Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Proyek Besar Untuk Rasullulah

Seorang teman yang membangun website non komersial tentang agama Islam, meminta saya membantu menerjemahkan beberapa tulisan dalam Bahasa indonesia. Sebenarnya ide itu tidak murni datang darinya. Waktu saya membuka websitenya, saya iseng bertanya kenapa tidak ada Bahasa Indonesia-nya padahal penduduk Muslim di dunia terbesar adanya di Indonesia. Selama ini saya tidak mempermasalahkan hal itu karena Bahasa Inggris yang digunakan di websitenya lumayan familiar dengan mata saya. Tetapi melihat adanya bahasa asing lain yang terus bertambah jumlahnya, membuat saya mempertanyakan diskriminasi yang diterapkannya terhadap bahasa orok saya.

Teman tersebut kemudian menanggapinya dengan melemparkan tugas menerjemahkan itu kepada saya. Tapi dengan syarat bukan asal terjemahan yang diambil langsung dari websitenya. Saya harus punya rujukan yang cukup kredibel dan harus menghubungkan tiap bagian dengan Alquran atau Hadist. Karena website itu mengemban misi memberikan informasi yang benar tentang Islam sunni beserta deretan panjang latar belakangnya. Jadi saya harus menulis sekian banyak artikel yang memuat tentang Rasulullah SAW., sejarah kedatangan Islam dan -syukur-syukur kalau mampu juga menuliskan- tentang hukum-hukum Islam.

Bagi saya ini sebuah proyek besar. Bukan karena jumlah uangnya maka saya katakan itu proyek besar. Saya bahkan sama sekali tidak dibayar untuk pekerjaan satu ini. Kalau hanya sekedar merangkumkan dari berbagai sumber dan dengan mengadopsi sekian bagian dari websitenya, bukanlah masalah yang berarti bagi saya. Bukan pula rasa takut dicerca oleh Muslim Indonesia yang membuat saya menganggap ini proyek besar. Saya memang pernah menolak menuliskan kisah Gus Dur dengan alasan mirip seperti itu padahal Gus Dur kan ‘hanya’ tokoh bangsa dan tidak semua orang sejalan dengan pikirannya. Saat itu saya masih terlalu naif soal tanggung jawab menulis dan masih terlalu takut mengambil resiko dengan berbagai pertimbangan lugu (atau bodoh?). Beda kasusnya kalau permintaan sejenis datangnya sekarang, di saat saya sudah mengerti trik-trik ‘mengelabui’ massa.

Masalahnya, kali ini tentang Nabi Muhammad SAW. dan Islam, topik yang sama sekali jauh dari jangkauan saya. Saya tidak ingin menulis dan merangkum tetapi tidak menyertakan ‘hati’ saya dalam tulisan itu. Mungkin karena berlatar belakang penulis fiksi, saya selalu menyertakan ‘hati’ dan ‘perasaan’ saya dalam setiap tulisan. Namun bagaimana bisa saya menyertakan hati dan perasaan kalau saya sendiri selama ini ‘tak terlalu peduli’ dengan hal-hal yang akan saya tulis? Berdiskusi tetang agama atau mencari dari berbagai sumber memang hal rutin bagi saya. Tapi sebatas karena mempertanyakan mengapa seperti ini atau apa alasan agamis sehingga ada suatu hukum tertentu. Kasarnya, pencarian saya selama ini hanya untuk mencari celah beberapa larangan yang ingin saya jadikan halal.

Sedangkan dari pengalaman para penerjemah lainnya, saya simpulkan mereka menulis karena mereka mencintai yang mereka tulis seperti halnya saya mencintai fiksi. Pertanyaan penting buat saya pribadi adalah: bisakah saya mencintai Rasulullah seperti saya mencintai fiksi sehingga tulisan saya lahir karena kecintaan saya pada beliau dan bukan karena tantangan si pemilik website? Saya harus banyak belajar bagaimana mencintai Rasullulah dan segala yang telah diajarkannya pada umat sebelumnya.

Bagaimana Caranya Mencintai Rasullulah?

How should we love the Prophet? No freaking idea. Jujur, itu jawaban saya ketika teman saya si pemilik website balik bertanya pertanyaan di atas yang saya lontarkan padanya. Untungnya saya tak memperpanjang jawaban dengan kata-kata tak sopan, satu hal yang kerap terlontar kalau saya sedang bingung. Bagaimana tidak, saya yang bingung darimana mulai menulis dan ketika menanyakan hal itu malah harus mencari jawaban untuk pertanyaan saya sendiri.

Saya tak putus asa. Pekerjaan baik yang akan saya lakukan tentunya tak mungkin ditutup pintunya oleh Tuhan. Pasti ada jalan. Saya browsing situs-situs keagamaan, terutama dari Turki, Mesir, dan Saudi Arabia. Tentunya yang menggunakan Bahasa Inggris karena saya tak paham sama sekali bahasa Arab. Bisa mengaji tentu bukan jaminan mengerti Bahasa Arab, apalagi untuk ukuran orang Indonesia awam seperti saya.

