Oh, Sh*t! God D*mn It! Hell!
NB: Tulisan ini untuk mengingatkan para orang tua yang ingin anaknya bisa berbicara bahasa asing dengan baik dan benar agar memfasilitasi putra-putri mereka mengenal bahasa tersebut dari lingkungan yang ‘benar’, misalnya lingkungan pendidikan.
Judul hanya perwakilan beberapa kata yang pernah saya lontarkan. Kalau dalam kehidupan sehari-hari kayaknya no problemo-lah. Masalahnya saya ucapkan itu di sela-sela pembicaraan saat sedang menjadi pembina upacara hari Senin pagi!
Reaksi anak didik saya sih udah bisa ditebak: cekikikan! Baca selebihnya »
Berita Terkini SMA Plus Negeri 17 Palembang
Tulisan ini akan terus di-update sesuai dengan keperluan.
UPDATE 4 MARET 2011:
Pengumuman tes tahap 2 Penerimaan Siswa Baru SMA Plus Negeri 17 Palembang dapat dilihat di sini mulai hari ini tanggal 4 Maret 2011 pukul 14.00 WIB. Caranya dengan memasukkan nomor tes siswa pada bagian ‘PENGUMUMAN PSB’.
Selamat untuk anda yang dinyatakan lulus. Sampai jumpa di tes tahap 3.
Update 28 Januari 2011:
INFORMASI SELEKSI PENERIMAAN SISWA BARU (PSB)
SMA PLUS NEGERI 17 PALEMBANG
TAHUN PELAJARAN 2011/2012
Pendaftaran
Kamis, 17 Februari 2011 sampai dengan Kamis, 24 Februari 2011, Pukul 07.30-15.00 WIB
Baca selebihnya »
Guru Mendidik Anak Menjadi Koruptor
Jika anda menghampiri sekumpulan orang dan bertanya di bidang apa Indonesia dikenal dunia, mungkin akan banyak yang menyatakan: korupsi. Berbeda dengan beberapa dekade lalu di mana orang akan cepat menyatakan bulutangkis
atau penduduknya yang ramah atau Bali yang eksotis. Tak heran kemudian kita mengenal KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) yang malah kadang tidak ditempatkan pada porsi sebenarnya. Misalnya, saat Habibie menjadi presiden, banyak suara berkeberatan putra beliau menjabat kepala BPPN karena dianggap nepotisme. Padahal secara struktural maupun skill, putra beliau layak menduduki jabatan itu. Puluhan tahun di era kepemimpinan Soeharto, negara asing menjuluki the first lady Indonesia sebagai Mrs. Ten Percent. Ironis sekali, padahal sang presiden adalah tokoh yang cukup disegani kawan maupun lawan di panggung politik luar negeri. Saat Megawati menjadi presiden, di kota saya beredar rumor bahwa suap-menyuap yang notabene sanak familinya korupsi, tidak lagi dilakukan di balik amplop, tapi di penerima suap akan menentukan jumlah setoran yang diinginkannya. Kasarnya, korupsi adalah tindakan lazim dilakukan anak negeri ini. Pembentukan KPK (Komite Pemberantasan Korupsi) yang sampai saat ini terus menyeret korban-korban baru, adalah bukti kekuatiran anang bangsa atas mengguritanya korupsi di negeri ini.
Bukan karena secara garis keturunan tidak memiliki kerabat untuk diajak kolusi, saya memilih bersikap anti pati terhadap KKN, terutama korupsi. Baca selebihnya »
Menjadi Pengecut Adalah Pilihan
Pernah menemukan hal-hal yang patut dipertanyakan tapi ga mendapatkan jawaban meski telah mengeluarkan sekian puluh pertanyaan?
Pernah merasa seseorang menyembunyikan sesuatu tetapi ga bisa mengungkapkannya apakah benar ada yang disembunyikan?
Lelah rasanya dipertontonkan hal-hal semacam itu di sekitar saya. Cuma bikin capek kuping mendengar uraian panjang lebar tapi ga satu pun yang secara esensi menyinggung apa yang dibahas. Ga ubahnya berjalan muter-muter percuma padahal jalan pintas ada di depan mata.
