Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Apa Kabar RUU APP?

Meski tak pernah tertarik browsing atau beli majalah yang memuat foto telanjang Dewi Sandra eh Sandra Dewi, tapi membaca tulisan atau komentar mengenai hal itu yang notabene hanya datang dari kaum Adam sudah cukup memberikan informasi bagi saya. Itu kenapa saya memilih untuk menulis soal telanjang dan menghubungkannya dengan peraturan atau perundangan tentang pornografi dan pornoaksi.

RUU APP Jadi UU APP?

Berita ini hanya hangat saat menjadi RUU. Entah ke mana sekarang larinya RUU tersebut. Saya termasuk salah seorang yang tidak setuju dengan RUU APP tersebut setelah menbaca draft pertama yang dikeluarkan DPR RI. Alasan saya:

Jika benar RUU APP itu disyahkan, akankah pasangan suami istri resmi yang mendokumentasikan aktivitas hubungan mereka ditangkap meski dibuat hanya untuk konsumsi mereka pribadi? Misalnya, si suami mendokumentasikan istrinya menari sedikit erotis atau erotis dalam pandangan suaminya? Jika hal tersebut bisa menggairahkan hubungan suami istri itu, kenapa menjadi sebuah pelarangan?

Jika RUU APP itu disyahkan, akankah penyanyi dangdut hanya boleh diam di atas panggung sementara lagu dangdut kental dengan cengkok yang mengajak tubuh bergoyang? Saya bukan penggemar dangdut dan tak pernah mengidolakan satu penyanyi dangdut bahkan belum pernah bisa menikmati indahnya satu lagu dangdut, tapi saya menghormati orang lain yang bisa menikmati lagu-lagu tersebut. Bisa anda bayangkan bagaimana pertunjukan dangdut masa depan jika penyanyinya hanya duduk di atas kursi atau menyanyi tanpa menggoyangkan tubuh? Sesuai dengan yang digembar-gemborkan, dangdut adalah musik negeri ini, meski saya tak pernah setuju pernyataan itu. Bagi saya pribadi, musik dangdut hilang dari Indonesia tak menjadi masalah. Tapi dalam pandangan kultural saya, itu sama saja membunuh karakter bangsa. Sesuai dengan draft pertama RUU APP pasal 6 ‘Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasikan daya tarik tubuh atau bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis.’ Ingat, erotis bagi sebagian orang berbeda maknanya bagi sebagian lainnya. Untuk saya contohnya, tarian Agnes Monika atau goyangan penari Jaipong sudah berarti erotis.

Jika RUU APP itu disyahkan, seorang suami bahkan tak bisa mencium istrinya meski di pestaThe kissed stuntman pernikahan mereka atau di hari ulang tahun istrinya di depan umum, meski mereka tak bermaksud mengumbar ciuman itu untuk dieksploitasikan di tempat umum. Tapi apa salahnya seorang suami memberikan sebuah hadial spesial sambil mencium istrinya pada hari ulang tahun si istri saat mengajaknya ke restoran tempat dulu pertama kali mereka bertemu, misalnya? Maka tak heran jika kelak Indonesia dikenal memiliki laki-laki yang berstatus suami tapi tak pernah melakukan keromantisan terhadap istrinya. Maka kelak tak heran kalau wanita-wanita Indonesia menginginkan pria luar menjadi suaminya untuk mendapatkan sedikit keromantisan.

Jika RUU APP itu disyahkan, maka kita tak lagi menjadi negara yang diincar turis karena keragaman budayanya. Karena seperti yang dinyatakan dalam pasal 36 dikatakan bahwa pengecualian hanya berlaku antara lain untuk ‘cara berbusana dan/atau tingkah laku yang menjadi kebiasaan menurut adat-istiadat dan/atau budaya kesukuan, sepanjang berkaitan dengan pelaksanaan ritus keagamaan atau kepercayaan’. Padahal para wisatawan asing lebih suka melihat adat istiaadat keseharian bukannya yang telah dipoles khusus untuk dipertontonkan pada pekan budaya, misalnya.

Dan masih banyak -terlalu banyak- pasal dan poin dalam RUU APP draft pertama kalau diuraikan satu persatu, yang membuat saya menolak RUU itu disyahkan.

Apakah UU APP Diperlukan?

