Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Pilih 1, 2 atau 3???

Ulasan berikut sama sekali ga politis banget. Tapi mungkin apa yang saya rasakan juga dirasakan banyak orang yang123 akan menggunakan hak pilihnya di Pilpres bulan depan. Jika di Pileg banyak yang enggan menggunakan hak pilihnya, kayaknya di Pilpres jumlahnya akan sedikit berkurang.

Sebelum nama-nama pasangan calon presiden dan calon wakil presiden diumumkan, saya rada ga susah memutuskan siapa yang akan saya pilih. Karena waktu itu, sosok SBY cukup oke di mata saya untuk meneruskan apa yang sedang dibangun bangsa ini. Tapi setelah nama-nama pasangan pemimpin itu diumumkan, dan terutama setelah kampanye mulai berjalan, saya malah bimbang.

Saya bukan tipe orang yang suka melihat pemimpin menyindir orang lain tanpa berani menyebutkan nama. Dan sayangnya itu dilakukan SBY akhir-akhir ini. Kalau Megawati yang melakukannya, saya agak-agak maklum, biasa… perempuan! Kelambatan dan keraguan SBY sebagai presiden dalam menangani beberapa kasus yang dihadapi bangsa ini, juga antara lain alasan saya menengok kandidat lainnya. Baca selebihnya »

12 Juni 2009 Posted by | Opini | , , | 20 Komentar

Inilah Indonesia, Manohara!

Entah bagaimana latar belakang hidup gadis cantik bernama Manohara Odelia Pinot itu. Yang pasti, dada saya ikut sesak karena sedih bercampur geli.
Sedih melihat gadis muda yang usianya hanya terpaut dua tahun lebih tua dari putra saya, harus mengalami nasib mengenaskan. Lebih sedih karena nasib jelek itu malah diperolehnya karena kemolekannya.
Namun saya geli mendengar komentar-komentar polosnya yang diucapkan dengan bibir yang hanya terbuka kecil. Suaranya yang lembut masih terlalu polos untuk menyuarakan nasib bangsa ini di mata bangsa lain, terutama tetangga bebuyutan, Malaysia.

Cerita pilu Manohara di mata saya tak lebih buruk dari cerita para TKW, yang katanya penyumbang devisa bagi negara ini. Tentu bukan tentang cerita kesuksesan TKW di negeri orang hingga bisa membangun rumah megah. Walau bisa jadi rumah yang dibangun di kampung halaman dan sejumlah uang yang dikirimkan malah digunakan sang suami untuk memikat wnaita lain di kampung halamannya, sementara si TKW harus beradu fisik dengan majikannya di negeri orang. Baca selebihnya »

7 Juni 2009 Posted by | Opini | , , | 16 Komentar

Syariat Islam di Indonesia

Membaca di banyak website asing yang mengkopi artikel tentang sekian provinsi dari keseluruhan provinsi di Indonesia telah menjalankan syariat Islam, menimbulkan banyak pertanyaan bagi diri saya sendiri. Dua di antaranya saya tuangkan di sini.

Pertama, apakah benar hal itu sedang terjadi di negara ini?red-and-blue1
Bukan karena saya tidak cinta Islam padahal saya seorang Muslim, maka saya menolak syariat Islam dijalankan di negara ini. Maksud saya, jika dijalankan dengan sepenuhnya seperti tuntunan Alquran dan Hadist. Kenapa saya tidak setuju? Karena negara ini terlalu plural dengan kultur bangsa sangat heterogen.

