Bodohnya Terdeteksi

2013-09_EURORDIS_photo_contestPutra saya mengadu bahwa dia dipukuli temannya. Memang temannya berbadan jauh lebih besar, sementara putra saya bertubuh minimalis. Air mata saya hampir menetes tapi saya kuatkan hati agar dia tidak tumbuh menjadi laki-laki cengeng.

Saya: Di bagian mana dia memukulimu?

Putra saya menunjuk betis, paha, perut, dada, dan kedua tangannya.
Dia juga menendang perut saya dan memukul paha saya dengan kayu, katanya sambil meringis kesakitan.

Dengan segera saya mengobatinya dengan menempelkan perban di kening dan kepalanya.

Putra saya kemudian mengucapkan terima kasih kepada anak yang memukulinya karena tidak dipukul sampai meninggal.

Sulitnya Menjadi Juri yang Adil

Suami yang akan berpoligami hanya dibebani 1 syarat, yaitu bersikap adil. Mengapa adil menjadi satu-satunya syarat? Karena adil itu suliiiiiittt sekali. Keadilan itu bukan hanya berdasarkan bagaimana penilaian orang lain tetapi juga bagaiman sikap adil itu ditempatkan.

Berikut ini pengalaman saya.

Putra saya, Mono, ikut kontes musik. Berbekal kepiawaian saya memainkan beragam instrumen musik, saya didaulat menjadi salah satu juri. Saya merekomendasikan beberapa kolega sebagai juri. Kontes pun menjadi ajang silaturahim bertemu teman-teman komunitas musik.

Acara berlangsung seru dan meriah. Beberapa peserta mempunyai bakat dan kemampuan di atas rata-rata. Putra saya termasuk salah satunya.

Continue reading “Sulitnya Menjadi Juri yang Adil”

Sebuah Ironi Setelah Pesta Besar

Saya (kami) baru saja menghelat pesta ulang tahun pernikahan Opa-Oma yang ke-60 tahun. Siapa yang tidak bangga dengan pernikahan yang ke 60, jarang-jarang bisa terjadi, apalagi di rumah tangga modern sekarang. Meskipun Opa adalah pemilik kerajaan bisnis yang super sibuk tetapi tetap family man. Karena itu, layak diapresiasi.

Fire party

Kebetulan saya cucu laki-laki pertama dari putra pertama, maka keluarga sepakat mengangkat saya menjadi pemimpin. Saya memutuskan penyelenggaraan pesta besar-besaran. Pesta besar nan meriah. Makanan berlimpah, undangan super indah, venue megah, seragam mewah, bahkan make up untuk keluarga besar dipercayakan pada 2 salon ternama. Instruksi saya hanya satu: semua harus perfecto. Zero tolerance.

Continue reading “Sebuah Ironi Setelah Pesta Besar”

Fitnah terhadap Sang Ustadz

Dibandingkan Ustadz Abdul Somad (UAS), Ustadz Adi Hidayat (UAH) telah lebih dulu memberikan signal dukungan. UAS terkesan sangat menjaga kata-katanya bahkan berulang kali mengatakan bahwa beliau tidak pernah menyebut nama, tidak pernah menyebut partai, tidak pernah menyebut angka.

Saya bukan fans UAS maupun UAH. Saya melihat video-video mereka sebagai materi self reminder dalam beribadah. Secara akidah, saya mungkin lebih dekat dengan UAH dibandingkan UAS. Tetapi hal itu tidak pernah menjadi halangan untuk saya menghormati mereka, sebagaimana saya menghormati para ulama dan ustadz-ustadz. Kerendahan hati, sopan bertutur kata, tingginya ilmu, ketaatan kepada Allah dan Rasullullah, kesederhanaan, dan berjuta pujian lain yang bisa saya berikan pada keduanya sebagai alasan menghormati mereka. Terlebih, mereka tidak pernah menganggap diri mereka sebagai ulama, tetapi bangga disebut ustadz (guru dalam bidang agama).

Continue reading “Fitnah terhadap Sang Ustadz”

Ketika UAS Memutuskan Bicara

UAS Prabowo

Ustadz Abdul Somad (UAS), ustadz kondang yang mampu menghadirkan jutaan orang saat beliau berceramah di suatu tempat. Berdasarkan video-video ceramahnya, beliau adalah ustadz yang santun dalam berkata, keras dalam akidah, netral dalam menerjemahkan perbedaan umat. Ustadz-ustadz seperti ini jumlahnya tidak banyak sehingga saat mereka diizinkan Allah hadir di antara segolongan umat yang mau membuka hati, umat akan menyambutnya dengan sukacita.

Untuk alasan pribadi, saya bukan fans UAS, tetapi saya sangat menghormati sosoknya sebagai ustadz.