Saya ingin punya keberanian untuk bukan sekedar berkata-kata tapi juga bertindak. Tapi semua itu hanyalah ‘keinginan’. Artinya saya ga pernah menggerakkan tangan untuk menyumbat mulut yang mengumbar kebohongan. Saya ga pernah mengirimkan telapak tangan untuk menggampar mulut yang menjual nama Tuhan tapi ngacir duluan saat dimintai pertanggungjawaban. Seperti kebanyakan orang lainnya, saya memilih menjadi pengecut yang hanya menonton. Saya hanya berani bilang salah adalah salah pada si pelaku tapi ga berani mengambil sepotong kayu dan menghantamkan ke tubuhnya untuk menyadarkannya. Padahal saya punya tangan, saya punya kayu yang siap dihantamkan. Hanya saja tidak melakukannya! Pengecut adalah sebutan yang sesungguhnya untuk orang-orang seperti saya, yang membiarkan (mungkin malah menikmati!) berbagai bentuk kezaliman dan kemaksiatan berlangsung di depan hidung saya. Kepengecutan itu membuat saya hanya mampu berkata tapi tidak bertindak. Kata-kata, bagaimana pun kerasnya, kadang kala tidak bekerja sama sekali. Baca selebihnya »
Guruku Teladanku
Beberapa hari lalu saya berbicara dengan seorang gadis dari Maryland tentang hari-hari buruknya di sekolah. Saya berharap dia dapat mengatasi masalahnya sesegera mungkin. Boleh jadi hari-hari buruk itu akan menjadi kenangan teramat manis di masa dewasanya. Seperti saya lewati masa-masa sekolah dulu. Meski apa yang telah terjadi ga bakalan bisa diubah. Tapi kalau saya diminta mengalami kejadian itu dengan pikiran saya sekarang, tentu tanggapan saya akan jauh berbeda
Pak Guru? Keciiillll…!
Guru matematika saya di SMA posturnya imut. Satu hari kami berselisih soal siapa yang harus bertugas menjadi ini dan itu dalam upacara. Pak guru menuliskan nama saya sebagai salah satu petugas padahal saya udah berencana bolos sekolah hari Senin depan. Karena pak guru ngotot, saya juga ga mau kalah.
‘Pak, emang Bapak ga tahu kalau saya karateka? Saya jago berantem loh! Kalau cuma segede-gede Bapak sih… keciiilll…!’ kata saya sambil pasang kuda-kuda. Baca selebihnya »
Tendang Aja Kalau Saya Menyimpang!
Pada beberapa teman baik yang saya yakin dan percaya ga sudi melihat saya berubah buruk atau kepleset ke jurang kesalahan, saya selalu wanti-wanti untuk mengkritik saya kapan pun saya melakukan kesalahan atau menyimpang. Dan kalau saya masih keras hati alias tetap lebih suka menyimpang, mereka boleh menjewer kuping saya, atau kalau perlu mendaratkan tendangan keras. Saya takut menyimpang dari jalan kebenaran apalagi jika melakukan itu dengan kesadaran dan perasaan bangga.
Puluhan tahun saya hidup dalam dunia yang ga banyak orang pernah melaluinya. Belasan tahun bahkan mungkin puluhan tahun saya lalui ga ubahnya kedelai-keledai yang meletakkan jiwanya di telapak kaki. (Saya sulit membedakan keduanya. Dan lagi malas nyari di google. Jadi saya tulis keduanya)
Bayangkan, keledai-kedelai sudah cukup mewakili binatang terbodoh di jagat ini, dan jiwa yang seharusnya mengendalikan semua anggota tubuhnya diletakkan di tempat terendah yang terinjak-injak setiap saat (kecuali keledai-kedelai yang senang bersepatu!) bahkan ga bisa memilih mana tempat yang layak diinjak dan mana yang seharusnya dilangkahi. Saya ga lebih baik dari itu! Baca selebihnya »
Saya (Ga Layak Jadi) Guru
Status kepegawaian saya, jelas saya guru sekolah menengah. Saya mengajar kimia. Menjadi guru -meski bukan cita-cita awal, saya ingin jadi penjaga pantai atau jurnalis waktu kecil- adalah salah satu bagian hidup yang harus saya jalani. Herannya hampir ga ada orang yang baru kenal akan percaya bahwa saya guru. 
Saat anak saya masih TK, saya malah ditertawai beberapa orang tua teman-teman anak saya, waktu salah satu ibu menanyakan apa saya akan ikut tes penerimaan guru SMA sebentar lagi. Memang saya hampir ga pernah nimbrung ngerumpi. Selesai mengantar anak, saya akan langsung pulang.
‘Mana bisa tamatan SMP jadi guru. Minimal sarjana,’ celetuk salah satu ibu yang ikut mendengarkan.
Padahal saat itu saya sarjana dan udah kerja, meski bukan sebagai guru. Baca selebihnya »
Say Bye to Room Mates (5)
Ini bagian terakhir. Don’t be worry (be happy!) about any comment which may come to you because of your ‘nice’ photos
Say Bye to Room Mates (4)
Mau mengenang yang indah di asrama, terutama sehari sebelum meninggalkannya? Mungkin foto-foto bisa berikut membantu….

