Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Mencari Jejak Tuyul, The Invisible Thief

Sebelumnya saya mengira tuyul hanyalah dongeng seperti halnya Peter Pan dari negeri seberang. Alasannya sederhana, saya belum pernah melihat tuyul dan keberadaannya sama tak masuk akal seperti halnya Peter Pan yang bisa terbang dan tak pernah dewasa. Selain itu, banyaknya versi di televisi tentang tuyul, ada yang baik ada yang jahat, ada yang mencuri, ada yang hanya ingin bersenang-senang dengan anak sebayanya, dan sebagainya, membuat keberadaan tuyul sebagai makhluk nyata makin tak berarti dalam logika saya. Mana ada anak kecil (yang bahkan masih perlu menyusui pada induk semangnya/tuannya atau istri tuannya) bisa mencuri uang dengan amat sangat lihai tanpa diketahui si pemilik? Mana ada anak kecil tega menghabisi nyawa induknya padahal dia masih butuh menyusui? Menurut logika saya saat itu, tuyul mirip Peter Pan. Bedanya, Peter Pan terarsipkan dengan baik sehingga kita dapat melacak siapa penulis asli dongeng itu sedangkan sebagai bangsa yang tak terlalu peduli dengan catatan, kita melupakan siapa penulis dongeng tuyul versi pertama. Ini bukan hal yang mengherankan bagi saya. Buktinya dewasa ini di mana berita dapat menyebar antar benua dalam hitungan sepersekian detik, kita telah kecolongan batik sebagai budaya nenek moyang kita dan nyaris kehilangan reog Ponorogo sebagai warisan budaya Jawa Timuran.

Logiskah Keberadaan Tuyul di Abad Ultramodern?

Keberadaan tuyul mulai memaksa logika saya tak berfungsi sejak sebulan yang lalu. Dimulai saat saya kehilangan uang seratus ribu (dua lembar lima puluh ribuan) dari dompet di dalam rumah sendiri. Mulanya saya pikir saya telah salah menghitung. Keesokan harinya ketika jumlah yang sama hilang lagi, saya mulai curiga pada putra saya. Biasanya dia tidak pernah mengambil uang sendiri dari dalam dompet saya. Kalau terpaksa -misalnya saya sedang tidur sedangkan dia harus segera pergi- maka dia akan memberitahukan hal itu. Kehilangan uang dua hari berturut-turut dalam jumlah yang sama meski tidak terlalu besar, membuat saya lebih berhati-hati. Saya menanyakan pada anak saya tanpa bermaksud menuduhnya, tentang uang yang hilang. Tapi alasannya masuk akal.

Kebiasaan saya adalah memisahkan uang setiap sejuta rupiah. Ini saya lakukan sebelum berangkat tidur. Lalu menyimpannya dalam dompet dan kemudian dalam tas tangan di dalam kamar tidur. Uang dalam jumlah besar yang sewaktu-waktu akan dipergunakan saya masukkan dalam dompet lebih besar dan dompet itu dimasukkan dalam koper kecil di sudut kamar dan tak lupa menguncinya.

Hari ketiga, kejadian yang sama terulang. Uang sejuta hanya tinggal sembilan ratus ribu. Sayangnya saya lupa menghitung sebelum berangkat kerja sehingga bisa jadi uang tersebut jatuh saat saya membayar pembelian bensin. Meski membayar dari uang yang selain sejuta rupiah tersebut, tapi mana tahu ada yang jatuh atau tertiup angin saat saya mengeluarkan dompet? Tidak ada alasan untuk mencurigai anak saya karena uang diletakkan dalam koper yang terkunci malam sebelumnya dan baru saya keluarkan setelah dia berangkat sekolah. Tapi menyalahkan diri sendiri karena telah salah menghitung jumlah uang malam sebelumnya, juga tak mungkin, karena sebelum memasukkan uang ke dalam dompet, saya tiga kali menghitung dan akhirnya hanya mengambil sejuta dan sisanya beberapa lembar lima puluh ribuan, sepuluh ribuan, dan ribuan tak saya hitung lagi.