Saya tidak tahu bagaimana orang bisa mencintai Rasullulah sehingga ketika wajah beliau dibuatkan dalam bentuk kartun, mereka mampu menunjukkan kemarahan dengan brutal. Ketika kasus itu terjadi, saya hanya mengatakan kenapa menjadi masalah karena yang membuat kartun tidak mengerti siapa Rasullulah. Pandangan saya akan berbeda jika kartunisnya adalah seorang Muslim yang seharusnya menghormati Rasullulah. Atau jika Rasullulah hidup di jaman ini dan berada bersama saya. Kemarahan tak bisa meluap dari hati saya meski rasul junjungan saya dilecehkan orang. Bukankah itu pertanda saya tidak mencintai beliau? Katakanlah kurang cinta. Jadi saya harus menemukan cinta itu lebih dulu. Bukan jalan yang mudah saya kira, karena cerita tentang beliau hanya saya peroleh lewat buku-buku atau penuturan orang yang juga tak mengenal beliau. Tapi tak mungkin saya tak bisa menemukan cinta itu jika orang lain yang juga tak kenal beliau bisa mencintai beliau sepenuh hati. Saya berharap ada seseorang di luar sana yang mau berbagi bagaimana caranya menemukan cinta terhadap Rasullulah.

Masalahnya mungkin, maukah saya membukakan pintu hati untuk menempatkan cinta saya pada beliau. Entah bagaimana akhirnya, yang pasti bagi saya ini sebuah proyek super besar yang pernah saya setujui.

23 March 2008 - Posted by | Agama |

10 Comments »

  1. wow. Tulisan yg cukup membuat saya sejenak menghela nafas. Hehe.

    Sudah pernah baca buku Muhammad tulisan Karen Armstrong. Hmm, untk mengenal Nabi Muhammad dr perspektif ‘biasa’ atw bsa d katakan netral.

    Saya akui, sering juga mencari celah atau pembenaran atas tindakan2 saya, dgn memanfaat kan fatwa ulama yg tumpang tindih, tdk jarang menyelipkan pandangan sendiri dan memberi bumbu ‘ala saya’…

    Terkadang ‘belajar agama’ hanya untk mencari tau. . . Hanya ‘tahu’ . . . Untk, memuaskan rasa ingin tau ttg hal2 bru…

    Menumbuhkan rasa cinta, kayaknya membutuhkan ‘berkat’ dr Yg Diatas. Kalo kata beberapa ‘guru’ saya dulu, ada beberapa cara. Yaitu, melapangkan hati, sering melihat kitab2 ttg hadist, mencari keunggulan Rasull, seperti kebiasaan harian dsb.

    Kalo saya mengagumi Rasul, dr cara tidur, berbicara, dan tersenyum. Hehe.

    Saya dapat ‘wow’ faktor, ketika saya melihat sleeping budha. Budha tidur seperti Rasull tidur. Miring ke kanan, dg tangan menyangga kepala. . . Sejak itu, bnyak ‘wow’ faktor lain yg saya temui. . . Hehehe.

    *piss

    Comment by rocco90 | 27 March 2008

  2. maap tulisannya agak aneh. Saya ngeblog dari hape. . . Hehe.

    Comment by rocco90 | 27 March 2008

  3. Jadi menurutmu… ibu atau siapa pun yang ingin mencintai Rasulullah ga akan pernah bisa kecuali datangnya ‘berkah’ dari yang Maha Mencipta?

    Kesannya kok Tuhan pilih kasih yah….

    Comment by wyd | 27 March 2008

  4. Yap… betul sekali Bu…

    Ini bukan kata saya lo…
    Buanyak banget “orang pinter” yang bilang…

    “Allah akan memberi ‘hidayah’ pada orang-orang yang dikehendaki-Nya…”

    Yah, timbul pertanyaan…

    Jadi org bisa jadi Nabi? Bisa jadi Ulama?

    ato

    Jadi Fir’aun? (yang ditutup mata hati, telinga, dan matanya)

    Semua tergantung ‘Tuhan’ ???

    >>dan muncul banyak lagi pertanyaan2… yang terkesan…
    ‘agak susah dijawab’…

    Makanya ulama memiliki kata pamungkas…

    yaitu,

    “Iman”
    (begitu kita banyak tanya, semua kembali ke Iman)

    ato

    Iman, dan teruslah mencari… Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali mereka berusaha.

    Kalo Tuhan belum kasih, kita yang ‘berusaha’ mencarinya…

    Tuhan pasti kasih, karena Ia Maha Pengasih….