Dengan latar belakang yang memiliki keluarga dengan kebudayaan dan agama heterogen, saya cenderung menjadi sangat hormat pada agama dan kepercayaan orang lain. Menurut pendapat saya, kalau memang ingin dijalankan syariat Islam di negara ini, sepatutnyalah hanya dijalankan pada para pemeluknya. Mulailah dari para pemeluknya, dan jangan setengah-setengah, apa pun resikonya. Karena bisa jadi dengan adanya penerapan syariat Islam yang terbatas hanya pada pemeluknya, jumlah kaum Muslim di negara ini akan mungkin mengkerucut dengan sangat cepat. Baca selebihnya »

23 Maret 2009 Posted by | Opini | , , , | 22 Komentar

Mimpi Rakyat dan Mimpi Pemimpin

Punya impian muluk bukan cara saya memandang hidup. Meski orang bilang seorang pemimpi besar akan menjadi sukses, saya tetap tak bergeming. Impian-impian saya ga seindah impian orang kebanyakan. Saya ga pernah bermimpi memiliki rumah mewah saat uang di tabungan hanya beberapa perak, sekedar agar tabungan ga ditutup bank. Saya ga pernah bermimpi akan bertemu dengan presiden negeri ini saat saya belum menyumbangkan sesuatu yang cukup berarti untuk bangsa ini. Sebuah pemikiran yang kelewat sederhana, mungkin. Namun lewat cara sederhana ini saya bisa menjadi seseorang yang bangga pada kehidupan saya, meski ga selalu bagus untuk diungkapkan, bisa bebas berkata apa yang mau saya bicarakan, dan bisa menjejakkan kaki ke mana pun ingin melangkah tanpa ketakutan tak beralasan.

Jangan Memberi Mimpi Terlalu Indah!

Apa yang bisa kita lakukan sekarang hendaknya tidak hanya menjadi bunga tidur, atau sekadar bumbu segar debat berkepanjangan. Setiap insan dianugrahi kepekaan terhadap lingkungan. Masalahnya, ga setiap orang mau mengasahnya. Kalau pun akhirnya mereka sadar bahwa mereka adalah bagian dari sebuah lingkungan -entah itu RT, RW, hingga lingkungan besar bangsa ini- banyak yang ga mau menaruh kepedulian. Yang dipikirkan adalah bagaimana memperbaiki nasib diri dan golongannya. Baca selebihnya »

11 Februari 2009 Posted by | Opini | , | 12 Komentar

Guru Mendidik Anak Menjadi Koruptor

Jika anda menghampiri sekumpulan orang dan bertanya di bidang apa Indonesia dikenal dunia, mungkin akan banyak yang menyatakan: korupsi. Berbeda dengan beberapa dekade lalu di mana orang akan cepat menyatakan bulutangkis tiredatau penduduknya yang ramah atau Bali yang eksotis. Tak heran kemudian kita mengenal KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) yang malah kadang tidak ditempatkan pada porsi sebenarnya. Misalnya, saat Habibie menjadi presiden, banyak suara berkeberatan putra beliau menjabat kepala BPPN karena dianggap nepotisme. Padahal secara struktural maupun skill, putra beliau layak menduduki jabatan itu. Puluhan tahun di era kepemimpinan Soeharto, negara asing menjuluki the first lady Indonesia sebagai Mrs. Ten Percent. Ironis sekali, padahal sang presiden adalah tokoh yang cukup disegani kawan maupun lawan di panggung politik luar negeri. Saat Megawati menjadi presiden, di kota saya beredar rumor bahwa suap-menyuap yang notabene sanak familinya korupsi, tidak lagi dilakukan di balik amplop, tapi di penerima suap akan menentukan jumlah setoran yang diinginkannya. Kasarnya, korupsi adalah tindakan lazim dilakukan anak negeri ini. Pembentukan KPK (Komite Pemberantasan Korupsi) yang sampai saat ini terus menyeret korban-korban baru, adalah bukti kekuatiran anang bangsa atas mengguritanya korupsi di negeri ini.

Bukan karena secara garis keturunan tidak memiliki kerabat untuk diajak kolusi, saya memilih bersikap anti pati terhadap KKN, terutama korupsi. Baca selebihnya »

11 Januari 2009 Posted by | Pendidikan | , , | 25 Komentar

Puisi Cinta

Saya ga pernah berniat bikin blog untuk mempublikasikan puisi karena puisi adalah kerjaan saya di masa muda. Kalau akhirnya puisi saya dipublikasikan di sini hanya karena memenuhi permintaan beberapa orang. Puisi ini saya bacakan di acara Teacher Award, 25 November lalu.