Kejadian berhenti sampai di situ. Saya sudah menemukan kuncinya: jangan memisahkan uang persejutaan tapi per satu setengah juta. Karena setiap saya memisahkannya per sejutaan, pasti ada seratus ribu (sekali lagi: dua lembar lima puluhan) yang hilang di antara 4-5 juta uang yang ada. Dua minggu berlalu tanpa kejadian apa-apa. Saya sudah melupakan pernah kehilangan beberapa ratus ribu tanpa tahu siapa pencurinya, dan kembali ke kebiasaan lama: memisahkan uang setiap satu juta. Dan kejadian yang nyaris sama terulang: saya kehilangan uang dari dalam dompet yang disimpan di dalam koper terkunci. Tapi kali ini hanya selembar lima puluh ribuan.

Rasa penasaran yang besar membuat saya ingin menangkap pelakunya. Jam dua pagi sebelum tidur, saya hitung jumlah uang dan memisahkannya seperti biasa: setiap satu juta dijadikan satu. Lalu menyimpan lima juta rupiah di dalam dompet besar. Meletakkan dopet itu di dalam koper dan menguncinya. Kunci gembok kecil itu saya simpan di tempat yang agak jauh dari koper (bukan tempat biasa saya menyimpannya) tetapi masih di kamar yang sama. Tak mungkin ada pencuri yang tahu. Bangun tidur jam lima pagi, setelah sholat Subuh, yang pertama saya lakukan adalah mengecek jumlah uang dalam koper. Empat juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah. Reaksi pertama saya, “God damn it!’

Tapi saya belum kapok. Keesokan malamnya saya lakukan hal yang sama tetapi kali ini kunci gemboknya saya simpan dalam saku celana yang saya kenakan saat tidur. Dan sekali lagi uang saya berkurang lima puluh ribu rupiah. Dan sekali lagi uang itu hilang di depan hidung saya di dalam kamar saya sendiri meski disimpan dalam koper terkunci. Waktu saya keluhakan hal ini pada wanita yang membantu mencucikan pakaian kami, dia mengatakan hal paling tak terpikirkan oleh saya. Katanya itu pasti kerjaan tuyul. Karena beberapa kali mbak-mbak yang tinggal di sekitar rumah saya melihat ada dua orang anak kecil sedang bermain air sekitar jam empat dini hari. Saya hanya bisa berkomentar, ‘Masa’ sih, Mbak ada tuyul?’ Keyakinannya yang kuat akan makhluk yang invisible dan kekuatan gaib jahat yang menyertainya mau tak mau mempengaruhi akal sehat saya.

Dengan perasaan campur aduk saya telpon seorang teman tentang uang yang hilang dan keberadaan tuyul yang diyakini wanita tadi. Teman ini menyarankan saya berzikir dengan surah tertentu dengan jumlah tertentu. Memang kami jarang sholat di rumah, kecuali Subuh. Sholat Zuhur dan Ashar di tempat kerja atau sekolah masing-masing, sedangkan Maghrib dan Isya di mesjib depan rumah. Malam itu saya lakukan sholat Isya di rumah.

Hal lebih aneh saya dengar ketika menelpon ibu saya. Beliau meminta saya menyediakan perangkat tertentu dan meletakkannya di tempat tertentu. Tentu saja saya tak bersedia melakukan itu. Bagaimana kalau benar tuyul yang mencuri uang saya? Bagaimana kalau makhluk itu tertangkap mata saya? Iya kalau hanya berupa anak kecil normal yang ganteng. Kalau ternyata berupa makhluk menyeramkan dengan taring yang panjang atau cekikikan yang menyeramkan? Tanpa pikir panjang saya akan pindah rumah detik itu juga, atau paling tidak mengungsi ke tempat lain jika barang-barang belum sempat dipindahkan.

Sampai saat ini saya tak pernah menangkap keberadaan tuyul di sekitar rumah atau di mana pun. Jadi tak ada alasan untuk menyediakan bermacam alat yang disarankan ibu atau teman-teman. Apalagi kemudian saya mengubah cara menyimpan uang, tak pernah lagi ada kejadian uang hilang sejak dua minggu lalu.