Baca selebihnya »
Say Bye to Room Mates (3)
Belum juga nemu foto kalian di bagian 1 dan 2? Siapa tahu ada di bagian ini….

Say Bye to Room Mates (2)
Ini parade foto bagian kedua. Ada ga fotomu di sini? Let’s check it out, guys…!
Say Bye to Room Mates (1)
(Tulisan ini didedikasikan untuk anak-anak tercinta yang tinggal di asrama SMA Plus Negeri 17 Palembang selama tahun pelajaran 2007-2008 dengan segala suka-dukanya)
Tulisan ini datangnya amat telat karena dua hal. Pertama, waktu yang ga tersedia untuk menuliskannya meski semua udah di dalam kepala. Yang kedua, karena ga mudah upload dan menyusun ratusan foto di sini. Tapi mendingan telat dibandingkan ga ada referensi tentang itu sama sekali, kan? Agar ga terlalu ‘berat’ (maklum koneksi internet suka lelet!) maka parade foto dibagi dalam beberapa postingan.
Ok, here we go…. Baca selebihnya »
Kehidupan di Asrama: Hukuman, Perlukah?
Asrama SMA Plus Negeri 17 Palembang adalah tempat tinggal wajib bagi siswa-siswi kelas X. Tahun pelajaran 2007-2008 saya diminta kepala sekolah menjadi koordinator asrama. Pada awalnya saya menertawakan permintaan itu –ga sopannya, saya lakukan itu langsung di depan kepala sekolah! Yah, rada-rada kurang etika kelihatannya.
Tetapi karena kesediaan saya ditanyakan berulang kali oleh beliau, dan dengan iseng saya ceritakan pada putra saya -dan ajaibnya dia setuju!- akhirnya saya bersedia mempertimbangkan permintaan beliau. Seperti biasa sebelum menerima sebuah tugas, saya selalu mengukur kemampuan saya, mempelajari tugas tersebut hingga detil kecil, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan saya hadapi atau saya jalankan. Baca selebihnya »
Ketika Guru Melakukan Tindak Kekerasan pada Siswa
(Tulisan ini keluar dari hati sanubari saya yang terdalam karena raca cinta kasih yang tulus untuk seorang siswa yang sudah saya anggap anak saya sendiri. Saya tidak peduli apa pun anggapan orang tentangnya dan latar belakangnya sebelum dan sesudah kejadian ini. Rasa sayang saya padanya tidak akan pernah berubah. Doa-doa untuk kesuksesannya agar kelak menjadi manusia yang bisa berdiri membusungkan dada dan dengan bangga mengatakan dia adalah orang yang pantas dihormati, karena sikap dan perbuatannya yang mencerminkan pribadi yang layak menerima segala bentuk penghormatan dari sesamanya. Itu yang saya selalu doakan untuknya dan juga anak-anak lain yang saya cintai tanpa pamrih. Dia dan semua anak di dunia ini adalah amanah Tuhan yang harus dididik dengan cinta kasih yang tulus. Baca selebihnya »
Pertanyaan Seputar SMA Plus Negeri 17 Palembang
Untuk beberapa SMS atau pun pertanyaan langsung yang sempat masuk ke nomor ponsel saya, entah nyasar entah dengan kesungguhan hati bertanya, juga pertanyaan-pertanyaan sejenis yang beberapa kali masuk ke blog ini maka saya sengaja menuliskan judul seperti di atas. Baca selebihnya »
Gelar Gelar Gelar
Tengoklah deretan panjang di depan dan belakang nama seorang praktisi akademisi. Nama boleh sepotong tapi gelar akademik plus gelar keagamaan berbaris mengikuti. Hal itu yang akan saya bahas kali ini. Seperti biasa, siapa pun berhak berbeda pendapat dengan pendapat yang saya tulis di sini. Dan seperti biasa saya hanya menuliskan pandangan saya tanpa bermaksud menggurui atau bahkan mempengaruhi pendapat orang lain agar menyetujui pendapat saya.