KAU DAN AKU

LAUTANMU HANYALAH AIR
SUNGAIKU ADALAH ALIRANNYA
PANTAIMU ADALAH LANDAI
TEMPAT NYIURKU MELAMBAI
NAFASMU ADALAH LAMBANG HIDUP
BAGAI UDARA YANG KUHIRUP

SEBAB MENTARI KITA BERSINAR SAMA
MAKA KITA TIDAK BERBEDA
KARENA DARAH KITA SAMA MERAH
MAKA NURANI KITA TIDAK BERKATA BEDA
KARENA KITA DATANG DARI TUHAN YANG SAMA
MAKA KEMANUSIAAN KITA TIDAKLAH BEDA Baca selebihnya »

4 Desember 2008 Posted by | puisi | , , , | 29 Komentar

Menjadi Pengecut Adalah Pilihan

mouthPernah menemukan hal-hal yang patut dipertanyakan tapi ga mendapatkan jawaban meski telah mengeluarkan sekian puluh pertanyaan?
Pernah merasa seseorang menyembunyikan sesuatu tetapi ga bisa mengungkapkannya apakah benar ada yang disembunyikan?

Lelah rasanya dipertontonkan hal-hal semacam itu di sekitar saya. Cuma bikin capek kuping mendengar uraian panjang lebar tapi ga satu pun yang secara esensi menyinggung apa yang dibahas. Ga ubahnya berjalan muter-muter percuma padahal jalan pintas ada di depan mata.

Saya ingin punya keberanian untuk bukan sekedar berkata-kata tapi juga bertindak. Tapi semua itu hanyalah ‘keinginan’. Artinya saya ga pernah menggerakkan tangan untuk menyumbat mulut yang mengumbar kebohongan. Saya ga pernah mengirimkan telapak tangan untuk menggampar mulut yang menjual nama Tuhan tapi ngacir duluan saat dimintai pertanggungjawaban. Seperti kebanyakan orang lainnya, saya memilih menjadi pengecut yang hanya menonton. Saya hanya berani bilang salah adalah salah pada si pelaku tapi ga berani mengambil sepotong kayu dan menghantamkan ke tubuhnya untuk menyadarkannya. Padahal saya punya tangan, saya punya kayu yang siap dihantamkan. Hanya saja tidak melakukannya! Pengecut adalah sebutan yang sesungguhnya untuk orang-orang seperti saya, yang membiarkan (mungkin malah menikmati!) berbagai bentuk kezaliman dan kemaksiatan berlangsung di depan hidung saya. Kepengecutan itu membuat saya hanya mampu berkata tapi tidak bertindak. Kata-kata, bagaimana pun kerasnya, kadang kala tidak bekerja sama sekali. Baca selebihnya »

21 November 2008 Posted by | Opini | , , , | 28 Komentar

Pria Indonesia Payah!

Saya cukup fair menuliskan hal ini dengan berbagai alasan. Pertama karena saya berada di lingkungan yang mayoritas pria. Saya kerap terkondisi di mana 99%-nya pria. Bahkan dalam banyak kasus, saya merupakan wanita satu-satunya di lingkungan pria. Lingkungan membuat saya lebih dekat dan lebih banyak bergaul dengan pria dibandingkan wanita. Jadi saya cukup kenal berbagai karakter.

Kedua, saya bukan aktivis perempuan yang merasa terkekang oleh keberadaan pria lalu bersikap anti pria. Plus kehidupan nyata membuat saya cukup kenal banyak suku di Indonesia (meski ga jamannya lagi bicara masalah suku saat ini), sehingga cukup fair menuliskan pendapat saya tentang pria Indonesia.

