Muslim Rakitan
Terlahir sebagai Muslim campuran dengan latar belakang keluarga berdarah campuran Cina-Melayu-Arab, plus perayaan Sin Chia hingga remaja, mendapatkan pendidikan dini di lingkungan Katolik fanatik beserta ritual natalan hingga usia dua puluhan, dibesarkan dalam kultur campuran Cina-Melayu yang kuat, saya menjadi orang yang menaruh simpati pada keanekaragaman agama dan kepercayaan.
Hingga SMA saya masih menyalakan hio di altar sembahyang Kong Fu Cu. Saya sering ikut menyaksikan ritual pemanggilan roh nenek moyang meski disertai rasa takut dan cemas akan dirasuki. Namun saya juga sering mencuri buah-buahan persembahan saat Pek Cun tiba.
Waktu kecil dulu saya terbiasa menunggu jemputan hingga sore hari di dalam kepastoran dan menjadikan kediaman pastor sebagai rumah kedua. Saya masih mengunjungi kepastoran dan masih ikut mempersiapkan misa saat awal-awal SMP. Hal yang saya suka waktu mempersiapkan misa adalah saya boleh ‘mencicipi’ anggur lebih dari satu sloki
Saat remaja, saya senang sekali seorang teman menghadiahkan sebuah repro lukisan the Christ dan menuliskan: ‘Jesus loves mankind. He loves you also’. Guru agama Katolik di SMA memberikan saya sebuah Injil dua bahasa sebagai hadiah, padahal saya ikut pelajaran agama Islam.
Hingga remaja saya masih ‘mencuri’ uang perpuluhan gereja saat misa. Bersama beberapa teman, saat memasukkan tangan ke kantung persembahan, kami tidak pernah menaruh uang dalam genggaman. Saat tangan diangkat kembali, uang tergenggam dengan rapi dalam jumlah lumayan untuk anak sekolah. Saya pernah mengakui dosa ini pada pendeta setelah menyelesaikan SMA, tapi sang pendeta tak meminta saya mengganti sepeser pun, kecuali hanya membalas dengan senyum kecil.
Saudara yang menjadi bikshu Budha sempat mengajarkan saya ajaran Budha yang berpegang pada keikhlasan dan kesederhanaan. Namun ajakan menjadi vegetarian tak sesuai dengan pola tubuh saya yang harus mengkonsumsi daging dalam jumlah besar.
Daddy yang menjalankan Hindu India dengan taat, membuat saya kemudian juga belajar Hindu India. Saya tetap menyimpan file kitab suci berbahasa Hindi (dengan huruf cacing) yang diberikannya meski tidak mengerti satu huruf pun. Hingga sekarang kadangkala saya masih menjalankan yoga seperti yang diajarkan daddy.
Saya mendalami Islam sesudahnya. Saya bertanya banyak pada saudara di Jeddah yang menurut saya adalah Muslim yang taat (thank to Hameed). Saya belajar dari buku tanpa memandang mazhab. Saya berdiskusi dengan beberapa orang yang bersedia membagi ilmunya melalui media online (special thank to Feather).
Saya tidak menganut Islam sekuler. Saya tidak tertarik Islam liberal. Saya juga tidak beraliansi Islam fanatik. Saya hanya sedang berusaha menjadi Muslim yang baik sesuai tuntunan Alquran dan hadist serta sunnah Rasullullah. Bahwa saya masih terus terseok-seok dalam pencarian, itulah fakta sebenarnya.
Mungkin ada banyak cara berbeda dalam menjelajahi keyakinan yang kita anggap benar. Mungkin anda lebih beruntung dalam pencarian agama yang anda yakini. Apa pun jalan yang kita yakini, mudah-mudahan itulah jalan menuju paradise city kelak.

hm….
nice, mam… ^_^
maam ikutan ngerayain christmas juga gak dulu?
@ara: coba baca postingan ‘merry christmas, suster’ yang ditulis tahun lalu
udah maam. sampe hafal. huehehehe
hikikikikikikikk..
semoga kisah ini happy ending ya Ma’am
A..mi..n