Namun saat sebuah clickbait video bergambar Pak Prabowo dan UAS muncul di home YouTube saya, pilihan saya cuma satu: klik video. Saya cukup terkejut akhirnya UAS membuka diri tentang siapa yang dipilihnya, namun saya mengerti kemudian mengapa beliau bersedia menyambangi Pak Prabowo. Continue reading “Ketika UAS Memutuskan Bicara”

Bible Bertinta Merah

Red letter version https plattsville churchBible (Injil) dan kitab-kitab suci lainnya sama seperti buku-buku lain, umumnya dicetak menggunakan tinta hitam. Yang dimaksud Bible bertinta merah adalah Bible yang dicetak menggunakan huruf-huruf berwarna merah, selain hitam. Kalimat-kalimat yang dicetak merah adalah perkataan-perkataan yang keluar dari mulut Jesus atau diucapkan oleh Jesus. Mengapa memilih warna merah, bukannya biru atau kuning, atau warna lain? Saya tidak tahu pasti tetapi saya mempunyai pendapat sendiri untuk hal ini.

Continue reading “Bible Bertinta Merah”

A Joke of Pilpres 2019

01 02
Tadi di kelas saat belajar larutan sukar larut.
Saya memberikan contoh 2 kasus sambil menggambarkannya di papan tulis.
Kasus 1: Gelas berisi air ditambahkan 100 gram garam dapur.
Kasus 2: Gelas berisi air garam ditambahkan 100 gram garam dapur.
Lalu saya ajukan pertanyaan: Pilihlah di gelas mana garam dapur akan lebih mudah larut? 1 atau 2?

Hening. Tidak ada jawaban. Siswa-siswa terlihat berbisik sesamanya.
Saya cukup heran karena biasanya siswa-siswa sangat antusias menjawab.
Mungkin siswa-siswa belum mengerti permasalahannya, mungkin perlu penggunaan bahasa lebih sederhana, pikir saya.

Continue reading “A Joke of Pilpres 2019”

Mempertanyakan Nasionalisme Presiden

Inti awal saya adalah pesimistis dan apatis terhadap pemerintah sehingga saya berpuluh tahun memilih golput. Tetapi entah mengapa saya tertarik mengikuti debat capres 30 Maret 2019 walaupun tidak secara keseluruhan.

Satu hal yang membuat saya terkejut adalah betapa ringannya jawaban Pak Jokowi terhadap masalah keamanan dan kedaulatan negara. Saya yang awam terhadap masalah ini masih mengerti bahwa pelabuhan dan bandara adalah objek vital yang tidak boleh diserahkan kepada asing. Satu saja bandara atau pelabuhan laut dikuasai asing maka akan sulit memantau masuknya potensi kekuatan asing ke negara ini.

Continue reading “Mempertanyakan Nasionalisme Presiden”

Golput Lagi?

Pilpres 2019 tinggal menghitung minggu. Nomor 01 untuk capres petahana Joko Widodo (Jokowi) dan cawapres Amin Ma’ruf dan 02 untuk capres Prabowo Subiyanto dan cawapres Sandiaga Salahuddin Uno.

Saya belum pernah bersua atau berdialog dengan para pasangan calon tersebut kecuali dengan Pak Jokowi di suatu forum sekian tahun lalu.

Karena tv tidak lagi menjadi media informasi bagi saya sejak 4 tahun lalu, maka informasi mengenai pasangan calon presiden dan wakil presiden hanya saya peroleh dari media digital.

Nasional-Kompas.com Continue reading “Golput Lagi?”

Darah Cina pada Prabowo Subiyanto

facebook.com prabowosubianto
Tidak ada sumber lain kecuali Wikipedia (yang tentu saja kurang terpercaya sebagai sumber ilmiah) yang dapat digunakan untuk menelusuri hubungan Prabowo Subiyanto Djojohadikusumo dengan garis kekeluargaannya yang berdarah Cina (sekarang disebut Tionghoa tetapi saya lebih suka menyebutnya Cina karena kebiasaan).

Ayahnya bernama Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo yang lebih dikenal sebagai Profesor Soemitro yang digelari begawan ekonomi Indonesia. Kata lain semakna dengan begawan adalah rajanya raja atau the best of the bests. Profesor Soemitro terlahir dari ayah Raden Mas Margono Djojohadikusumo pendiri Bank Negara Indonesia yang sekarang dikenal sebagai Bank Indonesia, dan ibu Siti Katoemi Wirodihardjo.
Continue reading “Darah Cina pada Prabowo Subiyanto”

Tolong Tunjukkan Saya Jalan ke Surga

Salah satu jalan ke surga adalah menyantuni anak yatim. Riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Saya dan orang yang memelihara  anak yatim di surga, seperti ini (sambil merenggangkan jari telunjuk dan jari tengah).” Artinya, orang-orang yang menyantuni anak yatim semasa hidupnya di dunia akan menjadi tetangga Rasulullah di surga kelak.