Sama seperti halnya RUU APP, kasus majalah Playboy juga tak terlalu jelas juntrungannya. Majalah-majalah (dalam hal mengumbar erotika, maksudnya) masih bebas mengeruk keuntungan lewat eksploitasi makhluk yang berjenis perempuan. Nah, kasus-kasus seperti ini yang makin memperkuat ketaksetujuan saya terhadap RUU APP. Bahasa dalam RUU APP draft pertama yang terlalu luas akan sulit dilaksanakan secara benar. Kalau para anggota dewan yang terhormat di gedung legislatif sana benar-benar berniat mengangkat derajat wanita dan menurunkan angka asusila, kenapa tidak dimulai dengan pelaksaan perda-perda yang sudah ada terlebih dulu untuk menjerat berbagai kasus asusila (batasan asusila di sini sesuai perda masing-masing) dan benar-benar melaksanakannya. Artinya yang melakukan penyimpangan pasti diproses dan permasalahannya diselesaikan hingga tuntas.

Arti lebih luas lagi, sebenarnya RUU APP tak perlu ada. Negara ini tidak memerlukan RUU baru yang mengatur tentang pronografi karena sebenarnya perda-perda tentang itu sudah tersedia, hanya belum -kalau tidak mau mengatakan tidak- dilaksanakan. Menghubungkan dengan perda yang tidak, eh belum, dilaksanakan sementara RUU APP juga belum menjadi UU APP, maka adalah langkah yang salah jika kemudian ada artis yang diproses karena foto-foto semi telanjangnya menyebar dengan luas sementara ada artis lain dibebaskan meski foto-fotonya yang lebih vulgar telah beredar lebih dulu tetapi tak mendapat respon terlalu tinggi. Nah, kalau itu bukan soal artisnya yang salah, tapi keseragaman perasaan laki-laki lah yang membuat ratingnya ‘terpaksa’ melambung.

Kalau benar perda-perda pelarangan pronografi telah dijalankan dengan benar, tidak mungkin lagi ada pertunjukan dangdung semi telanjang di pesta perkawinan yang terbuka untuk umum dan bahkan ditonton anak-anak usia SD. Mungkin anak-anak tersebut belum sepenuhnya mengerti tapi memberikan tontonan yang baik atau benar adalah tugas orang dewasa di sekitarnya. Mungkin kita bisa menikmati tontonan penuh erotisme semacam itu tetapi tentu tak layak kita membaginya dengan anak-anak kecil.

23 March 2008 - Posted by | Opini | ,

3 Comments »

  1. Porno tidak porno, amat sangat tergantung dari masing2 individu…

    hoho.

    Saya rasa sih, kita tidak mungkin membatasi dari sudut pandang menghentikan “kepornoan”…

    Tapi, meningkatkan regulasi dan peraturan tentang
    bagaimana sesuatu yg “porno” tadi diakses masyarakat…

    Sebagai wacana lain:
    (sedikit OOT)
    Zaman sekarang, mungkin belum ada tayangan “porno” jam satu siang,,, tapi maap2, Dokter Boyke/Naek L Tobing, bisa muncul di tipi siang bolong… (itu gimana ceritanya..?)dalam acara dengan rating SU (semua umur) lagi…

    Apakah itu porno? Tentu tidak…

    Tapi srius deh,,, kalo saya masih kecil…pembicaraan mereka
    akan sangat “memancing” dan merusak perkembangan anak mentally…

    Sekedar luapan pemikiran…
    Masalah porno, harus dikendalikan dr dalam individu dengan penanaman Akhlak dan bimbingan sejak kecil. UU APP tidak akan memberikan banyak dampak… selama akses2 lain masih terbuka dengan lebar!

    VCD porno bertebaran dipasa, web porno juga dengan sekali klik! dapat diakses, banyak juga jaringan TV kabel yg tidak bisa dibendung.

    UU APP akan menjadi perangkat hukum yang MANDUL,,, dan mubazir…

    Kenapa ya para Boss diatas, seneng banget buat peraturan yang nggak menggigit?

    Cuma bikin peraturan yang membuat rakyat “berdenyut”…
    *biar dikira rakyat mereka punya kerjaan

    **piss, no ofens
    -sinsko, angk.8-

    Comment by rocco90 | 24 March 2008

  2. Hai, Ko. Pa kbr?
    Setuju soal perangkat hukum yg mandul n mubazir…
    Jd harusnya erda yg udah detail diberlakukan u/ langsung ke sasaran sedangkan peraturan lbh besar hrsnya mengatur yg lbh luas jangkauannya kayak media dsb.
    Thx udah sempat lihat2, ya.

    Comment by wyd | 24 March 2008

  3. Hello. And Bye.

    Comment by XRumerTest | 5 February 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s