    *aneh ya?
    hoho ^^

    Comment by rocco90 | 27 March 2008

  5. Assalamu’alaikum, Bu.

    Hal yang sama juga Ino rasakan. Ketika di Singapura sedang marak-maraknya orang bercas-cis-cus masalah film “Fitna” yang katanya sebagian kontennya mengejek Nabi besar kita, Ino juga tak bergeming sedikit pun. Tak ada sedikit pun komentar terujar. Tak ada niat di dalam hati untuk nimbrung. Entah kenapa.

    Ino jujur jadi malu dengan diri sendiri. Orang bilang muslim yang saleh itu yang banyak mengikuti sunnah Nabi, juga mencintai beliau. Kadang benak pun berpikir, apa Ino belum jadi sepenuhnya muslim?

    Mungkin benar, butuh hidayah dari Allah untuk bisa mencintai Rasul.

    Anyway, Ino suka dengan gaya Ibu menuangkan isi pikiran.

    Comment by Kemas Aurino Muhammad | 17 July 2008

  6. thx udah mampir ya, No….

    moga cita-citamu tercapai….

    semoga kita selalu dalam limpahan hidayah dan rahmat Allah SWT….

    Comment by wyd | 21 July 2008

  7. asslkum…ehm…kyaknya…banyak dari kita semua termasuk saya juga terkdang mersakan dan mempertanyakan kecintaan sya terhadap Rasulullah SAW, ktika film fitna yang kak Ino crita tdi sedang rame-ramenya…sya merasa tersentak, marah, dan tersinggung dengan perbuatan “si orang Belanda” itu tetapi sya bingung harus bgaimana sya menyalurkan kemarahan sya tersebut….sya hanya bisa berdiskusi dan berkomentar dengan tman2 sya d kampus dan d organisasi2 yg sya ikuti tentang penghinaan yang “orang belanda” tersebut lakukan kepada kekasih Allah SWT…walaupun penilaian org2 banyak yang smuanya negatif tetapi sya sdikit berbeda…bukan krna sya membela si “orang belanda itu” tetapi krna sya semakin sadar betapa kurangnya perhatian kita kpada Rasul Mulia kita Muhammad SAW….setiap hari minimal pada 5 waktu shalat kita bersalawat kpada Beliau..tetapi hnya sdikit dri kita yang memahami esensi dari shalawat tersebut…ktika org2 yg benci dengan Beliau menghina Beliau baru kita bereaksi (sma kyak kasus pencaplokan tempe oleh Jepang, Sipadan-Ligitan oleh Malaysia dan Reog oleh Malaysia juga) knapa sebelum hal tersebut terjadi kita tidak menjaga nama baik Beliau slaku pimpinan umat Islam dengan perbuatan kita di depan umat lainnya?????..jgan hnya bisa merusak perdamaian dunia dgan aksi anarkisme terhdap umat lain dengan alasan jihadfisabilillah yg melenceng dan yang notabene tidak pernah diajarkan Beliau kpda kita….knapa?..hnya diri kita yang bisa menjawab….smga Allah memberikan Syafaat Rasulullah SAW kpda kita smua ….amin

    Comment by adrian cf | 21 July 2008

  8. amiiiinnn

    Comment by wyd | 22 July 2008

  9. sekarang waktu yang pas(Bulan rajab) ni tuk mencintai rosul, caranya gampang TAqwa dan perbanyak solawat………..oke. god luck

    Comment by dan | 22 July 2008

  10. Ass, saya mempunyai saran, bagaimana untuk dapat mencintai Rasullulah SAW. Caranya mudah yaitu berimanlah kepda Alloh dan rasulnya. Sebelumnya kita selidiki dulu apa itu arti iman.
    Di dalam Al-Quran,intinya iman yaitu meyakini kepercayaan yang diucapkan dengan lisan, di yakini dengan hati, dan yang terpenting adalah di lakukan dengan perbuatan. apabila kita hanya meyakini dengan hati atau hanya mengucapkan dengan lisan tanpa dilakukan dengan perbuatn, artinya iman kita belum sempurna, bagaimana mungkin kita dapat mencintai Rasullulah.
    Di dlm AL-Quran jg Alloh berfirman: ikutilah rasullulah berarti kamu telah mengikuti Alloh.
    Dan dalam hadist yang di riwayatkan oleh imam Bukhari, Rasulullah SAW pernah bersabda: inti arti hadistnya adalah barang siapa yang belum mencintai Alloh dan rasul’a melebihi apapun(diri kita, ortu, anak, istri, kerabat,dll)maka iman”a belum sempurna. maka ayo kita sama2 tingkatkan iman kita, semua perlu proses dan kita harus selalu mencari kebenaran, mempelajari islam (Al-quran dan Al-Hikmah(sunnah)) sampai ajal menjemput. Wass Wr Wb.
    NB: maaf saya tidak menyabutkan nama surat di kutipan firman Alloh di atas karena sy lupa itu surat apa, tp ketrangan2 di atas memang ada di Al-Quran dan hadist, smoga bermanfaat.

    Comment by hamba Alloh | 31 August 2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s