You’re (Not) Alone
Tulisan ini dibuat untuk mengenang seseorang yang dikenal dunia sebagai Michael (Joseph) Jackson atau kemudian Mikhaeel Jackson. Bagaimana pun dia pernah atau mungkin akan selalu ada di hati. Thanks buat partner saya yang meng-sms saya soal meninggalnya M.J.)
Saat saya SMP-SMA, saya menyukai musik dengan sangat. Pilihan saya adalah musik yang memiliki beat tapi ga ‘berat’. Maka lagu-lagu country, pop rock atau rock adalah pilihan saya. Pemusik dalam negeri yang saya beli kasetnya (saat itu masih kaset) hanyalah Iwan Fals dan Gang Kebangsaan. Maka sekarang teman-teman sekantor sering heran saya kok ga kenal lagu Sakura (ga tahu nama penyanyinya) atau Richie Ricardo (aduh… seingat saya, saat remaja saya ga yakin dia seorang cowok. Lebih cewek dari saya!).
Selera musik saya cenderung sempit. Ga heran kalau saya kemudian lebih hafal lagunya Duran-Duran, U2, Deep Purple atau Aerosmith dibandingkan Genesis atau Rolling Stones, tanpa membandingkan ketampanan John Taylor dan Simon Le Bon (Duran-Duran) yang beberapa tingkat lebih tinggi dari Mick Jagger di mata remaja saya.
Namun di atas semuanya, saya hanya jatuh cinta pada dua orang. Michael Jackson dan Axl Rose. Baca selebihnya »
Rock My Little World!
Tiga minggu belakangan bukan hari yang indah. Sebuah kenyataan bahwa kehidupan yang saya jalani ternyata sebagian besarnya adalah mimpi kosong. Saya merasa berjalan tapi ga pernah melangkah. Saya merasa berkata tapi ga pernah ada kalimat. Saya merasa dunia berputar dengan cepat tapi ternyata sumbu rotasinya rusak. Sumpah serapah telah saya keluarkan tapi ternyata ga bikin hari-hari jadi lebih baik. Ingin menangis tapi itu bukan cara saya.
Menembakkan kepala sendiri adalah salah satu cara yang ingin saya lakukan tapi saya terlalu pengecut menarik pelatuknya.
It was a long time with you
it was a long time with me
it’d be a long time for anyone
but looks like it’s meant to be
(T.W.A.T)
Tapi hari ini saya terbangun dari mimpi panjang. Saya tahu bahwa kaki saya ga menginjak tanah saat saya terbang. Saya sadar bahwa apa yang saya pikir terjadi, ternyata hanya ada di kepala dan bukan kejadian nyata. Saya mendengar kata-kata yang meyadarkan saya bahwa ketakpedulian yang selama ini menjadi pilihan saya, ga salah jika saya genggam terus. Baca selebihnya »
Islam Bukan Arab!
Mendengarkan musik hukumnya haram dalam Islam? Saya sih udah mendengar hal ini sekian tahun lalu waktu dari salah seorang teman yang terheran-heran saya kok mau-maunya mendengarkan Guns and Roses padahal mereka terlibat alkohol dan sebagian lagi drugs. Di depannya, saya bilang bahwa saya mendengarkan musik mereka bukannya mau bergabung dalam komunitas alkoholik atau penikmat drugs. Tapi memang itu yang saya lakukan.
Teman itu merekomendasikan beberapa lagu nasyid yang dinyanyikan pria turunan Arab untuk saya dengar. Oke, saya suka, tapi ga tersentuh. Mungkin otak saya terlalu tumpul untuk mengkaji syair indah dalam lagu nasyid itu. Atau hati saya terlalu gelap untuk menangkap cahaya terang yang dipancarkan lagu tersebut. Entahlah. Akhirnya si teman itu menyerah. Dia bilang, saya orang baik hanya mungkin terlalu independen dan udah termakan virus pluralisme. Saya cuma tersenyum, ga ngerti apa maksudnya. Baca selebihnya »
Saya Suka Rock. So What?
Aneh bagi sebagian orang bagaimana orang seumur saya, wanita pula, suka musik rock. Sulit menjelaskan bahwa romantisme yang disuguhkan musik yang mereka sukai ga pernah menyentuh hati saya. Mungkin karena saya bukan tipe orang romantis atau karena memang saya terlalu terkotak-kotak oleh jenis musik tertentu. Yang pasti saya sudah kebal dengan komentar teman-teman bangsa sendiri, misalnya: ‘you’re not typical Indonesian woman’ atau ‘you’re too wild’ atau ‘you’re strange in my eyes’ atau ‘woow, it’s for teens, not for us’ atau pertanyaan ‘are you crazy?’. Baca selebihnya »