Kesimpulan: Tuyul Hanyalah Dongeng Anak-Anak

Entah karena kebodohan saya, saya tetap menganggap makhluk itu sebuah dongeng untuk memperingatkan anak kecil agar hati-hati menyimpan uang dan tidak bermain dengan sembarang teman. Tapi kehilangan uang tanpa tahu pencurinya menjadikan saya agak paranoid. Uang yang biasanya saya simpan di koper, segera saya pindahkan ke bank padahal tentu saja tak efisien. Uang sisanya yang kurang dari sejuta, saya simpan dalam kantong plastik dan selalu saya bawa ke mana pun saya pergi. Bahkan tidur sekali pun. Biasanya saya masukkan dalam saku celana panjang. Kalau tidur, saya simpan uang di dalam celana dalam yang saya kenakan. Putra saya tertawa setiap kali melihat saya sibuk dengan plastik uang itu. Apalagi jika uang dalam plastik itu kemudian seringkali tertinggal di kamar mandi. Tanpa kehadiran tuyul pun, saya akan kehilangan uang lebih besar karena jadi sembarangan meletakkan uang.

22 March 2008 - Posted by | Opini | ,

19 Comments »

  1. Assalamualaikum…

    Saya selaku murid sekaligus manusia yang berkecimpung di ekstrakurikuler yang Anda bina, ingin memberi komentar tentang artikel yang Anda tulis (Uwwee.. Lebay!)

    Berbicara mengenai tuyul, dahulu kala di rumah lama saya, saya dan ketiga adik saya sempat dikagetkan dengan pengakuan para tetangga dan teman-teman yang pernah berkunjung ke rumah bahwasannya di teras rumah saya sering terlihat makhluk cebol tua yang hanya menggunakan (maaf) underwear kucel berwarna kusam. Para saksi mata pernah menyangka bahwa itu adalah adik saya yang paling kecil. Namun beberapa diantara mereka pernah melihat ‘makhluk’ itu berlari-lari di atas atap rumah. Semua penghuni rumah (kecuali Ayahanda saya tercinta) kaget. Bahkan Ibunda saya terkasih ingin melihat langsung ‘makhluk’ yang disebut-sebut itu. Karena bingung, saya hanya bisa bercerita dengan teman-teman di sekolah. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa (mungkin) itu hanyalah ilusi sesaat namun sebagian lagi mengatakan kalau ‘makhluk’ itu adalah TUYUL. (What?!)
    Sebenarnya saya bukanlah orang yang penakut. Saya juga seringkali tak menhiraukan peringatan-peringatan para tetangga untuk tidak berlama-lama duduk di teras rumah karena kabarnya dulu di rumah saya pernah ada orang yang gantung diri. ‘Tuyul’ itu semakin menjadi bahan hangat di sela pembicaraan setelah adik saya (sebut saja Husen) melihat sosok anak kecil berlarian dan bersembunyi di bawah meja makan. Sama seperti kebanyakan orang yang telah melihat sebelumnya, adik saya inipun menganggap kalau ‘apa’ yang baru saja ia lihat adalah adik saya yang paling kecil (sebut saja Habil). Dengan santainya ia menyibakkan taplak meja dan ups! Tidak ada adik saya atau apapun yang tadi merangkak ke bawah meja. Entah apa yang ada dibenaknya saat itu, yang jelas ia dengan santainya berlalu dan menganggap itu hanya ilusi sesaatnya. Kejadian aneh terulang lagi ketika uang sebesar 50ribu hilang begitu saja. Si pemilik (yang kebetulan adalah saya) tentu saja terkejut. Apalagi di masa itu (tahun 2002) nominal itu lumayan besar untuk saya. Heh! Dasar! Kenapa mesti uangku? Uang yang dengan susah payah dikumpulkan untuk membeli komik tercinta!