Jangan bilang saya kelewat feminis kalau saya bilang pria Indonesia payah! Tentu saja ini generalisasi dari berbagai media publik. Kalau ada yang ‘ga payah’ maka mereka termasuk pengecualian. Jadi generalisasi saya cukup valid. Kira-kira kalau ada sensus maka hasilnya akan mengukuhkan pendapat saya. Jika anda pria, mari melihat ‘wakil’ anda di berbagai media. Ada anggota MPR/DPR, para jenderal, bintang sinetron, penyanyi, aktivis kemanusiaan, para menteri, bahkan presiden Indonesia yang terhormat, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Baca selebihnya »

11 Oktober 2008 Posted by | Opini | , , | 21 Komentar

Perbandingan: Pria Indonesia dan Pria Bule

Ga fair kalau bilang pria Indonesia ga menghormati wanita, sedangkan bule tahu gimana mengambil hati wanita. Tapi secara umum fakta ini benar. Setidaknya pengalaman saya mengatakan begitu :)

Karena berat badan saya terus turun, saya minta pendapat: Gimana ya naikkin berat badan? Kok gue tambah kurus saban hari?
Komentar pria Indonesia: Iya, lo makin kurus aja. Hati-hati loh, ntar tinggal tulang, mesti pake kasur dobel!
Komentar pria bule: But you look sexy!
Meski saya tahu si bule bohong besar, tapi paling ga dia menenangkan saya. Baca selebihnya »

8 Oktober 2008 Posted by | Opini | , , | 49 Komentar

Kekerabatan, Kultur Manis Indonesia

Selama ini saya ga pernah merasa saya bukan bagian dari masyarakat Indonesia. Tapi sekarang, saya heran kenapa saya yang lahir dan dibesarkan di tanah ini menjadi asing dengan kultur yang ada.
Artikel ini dibuat setelah saya mampir ke berbagai blog yang dengan antusias menuliskan betapa manisnya berkumpul bersama kerabat (famili, sanak keluarga, atau apa pun istilahnya) selama lebaran.

Dari berbagai tulisan itu saya dapat merasakan betapa kental kekerabatan dalam masyarakat Indonesia. Hei, saya orang Indonesia juga tapi kok ga bisa merasakan hal yang sama? Saya heran gimana seorang adik bisa kangen setengah mati pada kakaknya cuma karena sudah setahun ga ketemu. Kok bisa, ya?
Saya pernah ga ketemu satu-satunya abang kandung saya selama delapan tahun. Bahkan terakhir kami bertemu enam tahun lalu. Jika dia jadi berangkat ke luar negeri untuk bekerja akhir tahun ini, saya ga tahu kapan kami akan bertemu lagi. Saya ‘hanya’ menerima kiriman oleh-oleh tiap kali saudara-saudara saya balik dari luar negeri. Baca selebihnya »

8 Oktober 2008 Posted by | Opini | | 5 Komentar

Saya Kerja (Bukan) PSK

Hari Senin jam enam pagi lewat sedikit saya berangkat dari rumah. Di salah satu persimpangan antara Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Sosial Palembang, seorang gadis ABG berkulit coklat matang turun dari mobil mengkilap. Saya simpan nomor plat mobil itu di kepala. Saya ingat wajah pengemudinya karena kaca mobilnya ga terlalu gelap. Si Gadis celingukan. Beberapa tukang ojek menghampirinya. Tapi dia sepertinya ga tertarik naik ojek. Atau lebih tepatnya, wajahnya tampak bingung.
Saya kok jadi punya pikiran rada negatif soal si gadis dan pengemudi yang ga pake acara buka kaca mobil, tapi langsung ngacir.

