MOM, I’M A GAY!
Mulut saya terkunci sekian detik mendengar pengakuan itu. Meski sebelumnya dia telah mewanti-wanti bahwa saya mungkin akan shock. Saya mempersiapkan diri pada pengakuan terburuk, namun itu masih saja membuat saya terdiam 2-3 menit.
‘Yes, Mom, I’m a gay.’
Dia – salah satu putra saya – mengulangi lagi pernyataannya.
Saya kira semua ibu ingin melihat anak-anaknya tumbuh ‘normal’. Menjadi gay bukanlah sesuatu yang ‘cukup normal’ buat saya. Namun saya mengerti kemudian. Putra saya, berusia 23 tahun, sama sekali ga menjerumuskan dirinya menjadi gay layaknya tren yang banyak diikuti anak muda di luar negeri. Orientasi seksual menyimpang ini dirasakannya sejak remaja. Ga pernah ada ketertarikan pada lawan jenis. Untungnya, kelainan ini malah makin mendekatkannya pada jalan Tuhan. Tanpa bermaksud menyalahkan Sang Pencipta, dia meminta dibukakan jalan yang seharusnya dia lewati sebagai manusia tak berdaya.
Putra saya telah dan sedang berjuang membuat semuanya menjadi normal. Namun hingga sekarang belum ada seorang gadis pun yang bisa bikin dia merasakan ‘klik’ layaknya seorang pria. Baik gadis-gadis super seksi dan cantik yang bertebaran di dunia maya, foto dan film yang menampilkan mereka, bahkan gadis-gadis nyata dengan sentuhan anggota tubuh nyata. Saya katakan padanya untuk terus berusaha karena Sang Maha Kasih ga pernah memberikan beban yang ga sanggup dipikul umat-Nya. Tuhan memilihnya memiliki kelainan itu mungkin untuk menguji sampai di mana kesanggupannya bertahan dalam jalan yang diridhoi-Nya. Saya kira saya cuma bisa membantu lewat doa-doa.
Faktor Gen dan Kepribadian
Faktor genetik adalah salah satu yang membuat seseorang memiliki orientasi seks menyimpang. Faktor lainnya adalah kepribadian. Kepribadian pun dipengaruhi oleh faktor genetik hingga 65%-nya. Sayangnya, kepribadian ga bisa diubah. Yang bisa dilakukan hanyalah memperbaikinya. Tanpa bermaksud membela, saya yakin inilah yang sedang terjadi pada putra saya.
Saya bukan tipe yang suka berpikiran negatif. Segala sesuatu pasti ada latar belakang dan alasannya, ini yang saya yakini. Mudah-mudahan bukan karena kami para orang tua salah menerapkan pendidikan pada anak-anak kami sehingga mereka memilih jalan berbeda.
Update 13 Oktober 2009:
Berdasarkan komentar putra saya di kolom komentar, usianya baru 21 tahun. Waduh, saya ibu yang ga banget. ya

yang sabar aja ya mam, bersyukur dya mengakui ….
Allah selalu memberi cobaan yang kita mampu melewatinya, dan buah dari itu semua adalah surga. semoga mam mendapat berkah dari Allah ..
bte, selamet ya mam buat wisudanya … 8-))
Sabar ya Bu.. jika Allah memberikan ujian.. itu adalah salah satu bentuk kecintaan Allah kepada hamba-Nya.. semoga putra Ibu dibukakan pintu hati dan pikirannya oleh Allah SWT..a..min
Bu Wyd, saya yakin ini bukan salah siapa-siapa. Bukan salah putera Bu Wyd, apalagi salahnya Bu Wyd jelas bukan.
Putera Bu Wyd pasti merasa sangat kesepian sesungguhnya jauh di dalam. Yang terbaik mungkin tetap mendampingi.
Tetap bijak, yaa ibu. Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan untuk ibu dan untuk Putera ibu
salam, senang bertemu Anda melalui blog ini saya Agus Suhanto, tulisan yg menarik
salam kenal yee
Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
nitip link http://ustadzbasri.blogspot.com/
thx mom,,,
honestly,,im not sure if can get the happiness that i always dream of from this world..
im afraid sometimes,,i get lost sometimes
im not sure many times,if this is the path that i really want, that made for me…
but the thing that i really sure about, this all thing are out of my control.
(just for correction,im still 21 not 23:))
@your son (should write as my son???): oh my god… how could a mommy forget how young her son is…. sorry abt this, ok?
u can see here now there are many indonesians can do fair for the case. sometimes when i was young i lost control also. that’s human being as ppl say
may allah bless your steps on any ways you’re walking on, son. but if there’s no way out, just remember that u have a mom’s love here
yang penting anak Ibu bisa survive hingga akhir hayatnya dan memberikan arti kepada dunia, saya rasa Anda sebagai orangtua berhak bangga ^__^
“Hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenang”
sabar ya bu, semoga Allah membuka jalan yang terbaik nantinya.
bu, sudah pernah ke psikolog atau psikiater?
cuma untuk ngambil serangkaian test aja. mungkin semuanya berawal dari ketidakPDan? atau memang betul2 belum ada wanita yang menarik hati?
Allah bersama kita, bu.
Maaf mbak…Putra kandung ?
Saya sangat sangat menghargai keberanian mbak menyampaikan ini di blog.
Dan Alhamdulillah, putra mbak makin mendekatkan diri pada Tuhan…saya yakin nanti Allah memberikan jalan yang terbaik.
sabar y mam…
aq do’ain dy cepat kembali normal..
Cobaan bisa berupa kesulitan ataupun kemudahan. Mudahmudahan putra ma’am tetap teguh pada imannya kepada Yang Maha Kuasa.
@Buat semua komentar: terima kasih atas dukungannya.
mudah2an dengan dipublikasikan ini, putra saya bisa mendapat pandangan positif bahwa ga semua bagian bangsa ini masih menyimpan pandangan picik mereka. masih banyak bagian bangsa ini yang sudi melihat sesuatu dari sisi pandang orang lain.
mudah2an Allah yang Maha Rahmat menaungi kita semua dengan limpahan kasih sayang-Nya
Semoga diberi kesabaran…
dekatlah dengan Allah dengan ilmu..dan taat..
yang jelas ibu telah memberikan yang terbaik buatnya
u are not alone, Bu! We don’t let u and him down.
@budies: dia putra yang pantas dicintai
@papa amartya siadari: thx u so much
Yang sabar ya Bu. Semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayahnya kepada Ibu dan keluarga.
HHm…..Yang benar bagaimana ini…???
selalu ada harapan untuk hidup normal..semoga.
Setiap orang memikul beban yang berbeda untuk menjalani fitrahnya. Saya kenal seseorang yang punya masalah sama, dia berusaha hidup “normal” (maaf saya nggak bermaksud menuding gay itu tidak normal), Menikah punya anak dan kemudian punya kesempatan menunaikan ibadah Haji.
Saya tidak pernah tau berapa besar beban yang dia tanggung, tapi saya percaya Allah menyediakan ganjaran yang lebih besar untuk nya.
Bu, apa pun yang terjadi yang kita terima dengan penuh keikhlasan akan menjadi anak tangga bagi kita untuk menjadi lebih baik. Tuhan tidak pernah salah mengirim segala pesan-Nya(melalui setiap kejadian). Yang perlu kita lakukan hanyalah membuka hati, dan mengisinya dengan cinta, penerimaan dan keilkhlasan.