    *Maaf Ma’am, baterai laptopnya hampir habis. Insya Allah akan saya lanjutkan secepatnya. Memang bahasa saya terkesan bertele-tele. Saya juga menyadari kalau ini bukanlah gaya menulis saya. Namun saya harap Ma’am mau dengan ikhlas membaca komentar saya di sela-sela kesibukan Ma’am*

    Comment by KgoMe | 27 March 2008

  2. ditunggu kelanjutannya apalagi kalau true story beneran… ok?!

    Comment by wyd | 29 March 2008

  3. owh….

    Percaya nggak percaya.

    Comment by rocco90 | 29 March 2008

  4. percaya… ga percaya… percaya… ga percaya…🙂

    Comment by wyd | 29 March 2008

  5. hi all,

    sharing nih, saya lagi ngalamin hal yg sama, sudah lumayan besar uang yg hilang setelah ditotal,

    5 hari lalu, saya lakukan semua saran teman2 (dari tabur garam, baca doa nurbuat, pelihara ikan ++) eh, cuma tahan 5 hari, pagi ini hilang lagi selembar 50 ribuan.

    barangkali ada yg punya cara usir nya, jangan ragu email ke saya ya🙂

    terima kasih banyak sebelumnya

    salam,

    Comment by bimbi | 5 May 2008

  6. sejak pindah rumah, saya ga pernah lagi kehilangan duit. total yang hilang sejak sekitar november-desember 2007 sampe juli 2008 sebanyak 850 ribu. sayang banget yahhhh

    Comment by wyd | 26 August 2008

  7. Hi..
    saya juga mau sharing nich..
    beberapa bulan terakhir saya pernah mengalami uang yang ada di dompet selalu berkurang satu lembar. Awalnya saya menduga mungkin uang itu sudah terpakai oleh saya. Dan saya berusaha mengingat uang itu saya gunakan untuk membeli apa ya? Tp hasilnya saya yakin kalau saya belum mengeluarkan uang selembar pun dari dompet saya. Kejadian ini yang saya ingat dan tahu (krn msh ingat jumlah uang di dompet)sudah lebih dari 4 kali kejadiannya. Kehilangan selalu di rumah. Karena penasaran, tadi malam sebelum tidur saya hitung uang saya dlm dompet yg kebetulan cuma ada empat lembar seratus ribuan. Saya hitung sampai 3X utk memastikan. Nah! bangun pagi saya langsung buka dompet dan saya hitung : ternyata tinggal 3 (tiga) lembar!

    Comment by gozali | 30 October 2008

  8. dulu ibu kos saya suka senyum senyum sendiri dan bicara sendiri di malam hari. Penasaran saya tanya. Katanya dia lagi ketawa melihat para tuyul ini bermain main di halaman. Kadang dia suka ngingetin kalo bercandanya tuyul ini kebangetan. ” Ati ati…nanti jatuh lho…”
    Katanya si tuyul ini nurut nurut saja kalo di kasih tahu.
    walah…saya dan temen temen terkaget kaget.
    Ibu kos juga bilang kalo si tuyul tuyul ini suka tidur di kamar kami. haduuhhh…untungnya kok gak bisa lihat
    tapi menurutnya tuyul tuyul ini baik baik gak nakal.
    malah si ibu bilang kalo di kebun belakang yang luas disitu ada kerajaan tuyul.
    hari hari tertentu suka bermain main rame di halaman.
    Ada ratusan, jadi mirip taman kanak kanak gitu…katanya.

    Saya dan teman teman jadi gak lama nge kos disitu…
    meski gak mengganggu tapi kok gak nyaman…

    Comment by Datyo | 31 October 2008

  9. saya juga sedang bingung pak sering kehilangan nih gimana

    Comment by Winarto | 7 December 2009

  10. Saya juga Barusan Kehilangan uang 100rb lembaran… Saya agak sngaja juga, apakah ilang pa ngga… eh tnyata ilang jug… pdahal ad 50rbuan lain didompet tp ga ilang….. dan duit yg selama ini tak simpan lemari jug aman…. dilemari saya kasih kapur barus yang banyak… dan aman saja… ini cman inisiatif saya saja.. ntah bner bisa mengelabui tuyul ap ngga ak jug ngga tau…. hehehe… tp aman ko Insya Allah…. kjadian ini bkan saya saja… Ibu saya yang sring kehilangan, sedangkan saya bru sekali ini… awalnya saya ngga pcaya ibu saya kehilangan uang… sapa tau lupa… eh tnyata saya jug kehilangan…. Yach mgnkin inisiatif saya mmbri kapur barus bisa mengelabui tuyul kali ya… hehee…..

