, kesadaran tim lah… masak harus dikejer terus..

    (dikejer terus? dikejer sekali aja belom pernah…hoho ^^)

    de poin is:
    ketegasan dan pressure yg tepat dari atas, untuk menimbulkan kesadaran dari dalam….

    yang pasti “butuh waktu…”

    hehe
    -sinsko, angk.8-

    Comment by rocco90 | 25 March 2008

  2. kalau semua pihak berkomitmen untuk menerbitkan majalah sekolah yg layak jual, pasti ga akan pernah ada alasan sibuk dari pembina. pembina kan emang tugasnya mengingatkan selain juga memantau n membimbing kerja anggota timnya.

    eh, apa kabar majalah sekolahmu dulu? kayaknya belum ada lagi yg terbit setelah terakhir ibu jadi pemimpin redaksi dan menerbitkan no 16 bulan april 2007.

    no 17 sempat terbit yg isinya rencana anggaran komite sekolah. denger2 sih katanya mau diterbitkan lg no 17 dan yg lalu dianggap tdk ada.

    Comment by wyd | 25 March 2008

  3. @ sinsko
    wah-wah perjuang kalian besar juga ya ko,…
    awkoawkokawo,…
    tapi sedikit banyak yg aku liat,…
    anak2 banyak yg antusias sama salam dan ucapan,…

    mengenai deadline buat cari bahan,…
    sekrang mungkin bukan kndala,..
    kan ada internet,….
    dari google bisa dapet nuh,….

    hhhmmm,…
    brarti harus ada kerjasama antara pembina dan tim,…
    timnya sndiri harus bertanggung jawab donk,..
    walaupun pembinanya ga tegas,…
    awkoawkoawk

    dan di laen sisi,..
    pembina juga harus melihat gmn timnya kerja,…
    ya setidaknya supaya mereka terlihat diperhatikan…
    jadi ada semngat buat kejar deadline,…

    Comment by Sofian Hadiwijaya(Inyonk) | 25 March 2008

  4. Majalahku dulu Bu?

    Waduh… gag tau juga ya Bu…

    adek-adek kelas ku, ditanyain… mereka malahan udah lupa…

    (T.T) sedihnya….

    Bu, ada hembusan angin gosip yang dibawa burung pipit padaku…

    katanya ada samting terible will heppen
    tu “PLUS” kita?
    gosipnya udah nyemeremet di kalangan alumni lo….

    Comment by rocco90 | 26 March 2008

  5. wew,…
    berita apo ko??
    aku dak tau,..

    -,-‘a

    Comment by Sofian Hadiwijaya(Inyonk) | 27 March 2008

  6. ibu ga mau ikutan kalau berita itu sekadar baru dibawa burung pipit.
    kan bahasanya ga bisa dimengerti.
    jangan2 penerjemahnya salah mengerti sehingga kita hanya akan menerima berita yang salah.

    Bener, ga?

    Comment by wyd | 29 March 2008

  7. Wah, perumpamaan bagus banget Bu…

    gossip yang nggak jelas, pindah telinga bertambah bumbunya…

    hoho ^.^

    Gossip is gossip… biarlah gosip tetep jadi gosip

    hehe.

    Comment by rocco90 | 30 March 2008

  8. ya bagus juga tapi bagaimana ya sebaiknya gambarnya diperbesar

    Comment by Anonymous | 27 May 2008

  9. thx masukannya.

    btw… siapa nih???

    Comment by wyd | 27 May 2008

  10. artikel yg pantas dimuat ap ?

    Comment by nms | 2 November 2008

  11. kalau ada profil, bikin profil warga sekolah tp harus bisa menggali bagian2 unik dari si tokoh yang belum diketahui umum.
    begitu juga dg profil tokoh di luar sekolah.

    iptek harus ada dong, kan majalah sekolah….

    Comment by wyd | 3 November 2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s