Salah satu jalan yang bisa saya lakukan adalah menyantuni anak-anak yatim. Jadi, jika ada informasi tentang anak-anak yatim yang membutuhkan sesuatu, tolong sampaikan informasi itu kepada saya.
Continue reading “Tolong Tunjukkan Saya Jalan ke Surga”

(Insha Allah) Bertemu Ramadhan Berikutnya

Sekian tahun lalu saya menuliskan artikel Apa Ramadhan Istimewa? No Way! Maksud saya saat itu hendaknya setiap Muslim menjadikan setiap hari sebagai Ramadhan, untuk menghindarkan diri dari mencari-cari alasan atas penyimpangan yang dilakukan. Tetapi hari ini setelah menjadi semakin berumur (berharap makin bijak), saya mengkuatirkan beberapa hal tentang tulisan tersebut.
Pertama, saya kuatir ada pembaca yang salah mengerti. Misalnya dengan beranggapan bahwa saya menentang Ramadhan sebagai bulan paling istimewa di antara 12 bulan. Saya kuatir pembaca tersebut mengutuk saya atas tulisan yang disalahpahami.
Kedua, saya sangat kuatir ada pembaca yang beranggapan bahwa Ramadhan sebagai biasa-biasa saja dan mendapatkan penguatan setelah membaca tulisan saya. Artinya, saya telah membukakan jalan sesat bagi orang lain. Na’uzubillah….
Ketiga, meski blog bukan lagi media yang sering dikunjungi oleh pembaca online, saya kuatir tulisan lama saya memberikan efek negatif, meski sedikit, kepada orang lain.

Karena itu, saya menurunkan tulisan ini, untuk meluruskan apa yang saya maksud dalam tulisan lama tersebut.

Continue reading “(Insha Allah) Bertemu Ramadhan Berikutnya”

Jangan Katakan Ini pada Orang yang Akan Bunuh Diri

http://www.psychicsuniverse.com/articles/home-family/difference-between-helping-and-giving
Bunuh diri bukanlah keputusan sesaat. Buat pelaku, itu jalan terakhir yang bisa dipikirkannya. Jika ada saudara atau teman atau siapa pun mengatakan (meskipun terkesan main-main) bahwa dia akan bunuh diri, jangan sampai Anda mengatakan hal yang mendorongnya melakukan itu lebih cepat. Berikut beberapa hal yang jangan pernah dikatakan kepada orang yang berniat bunuh diri.

1. Itu perbuatan bodoh dan pengecut.

Continue reading “Jangan Katakan Ini pada Orang yang Akan Bunuh Diri”

Salahkah Jika Menyerah?

Darah ada hampir di setiap sudut ruang ke mana pun saya menatap. Sama seperti ketika sekian belas tahun lalu saya melihat darah segar saya mengalir di antara air sisa mandi. Tapi kali ini terlihat lebih kental. Saya melihatnya lebih sering di tangan saya. Kadang menciprati pakaian yang saya kenakan.

Saya dapat mendengar semua kata-kata, makian, dan kemarahan yang dikeluarkannya dengan jelas, meski itu telah sekian belas tahun berlalu. Situasi itu masih bisa membuat saya menangis hingga hari ini. Andaikan saya menangis saat itu, mungkin saya tidak perlu menangis sesudahnya. Andaikan saya berargumentasi untuk membela diri saat itu, mungkin saya tidak perlu mendengar kata-katanya hingga hari ini.

Continue reading “Salahkah Jika Menyerah?”

Berpotensi Bunuh Diri (1)

Ini bukan cerpen atau versi fiksi lainnya.

Bergegas saya bangun dari tempat tidur menuju halaman belakang. Sesosok tubuh tergantung di langit-langit bagian belakang rumah. Wajahnya pucat. Tubuh saya tergantung tak bernyawa. Saya tiba-tiba merasakan kedinginan. Tubuh saya benar-benar tergantung di halaman belakang. Trus, siapa yang sedang mengamati tubuh yang tergantung? Itu saya!

Itu kejadian pertama di mana saya melihat saya menggantung diri saya sendiri. Saya tidak sedang tertidur. Saya sudah bangun. Saya melihat dengan mata kepala sendiri. Tetapi saat saya mengamati tubuh saya yang sedang berdiri kedinginan, dan kembali mencoba melihat tubuh saya yang tergantung, tubuh itu tidak ada lagi di sana. Hilang dalam hitungan detik. Entah ke mana.

Continue reading “Berpotensi Bunuh Diri (1)”