    Comment by Edy Mulyono | 16 August 2012

  11. Saya jg sering kehilangan uang dirumah tanpa jejak, bahkan tidak berubah sedikitpun tempat penyimpanannya, anehnya, uang hilang sdikit demi sdikit, lembar demi lembar stiap malam, adik saya kehilangan sampai juta’an rupiah,karna awalnya cma sdikit jg d sangka cma salah ngitung doang, alhasil raib jg uangnya dtmpat penyimpanan yg sangat rahasia.

    Comment by Budi | 4 July 2013

  12. mba koreksi ya dikit, untuk perempuan sholat dirumahnya adalah lebih baik dari pada sholat di masjid, sholat di ruangan di dalam kamarnya sendiri lebih baik dari sholat di ruangan lain di rumahnya

    Comment by Riri El Rose | 12 October 2013

  13. Wah ngri

    Comment by Amran | 24 December 2013

  14. Nga percaya munkin

    Comment by Amran | 24 December 2013

  15. Pngalamanku usir tuyul tu pakek bom, konsultasi lngsng hub 087753058581

    Comment by Mamat | 1 August 2014

  16. Betul2 saya mengalami
    saya punya uang 250.000 ketika saya tinggal jumatan uang tersebut berkurang 100.000

    Comment by PITGORJAYA LESEHAN TERBAIK DIBANYUWANGI | 20 February 2015

  17. seperti tidak percaya, tapi semenjak 6 bulan belakangan ini , saya juga sering kehilangan selembar, dua lembar seratus ribuan , 50.000 an juga pernah…rasanya gemas… tapi karena terus menerus saya jadi gerah… akhirnya saya tarik kesimpulan, jangan menaruh uang seratus ribuan atau 50.000 an di rumah, karena pernah saya pancing uang sepuluh ribu dan setumpuk 2.000 an tidak hilang sama sekali, jadi lebih aman saya menyimpan uang pecahan,… kehilangan uang disaat apapun kita pasti gak akan siap, jadi lebih berhati hati saja, karena masalah kehilangan uang ini bisa menimpa siapapun…semoga kita semua dikuatkan, tambah rajin beribadah dan beramal…dan semoga jika Tuhan berkenan kita semua gak kehilangan lagi ya…

    Comment by MARIA ELENA | 30 April 2015

  18. dalam beberapa bulan , ibu saya juga curhat kalo ibu saya kehilangan uang. dulu pas masih tinggal di rumah nenek, ibu saya kehilangan uang 150 ribu sekaligus. saat ibu cerita, saya menanggapinya mungkin ibu lupa menghitung, atau mungkin udah buat belanja. kemudian kami pindah ke rumah kami yg sekarang, dan kejadian itu terulang. awalnya uang ibu hilang 100 ribu. kemudian selang beberapa minggu hilang 100 ribu lagi.. dan kali ini ibu benar-benar yakin kalau itu tuyul. saya bertanya ke ibu saya “bu kalau tuyul yang ngambil, kenapa nggak diambil semuanya coba, itu kan kesempatan bagus”. alhasil sya curiga ke adik saya. tpi ibu nggak percaya. karena saya jadi bingung, saya baca sumber referensi di internet, dan ternyata kalau tuyul mengambil uang ternyata hanya selembar 100 ribu atau 50 ribu. dan ini menjadikan saya yakin, kalau uang ibu saya memang diambil tuyul..

    Comment by Anonymous | 10 May 2015

  19. tolong donk yg ngrti crax usir tuyul ksih tw kita neh karna saya selalu kehilangab duit di dompet ama kantong celana

    Comment by wawanwan | 3 July 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s