Gelar Akademik dan Jabatan
Jumlah orang Indonesia yang bergelar akademik, baik S-1, S-2, maupun S-3 sudah tak terhitung jumlahnya, baik tamatan luar negeri terlebih dari berbagai perguruan tinggi dalam negeri. Herannya kebiasaan menuliskan berbagai gelar akademik itu tak surut ditelan waktu. Dulu saya berpikir kebiasaan itu hanya muncul karena jumlah orang yang menyandang gelar tersebut masih dapat dihitung dengan jari. Tapi nyatanya tidak. Baca selebihnya »
Menerbitkan Majalah Sekolah Layak Jual
Majalah sekolah dapat dijadikan maskot sekolah selain untuk melakukan publikasi berbagai kegiatan positif sekolah, melaporkan berbagai kendala yang dihadapi manajemen sekolah dalam usaha meningkatkan kualitas sekolah secara keseluruhan, sekaligus mempromosikan dan memsosialisasikan berbagai program sekolah. Sayangnya banyak majalah sekolah tak dikelola secara profesional. Saya telah memperhatikan beberapa majalah sekolah yang telah terbit secara teratur, dimulai dari tata letak sampai ke isi majalah. Baca selebihnya »
Blog Guru
Blog guru harus mencerminkan pelajaran yang diajarkannya. Wah, saya kaget sekali saat menerima kata-kata itu lewat SMS dari seseorang yang nomor ponselnya tak tersimpan di memori ponsel saya. Mulanya saya mengira orang itu mengirimkan SMS ke nomor yang keliru sehingga tak terlalu saya tanggapi apalagi untuk repot-repot membalasnya. Tapi saat mengetik sebuah naskah untuk blog saya, kata-kata itu kembali mampir di kepala saya. Blog guru harus mencerminkan pelajaran yang diajarkannya. Saya baca naskah yang sedang saya tulis untuk blog saya yang tak ada hubungannya dengan profesi keguruan saya padahal saya seorang guru kimia. Jangan-jangan si pengirim SMS tak salah alamat. Jangan-jangan SMS itu benar-benar ditujukan untuk saya, maksudnya ingin menyindir saya. Boleh jadi….
Apa blog guru harus mencerminkan mata pelajaran yang diajarkannya di sekolah? Saya dengan tegas akan menjawab: tidak! Bukan karena blog saya tidak mencerminkan atau ada bau-bau kimia padahal saya seorang guru kimia, itu alasan yang terlalu dangkal untuk membenarkan diri sendiri. Tapi apa hubungannya blog saya dengan profesi saya sebagai guru? Baca selebihnya »
SMA Plus Negeri 17 Palembang (Bag 2)
Tanggal 17 dan 18 Maret 2008, calon siswa dan orang tua calon siswa baru SMA Plus Negeri 17 Palembang melakukan wawancara secara terpisah. Hal ini merupakan rangkaian seleksi Penerimaan Siswa Baru (PSB) di sekolah itu. Dari daya tampung 230 siswa baru yang direncanakan, 300 orang
calon siswa baru dipanggil untuk melakukan tes wawasncara setelah mereka melakukan tes tertulis berupa tes akademik dan tes potensi akademik pada hari
Minggu tanggal 9 Maret 2008 yang lalu. Secara terpisah, OSIS SMA Plus Negeri 17 Palembang pada hari Kamis tanggal 7 Maret mengadakan Try Out untuk para calon siswa, yang terbuka untuk umum.
Antusias para orang tua di propinsi Sumatera Selatan untuk menitipkan pendidikan putra-putrinya di sekolah tersebut terlihat makin besar dari tahun ke tahun. Pergantian kepala sekolah sebagai pimpinan tampaknya tidak berpengaruh terhadap antusias masyarakat. Isu dan berbagai cerita negatif tentang sekolah, pimpinan, maupun SMA Plus Negeri 17
Palembang sebagai sebuah lembaga utuh yang sempat dan terus-menerus ditiupkan ke arah sekolah tampaknya tidak menggoyahkan kepercayaan masyarakat bahwa SMA Plus Negeri 17 Palembang adalah SMA terbaik di Sumatera Selatan. Meskipun pesaing baru bermunculan, berupa sekolah-sekolah plus negeri maupun swasta di kota Palembang secara khusus dan propinsi Sumatera Selatan secara umum, SMA Plus Negeri 17 Palembang terus berusaha memperbaiki diri secara kelembagaan agar tetap memperoleh kepercayaan masyarakat. Peran stage holder bagi sekolah ini dikembangkan dengan baik untuk menunjang berbagai kegiatan sekolah, baik intern maupun ekstern. Baca selebihnya »
SMA Plus Negeri 17 Palembang (Bag 1)
Rencananya tulisan ini dibuat dalam dua bagian. Ini yang ada di kepala saya saat tangan saya mulai mengetikkan huruf demi huruf tentang sekolah tempat saya mengajar, SMA Plus Negeri 17 Palembang. Tulisan yang sedang anda baca ini adalah bagian yang pertama. Bagian ini tentang asrama SMA Plus Negeri 17 Palembang. Saya sengaja menuliskan tentang asrama di bagian awal, mengingat banyaknya permintaan orang tua siswa untuk diperbolehkan menjenguk asrama putra-putrinya, selain untuk memenuhi keingintahuan calon siswa-siswi SMA Plus Negeri 17 Palembang beserta orang tuanya. Baca selebihnya »