Iseng, saya parkir kendaraan di tempat aman. Saya hampiri gadis itu.
‘Mau ke mana, Dek?’ saya tanya.
Dia ga menjawab.
‘Saya wartawan. Mau nanya-nanya doang. Ga perlu nyebutin nama, deh. Boleh, ya?’ saya tunjukkan press ID saya. Baca selebihnya »

6 Oktober 2008 Posted by | Umum | , , , | 8 Komentar

Saya (Ga Layak Jadi) Guru

Status kepegawaian saya, jelas saya guru sekolah menengah. Saya mengajar kimia. Menjadi guru -meski bukan cita-cita awal, saya ingin jadi penjaga pantai atau jurnalis waktu kecil- adalah salah satu bagian hidup yang harus saya jalani. Herannya hampir ga ada orang yang baru kenal akan percaya bahwa saya guru.

Saat anak saya masih TK, saya malah ditertawai beberapa orang tua teman-teman anak saya, waktu salah satu ibu menanyakan apa saya akan ikut tes penerimaan guru SMA sebentar lagi. Memang saya hampir ga pernah nimbrung ngerumpi. Selesai mengantar anak, saya akan langsung pulang.
‘Mana bisa tamatan SMP jadi guru. Minimal sarjana,’ celetuk salah satu ibu yang ikut mendengarkan.
Padahal saat itu saya sarjana dan udah kerja, meski bukan sebagai guru. Baca selebihnya »

4 Oktober 2008 Posted by | Personal | , , | 15 Komentar

Haram atau Halal Saya Hantam!

Jangan tanya berapa banyak makanan ‘haram’ masuk ke tubuh saya sejak kecil.
Di tempat saya dilahirkan di mana 50-50 muslim dan non muslim (umumnya keturunan Cina), di mana perkawinan ras ga pernah jadi masalah, dan karena banyak saudara kami non muslim, kami ga pernah menganggap makanan mereka sebagai barang haram.
Karena itu kemudian istilah halal-haram dihantam dengan versi amat kabur.

Dulu, kalau ikutan makan makanan siang bawaan teman non muslim dan ada babinya, misalnya mie goreng plus udang dan babi, maka saya akan menyisihkan babi ke pinggir dan menikmati mie plus udang doang. Babinya haram tapi udang dan mie, ga! Baca selebihnya »

24 September 2008 Posted by | Personal | , , , , | 12 Komentar

Tradisi Mudik. Kenapa Harus Ada?!

Memasuki pertengahan puasa, orang mulai sibuk merencanakan mudik ke kampung halaman.
Uh, saya hanya punya senyum getir tiap mendengar kata ‘mudik lebaran’. Wong saya ga punya kampung halaman! Pilihan saya untuk mudik adalah Jakarta, atau Bandung, atau yang paling dekat Prabumulih (kota kecil penghasil minyak Sumsel). Semuanya tempat kakak-kakak saya plus famili-famili. Mereka menetap di kota-kota itu karena berbagai alasan. Mungkin awalnya hanya karena pekerjaan, terus menikah dan telanjur punya anak, jadi keterusan tinggal di kota itu. Tapi ga satu pun dari ketiga kota itu memiliki arti penting dalam hidup saya pribadi.
Pun saya ga ‘tega’ menghabiskan lebaran di Palembang, tempat saya mencari nafkah sekarang ini. Karena saya ga punya kerabat di kota ini. Teman-teman kerja yang sudah saya anggap saudara sendiri, semuanya sibuk dengan rutinitas lebaran. Sibuk menyambut keluarganya yang mudik ke kota ini. Atau mereka malah mudik ke kampung halaman di luar kota. Jadi…. Baca selebihnya »

23 September 2008 Posted by | Opini | , , | 4 Komentar

Kursi Nomor 1 Sumsel

Dengan alasan ke-golput-an saya, seorang teman meminta saya menuliskan soal Pilkada Sumsel. Sebenarnya saya ga memilih golput. Karena saya ga terdaftar sebagai pemilih maka otomatis saya golput. Dengan alasan ini, menurut dia, saya yang ga suka politik praktis, pastilah ga akan condong ke salah satu pihak. Sekali pun saya punya hak pilih, saya ga akan pernah menjadi tim sukses pihak mana pun, berapa pun mereka mau membayar saya. Sekali lagi, saya ga tertarik politik praktis. Baca selebihnya »

