Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Blog Guru

Blog guru harus mencerminkan pelajaran yang diajarkannya. Wah, saya kaget sekali saat menerima kata-kata itu lewat SMS dari seseorang yang nomor ponselnya tak tersimpan di memori ponsel saya. Mulanya saya mengira orang itu mengirimkan SMS ke nomor yang keliru sehingga tak terlalu saya tanggapi apalagi untuk repot-repot membalasnya. Tapi saat mengetik sebuah naskah untuk blog saya, kata-kata itu kembali mampir di kepala saya. Blog guru harus mencerminkan pelajaran yang diajarkannya. Saya baca naskah yang sedang saya tulis untuk blog saya yang tak ada hubungannya dengan profesi keguruan saya padahal saya seorang guru kimia. Jangan-jangan si pengirim SMS tak salah alamat. Jangan-jangan SMS itu benar-benar ditujukan untuk saya, maksudnya ingin menyindir saya. Boleh jadi….

Apa blog guru harus mencerminkan mata pelajaran yang diajarkannya di sekolah? Saya dengan tegas akan menjawab: tidak! Bukan karena blog saya tidak mencerminkan atau ada bau-bau kimia padahal saya seorang guru kimia, itu alasan yang terlalu dangkal untuk membenarkan diri sendiri. Tapi apa hubungannya blog saya dengan profesi saya sebagai guru?

Alasan Mengapa Saya Tak Setuju

1) Saya tidak hidup 24 jam sebagai seorang guru.

Ini bukan argumentasi atas pernyataan orang lain yang menganggap sosok guru harus super ideal di mata semua orang dan harus menunjukkan sikap super idealnya setiap detik. Saya hanya manusia biasa yang tentu saja punya sisi kemanusiaan baik negatif maupun positif. Tanpa bermaksud menyuarakan sisi negatif dalam diri saya dan tanpa bermaksud melemparkan hal yang berdampak negatif pada anak didik saya jika kemudian saya membangun blog saya yang tak ada hubungannya dengan profesi saya sebagai guru. Saya tidak mau dianggap sebagai sosok ideal atau berpura-pura menjadi ideal padahal sedikit pun tidak terdapat sifat keidealan itu dalam diri saya, misalnya. Saya lebih suka orang menilai saya sebagai orang kebanyakan yang berprofesi sebagai guru. Jika ada sifat atau sikap baik saya yang dapat ditiru, silakan meniru. Tapi sebagai manusia biasa, saya tak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Apakah jika saya melakukan suatu kesalahan, saya harus meminta maaf pada semua orang hanya karena saya guru dan tak seharusnya melakukan hal itu? Itu bukan cara saya.

Selain sebagai guru kimia, saya juga seorang penulis. Beberapa tahun terakhir saya rutin menjadi penulis untuk membangun website komersial teman-teman di belahan dunia sana. Beberapa bulan terakhir saya juga menulis deadlined-online yang dibayar per lembar. Ini bukan uang yang membujuk saya ke jalan sana tapi hanya untuk memuaskan kehausan menulis dan menulis. Apa salahnya saya menuliskan sisi ini yang merupakan sisi lain dari kehidupan saya sebagai seorang guru? Meski tak bermaksud mengumbarnya untuk dibaca semua orang tapi saya tak keberatan orang lain mengetahuinya sehingga saya tertarik membangun blog saya sendiri sejak sebulan yang lalu yang murni saya tulis dan kelola sendiri sambil bertanya ke sana-kemari. Meski cenderung tak peduli dengan komentar atau jumlah pengunjung di blog saya, saya usahakan menyisihkan 1-2 jam setiap hari untuk menulis naskah di blog saya, biasanya sekitar jam 12 malam hingga jam 1 dini hari.

2) Bebaskan guru untuk berkreasi

Jangan pernah mematikan kreativitas orang lain atau berusaha memadamkan bara kreativitas itu. Karena hal itu tak pernah mungkin dilakukan. Jika dengan terpaksa lewat berbagai alasan dan latar belakang, kreativitas seseorang mati suri, itu bukan berarti mati untuk selamanya. Manusia akan terus berkreasi sepanjang hidupnya, tergantung apa bentuk kreativitasnya, bagaimana dilakukan, apa dampaknya, dan untuk siapa dilakukan. Ketika saya memilih mengembangkan kreativitas saya sebagai penulis fiksi dan menuangkannya ke dalam blog saya, itu artinya saya membebaskan diri saya untuk berkreasi sesuai yang diinginkan. Sepanjang hal itu tak merugikan orang lain, so what then?

21 March 2008 - Posted by | Blog | , , ,

16 Comments

  1. bener buu,,
    setuju 100% !!
    ya namanya hobi kok pandang2 profesi??
    rumus drmana tuh??
    hihihihih….

    Comment by viNNie | 22 March 2008

  2. Thx atas dukungannya.
    Thx juga udah menyempatkan diri untuk mampir.
    Lain kali tengak-yengok ke sini lagi siapa tahu ada berita soal 17. Sukses yah, Vin!

