Oh, Sakit LAGI?
(Tulisan ini dipublikasikan karena tadi pagi saya sempat miris mendengar kata-kata seorang kolega kerja yang meragukan saya sedang sakit, saat saya bahkan hanya bisa membuka satu kelopak mata dan memaksakan diri menerima telpon. Telpon ada di sebelah tempat tidur dan bisa dijangkau tanpa perlu menggerakkan tubuh, kecuali tangan. Saya sebenarnya sedang berharap saat itu ada yang menelpon sehingga bisa meminta pertolongan. Meski kemudian beliau menelpon, saya ga berharap akan datang sebuah bantuan.)
Banyak orang yang ga bisa atau ga mau mengerti bahwa saya ga sedang sakit karena sekian menit lalu mereka masih melihat saya ‘segar bugar’. Meski bisa saja saat saya bertemu mereka sebenarnya saya sedang menahan sakit tapi saya pura-pura masih kelihatan senang-senang aja di luarannya. Saya ga mau mengeluh sakit. Yang saya keluhkan adalah ketakmampuan saya bangun sehingga harus meninggalkan aktivitas saya. Buat sebagian orang, hal itu semacam alasan yang dicari-cari. Saya ga enak hati setiap kali menerima telpon mengkonfirmasikan kehadiran saya. Apalagi jika di penelpon dengan nada tinggi berujar: ‘Oh, sakit lagi? Bukannya kemaren kamu sehat-sehat aja?’
Belakangan ini saya benar-benar terpaksa meninggalkan beberapa pekerjaan atau pertemuan yang menjadi kewajiban saya, cuma karena satu alasan yang klise banget: saya lagi sakit!
Kalau hanya pusing atau masih bisa berdiri tegak, saya akan jalani pekerjaan-pekerjaan saya. Tapi akhir-akhir ini saya bahkan hanya tergolek di atas tempat tidur dalam kamar remang-remang, sambil berselimut tebal menahan mual atau dengan nafas tersengal-sengal, meski waktu sudah menunjukkan pukul 10 siang. Mata saya juga makin ga tahan sinar. Saya merasa nyaman dalam ruang bercahaya remang-remang. Hal inilah yang membuat saya berulangkali harus beradu mulut dengan putra saya yang lebih menyukai suasana terang.
Saya hampir ga pernah bercerita bahwa saya sedang sakit, kecuali pada orang yang berkepentingan. Biasanya saya akan memberitahukan bahwa saya sakit begini-begitu setelah saya sembuh. Alasan saya sebenarnya cuma: saya ga mau dikasihani seolah saya ga berdaya. Tapi sungguh menyakitkan ketika mendengar orang meragukan saya sakit saat saya sedang berjuang menahan sakit dan ga mampu bangkit minta pertolongan.
Agak aneh bagi sebagian orang bahwa saya bisa muntah berkali-kali hanya karena mendengar lagu house music diputar kencang tetangga baru dari pagi hingga malam. Agak aneh bahwa asma saya kambuh saat udara sedang bagus-bagusnya. Agak aneh bahwa saya kedinginan saat mentari jam 12 siang sedang terik-teriknya. Agak aneh bahwa saya masih terus kurus padahal makan selalu banyak. Agak aneh bahwa saya ga kena diabetes padahal semua makanan super legit saya hantam dalam porsi sangat besar.
Oh my Lord! Saya sungguh ingin punya tubuh sehat seperti orang kebanyakan. Tapi saya ga pernah menyesali dianugrahi tubuh seperti ini. Partner saya bilang, Tuhan Maha Mengerti saat membentuk organ-organ di tubuh saya. ‘If you’re so good in health, you’d work and do something more no stop,’ katanya.
Buat saya, Sang Maha Pencipta memang ga bisa ditebak. Dia berkuasa penuh atas apa pun yang diciptakan-Nya. Dia yang memilih seperti apa Dia ingin menciptakan sesuatu.

Salut. Semoga anda tetap sabar….
Tetap semangat, Bu!
Kami, murid-muridmu ini, selalu mengidolakan Ibu lho.. Yang walau kadang tubuhnya kurang fit, tapi tetep semangat banget kalo mengajar ^^
sabar bu,
lama saya gak silahturahmi ke rumah ibu.Sekarang dah baikan to?
sakit apa toh bu?? cepet sembuh yaa . semangat
Selalu berpikir positif, hindari berpikir tentang sakit, sakit, dan sakit. Semoga lekas sembuh & beraktivitas kembali
Great post! I’ll subscribe right now wth my feedreader software!
saya lebih heran lagi ada orang yang masih gak ngerti kalau sakit Bu Wyd itu gak dibuat-buat. Semoga sehat selalu Bu ^^
waduh mam,,saya juga sering prhatikan kalo mam lagi gak enak badan maskipun sering mam bohong sama kondisi mam yg sebenarnya..
mam kalo sakit mendingan istirahat aja,meskipun ada org yg gak percaya tapi tetep ada kok yg perhatiin mam..