27 Agustus 2008 Posted by | Opini | , | 5 Komentar

MARI TURUN KE JALAN

Wah, saya ga lagi membakar amarah orang agar ikut demo ke jalan. Turun ke jalan dalam konteks ini adalah melihat bagaimana situasi jalanan di Palembang. Kalau anda pernah ke Medan, dan tahu bagaimana ‘gila’-nya supir di jalanan kota itu terutama supir angkutan umum, maka anda akan menemukan hal yang sama di Palembang. Bedanya, hal ini dilakukan hampir semua pengendara dari berbagai jenis kendaraan. Diperburuk lagi dengan parahnya kondisi jalanan kota Palembang, secara umum. Baca selebihnya »

28 Juli 2008 Posted by | Opini | , , | 5 Komentar

Pilkada: Pemilihan Walikota Palembang

Pilkada Walikota Palembang berlangsung Sabtu, 7 Juni 2008. Seperti pilkada di propinsi lain, sebelumnya diadakan kampanye termasuk iring-iringan kendaran bermotor, dan bahkan arak-arakan pasangan calon walikota dan calon wakil walikota layaknya sepasang pengantin. Kebetulan pasangan itu calon walikotanya wanita sedangkan calon wakil walikotanya pria.

Saya mungkin termasuk orang yang apatis pilkada akan berlangsung ‘bersih’. Mulai dari masa kampanye yang sudah didahului dengan berbagai aksi mogok pasangan yang menilai pasangan tertentu menjalankan an unfair game, manipulasi surat suara, hingga tak jelasnya program serta misi-visi para pasangan. Baca selebihnya »

6 Juni 2008 Posted by | Opini | , | 2 Komentar

BBM Naik Lagi! Lagi! Lagi!

FuelIni yang ketiga kalinya –kalau tidak salah– BBM naik selama masa pemerintahan Presiden SBY. Entah berapa kali akan naik lagi sampai habis masa jabatan beliau. Sebagai orang awam yang tidak mengerti soal ekonomi negara dan kurang minat ngutak-ngatik masalah itu, termasuk tidak terlalu peduli siapa yang menjadi presiden, saya tidak mempersoalkan apakah BBM akan naik atau turun. Yang saya persoalkan adalah masalah daya beli saya (egois?!) terhadap barang-barang –minimal kebutuhan pokok– yang mau ga mau harus dipenuhi.

Setelah mendengar selentingan keesokan hari bensin –premium dalam hal ini– harganya akan naik sekian persen, saya tidak termasuk yang berniat antri membeli bensin. Pertama karena memang ga punya tempat penampungan. Kedua, saya bukan tipe pencari untung dari menimbun suatu barang. Tapi karena bensin kendaraan saya memang harus diisi pada malam sebelum diumumkannya kenaikan harga bensin, saya terpaksa mampir ke salah satu SPBU. Baca selebihnya »

27 Mei 2008 Posted by | Opini | , | 7 Komentar

Termehek-mehek

Dua minggu lalu saya sempat menonton acara teve sambil makan siang yang tertunda. Acaranya dimulai jam setengah tujuh malam. Nama acaranya Termehek-mehek. Pertama kali membaca judulnya –acaranya sudah berjalan 2 atau 3 sesi diselingi iklan- saya asumsikan pastilah akan banyak tangisan. Baca selebihnya »

13 Mei 2008 Posted by | Opini | , , , | 54 Komentar

Pemerintah Emang Idiot?

Pemerintah terkesan plin-plan memblokir Youtube terus membuka kembali akses ke situs itu untuk beberapa saat. Tapi sekarang kalau saya klik alamat Youtube, yang tampil adalah:

Error: 504 Gateway Timeout

Error di hardware laptop saya atau emang pemerintah berakting lagi menunjukkan sikap idiotnya?
Baca selebihnya »

16 April 2008 Posted by | internet | , , | 1 Komentar