    Comment by wyd | 23 March 2008

  3. ah ternyata bukan saya saja yang mengalami hal ini, hihihi senang juga punya kawan senasib
    salam

    Comment by kangguru | 26 March 2008

  4. Sudah mampir..
    Kita mo ngapain di sini Ibu Guru??
    Minum Kopi kahh??

    Comment by Mr.LooG | 27 March 2008

  5. eh paling ga kenalin dirimu dulu. namamu Na…?

    Comment by wyd | 27 March 2008

  6. nama naD..
    Apa lagi yang Ibu Guru mo tau??
    Ntar sy beritahu..

    Comment by Mr.LooG | 27 March 2008

  7. wah, ibu ga perlu tau apa2 yang kamu ga mau kasih tau.
    semua orang yg kenal ibu pasti tau kalau ibu bukan seseorang yg mau tau urusan orang lain.

    cuma mungkin tadinya ibu kira kamu anak laki2 abis ada mr.-nya di depan nama. sorry abt it yah….

    thx udah mau mampir n kasih komen n kenal sama ibu.
    akan lebih senang kalau komentarmu soal apa yg ibu tulis.
    anyway… kamu boleh baca mana yg kamu mau atau tinggalin.
    kamu juga boleh kirim e-mail.

    once again… thx

    Comment by wyd | 28 March 2008

  8. Hm~jadi jika dak ada lagi yang ibu guru ingin tanyakan ttg data diri saya,saya akan beranggapan bahwa nama saya sudah cukup..

    Lha, kok sekarang Ibu Guru bisa beranggapan kalo saya cewek??

    Komentar mengenai tulisan Ibu Guru??
    Bukannya sudah di bab Stoikiometri itu??
    Lha Ibu Guru nya yang dak klarifikasi jawabansaya dah benar ato kagak..

    Kalo di tentang guru ini, lebih baik saya gak usah kmetar..Ntar kita debat-an lagi disini..Karena tampaknya cara saya menilai guru dak sama dengan cara Ibu Guru menilai guru..Ntar kalo ada topik yang pas baru saya komentarin..

    Comment by Mr.LooG | 29 March 2008

  9. Yah… agak janggal aja kalau nama anak cowok Nad bla bla bla…

    bukan caramu menilai guru yg berbeda dari ibu tapi caramu menilai orang lain.
    waktu anak2 di sekolah ibu membaca komentarmu di forum lewat link di sini, mereka bilang kamu pasti punya banyak pengalaman ga nyaman dengan sosok guru. mereka bilang, seandainya kamu sempat sekolah di tempat ibu mengajar (atau ibu sempat jd gurumu) mungkin pandanganmu akan berbeda tentang sosok guru.

    tp apapun penilaianmu tentang guru, dari kata2mu kamu pastilah siswa yg ‘manis’

    Comment by wyd | 29 March 2008

  10. wow. baru menyadari kalo ada Mr. LooG…

    *entah apa artinya itu*

    hehe

    Mr, dari bahasanya kok kayak gag enak ya…
    hehe

    *piss lo, no offense…

    Mr, kalo situ punya blog… bagi2 dumz…

    hehehe, biar bisa diskuss2….

    you sounds pretty ‘smart’

    /:)

    Comment by rocco90 | 29 March 2008

  11. Hi Co, mr.LooG mantan peserta olimpiade (jelas pinter dong!) yang gagal dapet emas di tingkat nasional dan dia nyalahin gurunya untuk kegagalan itu. Sayang ibu ga jelas ada apa sebenarnya….

    Kalau kamu sempat baca beberapa komentarnya di http://www.blogwyd.blogspot.com pasti yakin banget dia gadis yang manis dan enak diajak diskusi

    Comment by wyd | 29 March 2008

  12. I’ve checked your blog… in “stoikiometri” if i;m not mistaken….

    :::
    She is really2 smart….

    Kimia dumz…. wow.

    hahaha.

    *jadi ikut2 an spik inglish kan…
    hahahaha

    Comment by rocco90 | 29 March 2008

  13. pa kabar, yen?
    thx buat komentarnya

    jangan kapok mampir yahh….

    Comment by wyd | 12 June 2008

  14. Guru juga manusia…mungkin karena judul blog ini mengandung kata kimia, maka orang tersebut merasa perlu mengkritik sampeyan. Tapi EGP saja…
    wong ini blog blog sampeyan sendiri..mau maunya anda diisi apa saja.
    setuju ?

    Comment by Dat | 24 August 2008

  15. iya, saya juga pernah mengalami seperti ini, ditambah lagi gak pantas lulus sertifikasi. WEH kaget aku, setelah kupikir-pikir memang aku gak pantas lulus sertifikasi, coba bayangin, guru kimia kok ngajar seni, bahasa indonesia, matematika, TIK,malah pernah uruh ngajar baha inggris segala. waktu itu saya mau karena ingin belajar yang lain dan ketika ditawarkan yang lain pada gak sanggup. Lha apa siswa gak usah diajar? maklum di kalimantan tengah jadi sering kekurangan guru. Lalu ketika lulus ada yang ngomel-ngomel, gitu kok lulus sertifikasi, gak profesional itu

    Comment by budisan68 | 21 October 2008


Sorry, the comment form is closed at this time.