My Partner
(This post is created cuz of someone who has accompanied me for years in happy and sad times. A special gift for the owner of lovely Samantha.)
Jangan tanya kapan pertama kali kami bertemu. Baik dia, apalagi saya, ga akan bisa mengingatnya. Namun saya masih ingat dengan jelas bagaimana saya tersentuh saat dia bilang: ‘I just wanna take you on the beach.’ Padahal saat itu dia belum tahu bahwa saya mencintai pantai dengan sangat. Itu pertemuan pertama kami di usia mudanya dengan tubuh langsing, sebaris kumis, dan rambut kriwil yang ditutupi cap. 
Ketika tahun demi tahun terlewati tanpa menyadari rambut putih mulai tumbuh satu demi satu, atau tubuh menjadi lebih gendut dengan gelambir di sana-sini, satu hal yang saya catat darinya: tidak pernah berkata negatif tentang orang lain. Memandang sesuatu dari sisi orang lain agar bisa bertindak fair, selalu berpikir positif, tidak menyalahkan apa pun atas keterbatasan diri sendiri, dan selalu meletakkan kejujuran dalam keputusan, adalah beberapa hal yang ditanamkannya pada saya.
Suatu hari saya berada di area kekesalan: ‘Saya selalu kerja keras, tapi boss saya tidak menghargai itu, kecuali berusaha mencari alasan untuk mendeskritkan’.
Saya sih berharap saat itu dia mau ikutan kesal pada pimpinan saya dan ikut mengritik tindakannya.
Jawabnya: Are you working for your boss or your kids? You love your kids, rite? That’s why you’re there. (Kamu bekerja untuk bos atau untuk murid-muridmu? Kamu mencintai anak-anak itu, kan? Itu kenapa kamu di sana.)
Kalimat-kalimatnya sederhana tapi mampu mencairkan amarah karena saya sungguh mencintai anak-anak itu.
Dia bukan tipe yang menghujani saya dengan rayuan. Bahkan saya tidak pernah mendengar kata-kata gombal darinya sekadar agar hati saya berbunga-bunga, misalnya. Tapi di saat saya kehilangan kepercayaan diri, atau terpuruk dalam suatu masalah serius, pilihan kalimatnya selalu memberi saya keberanian baru dalam menghadapi kenyataan hidup yang tak selalu manis.
Saat timbangan menunjukkan berat saya terus berkurang, dia bilang: You look like a calendar girl.
Saat keisengan menjadi seksi terbersit, dia bilang: I worked on entertainment for more than twenty years. I don’t want plastic surgery around home. Not for my woman.
Saat saban hari saya sakit, dia bilang: Don’t worry, I have magic hands to give you massages.
Beruntungnya, dia juga mencintai pantai dan ativitas outdoor alami namun betah di rumah berminggu-minggu jika tak ada kegiatan penting di luar rumah. Beruntungnya pula, dia ga pernah keberatan menemani saya melewati hari tanpa kata-kata, jika saya sedang ingin berdiam diri. Keberuntungan terbesar adalah dia makhluk tersabar menghadapi sifat cuek dan moody yang enggan melepaskan diri dari jiwa saya.
Orang tipe saya yang hampir mendewakan logika, sulit mengatakan cinta turut serta di dalamnya. Tapi bahwa saya membutuhkannya dalam kehidupan saya, paling tidak untuk meluruskan langkah saat hati saya bengkok, itulah adanya.

[...] 7. Bu Wyd [...]
alangkah indahnya perjalanan hidup yang telah dirajut
Pengganti ping back …….. http://elsaelsi.wordpress.com/2012/01/27/menelusuri-perjalanan-award-ala-narablog/
manisnya,….., bahkan suatu saat nanti saat perut telah menggelambir dan rambut telah beruban, pengen ceritain seseorang layaknya cerita ini..
Pertanyaan.com merupakan media pertanyaan online, Kirim pertanyaan kamu atau berbagi pengetahuan dengan menjawab pertanyaan dari teman-teman yang lain.
sayang fotonya kurang jelas…. atau sengaja? supaya tidak terlihat jelas untuk privacy?
menarik artikelnya…salam kenal slalu
Kisah cinta yang mengesankan, Bu Guru..saya terinspirasi dengan kata-kata “Memandang sesuatu dari sisi orang lain agar bisa bertindak fair, selalu berpikir positif, tidak menyalahkan apa pun atas keterbatasan diri sendiri, dan selalu meletakkan kejujuran dalam keputusan…”
–
Oya, Bu…saya baru posting tulisan Kisah Petualangan Sex Marlon Brando yang merupakan lanjutan dari tulisan lawas: Kisah Petualangan Sex Elvis Presley..
Semoga berkenan mampir. terima kasih.