Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

You’re (Not) Alone

Tulisan ini dibuat untuk mengenang seseorang yang dikenal dunia sebagai Michael (Joseph) Jackson atau kemudian Mikhaeel Jackson. Bagaimana pun dia pernah atau mungkin akan selalu ada di hati. Thanks buat partner saya yang meng-sms saya soal meninggalnya M.J.)

Saat saya SMP-SMA, saya menyukai musik dengan sangat. Pilihan saya adalah musik yang memiliki beat tapi ga ‘berat’. Maka lagu-lagu country, pop rock atau rock adalah pilihan saya. Pemusik dalam negeri yang saya beli kasetnya (saat itu masih kaset) hanyalah Iwan Fals dan Gang Kebangsaan. Maka sekarang teman-teman sekantor sering heran saya kok ga kenal lagu Sakura (ga tahu nama penyanyinya) atau Richie Ricardo (aduh… seingat saya, saat remaja saya ga yakin dia seorang cowok. Lebih cewek dari saya!).nfl_a_kingpop_275

Selera musik saya cenderung sempit. Ga heran kalau saya kemudian lebih hafal lagunya Duran-Duran, U2, Deep Purple atau Aerosmith dibandingkan Genesis atau Rolling Stones, tanpa membandingkan ketampanan John Taylor dan Simon Le Bon (Duran-Duran) yang beberapa tingkat lebih tinggi dari Mick Jagger di mata remaja saya.

Namun di atas semuanya, saya hanya jatuh cinta pada dua orang. Michael Jackson dan Axl Rose. Baca selebihnya »

27 Juni 2009 Ditulis oleh wyd | musik | , , , , , , , | & Komentar

Ih, Bego Banget!

Pernah melakukan kesalahan yang agak-agak tolol kelihatannya? Kalau bisa sih jangan sampe. Tapi kalau ternyata akhirnya jadi aktor yang melakukan itu, apa yang harus dilakukan? Kalau saya, ketawa aja.

Satu:
Saya ngantri panjang di salah satu kantor cabang BCA. Setelah belasan orang di depan saya habis, giliran saya tiba.
Eh, si teller bilang: ‘Maaf mbak, kalau dua rekening, mbak harus ke loket sana.’
Sambil si teller menunjuk ke loket yang dimaksud. Saya pun ngantri lagi, untung ga panjang. Begitu giliran saya tiba, si teller pria menghitung uang saya. Lalu siap di depan komputer.
Tapi kemudian bertanya: ‘Maaf mbak, ini nomor rekening BCA atau bukan ya? Soalnya nomornya banyak banget. Rekening BCA cuma 9 angka.’
Setelah saya amati, eh saya menuliskan nomor rekening Bank Mandiri, tujuan saya berikutnya.

Dua:
Saya tergesa-gesa mengunci motor setelah sebelumnya ngebut. Apesnya ujian sudah dimulai sejak 15 menit lalu. Setelah 5-10 menit berjalan, seorang petugas kampus menanyakan siapa pemilik kendaraan berplat bla bla bla, karena salah mengunci kendaraan orang lain.
Saya berkomentar spontan: ‘Masak sih ada yang hapal plat nomor kendaraannya? Gila!’
Eh, seorang teman pria malah balas nyeletuk: ‘Masak sih ada yang ga hapal nomor plat kendaraannya sendiri?’
Si petugas mengulang kembali. Ga ada yang merasa memiliki kendaraan dengan plat itu. Saya memutuskan mengecek STNK. Alamak… itu kendaraan saya! Baca selebihnya »

26 Juni 2009 Ditulis oleh wyd | Personal | , , , , | & Komentar

Pingsan!

ist2_1650217-figurine-faintPingsan atau ga sadarkan diri bisa disebabkan banyak hal. Mungkin karena terlalu capek, sakit organ tertentu, kekurangan oksigen, terkejut atau shock, dan sebagainya. Agak aneh buat saya bahwa ada orang yang ga pernah pingsan sepanjang hidupnya. Kok bisa ya?

Sebagai orang yang pernah puluhan kali pingsan, saya ga bisa dengan tepat menentukan penyebab saya pingsan. Tapi biasanya didahului oleh hal yang sama: seperti ada bintang-bintang berwarna-warni dan gemerlapan di sekeliling saya, tubuh saya mendadak mati rasa dan ga bisa digerakkan, serta wajah, terutama bibir saya berubah pucat kehijauan.

Pingsan pertama kali saya rasakan kelas 3-4 SD setelah ‘ulu hati’ saya dihantam dua pukulan oleh seorang laki-laki karateka muda. Di SMA saya pingsan belasan kali saat upacara bendera. Akhirnya wali kelas saya mengijinkan saya ikut upacara dari dalam kelas. Satu kali saat mau pulang dari jalan-jalan di supermarket, saya pingsan di depan kulkas yang sedang dipajang. Baca selebihnya »

26 Juni 2009 Ditulis oleh wyd | Personal | , , , | & Komentar

Oh, Sakit LAGI?

(Tulisan ini dipublikasikan karena tadi pagi saya sempat miris mendengar kata-kata seorang kolega kerja yang meragukan saya sedang sakit, saat saya bahkan hanya bisa membuka satu kelopak mata dan memaksakan diri menerima telpon. Telpon ada di sebelah tempat tidur dan bisa dijangkau tanpa perlu menggerakkan tubuh, kecuali tangan. Saya sebenarnya sedang berharap saat itu ada yang menelpon sehingga bisa meminta pertolongan. Meski kemudian beliau menelpon, saya ga berharap akan datang sebuah bantuan.)

Banyak orang yang ga bisa atau ga mau mengerti bahwa saya ga sedang sakit karena sekian menit lalu mereka masih melihat saya ‘segar bugar’. Meski bisa saja saat saya bertemu mereka sebenarnya saya sedang menahan sakit tapi saya pura-pura masih kelihatan senang-senang aja di luarannya. Saya ga mau mengeluh sakit. Yang saya keluhkan adalah ketakmampuan saya bangun sehingga harus meninggalkan aktivitas saya. Buat sebagian orang, hal itu semacam alasan yang dicari-cari. Saya ga enak hati setiap kali menerima telpon mengkonfirmasikan kehadiran saya. Apalagi jika di penelpon dengan nada tinggi berujar: ‘Oh, sakit lagi? Bukannya kemaren kamu sehat-sehat aja?’

Belakangan ini saya benar-benar terpaksa meninggalkan beberapa pekerjaan atau pertemuan yang menjadi kewajiban saya, cuma karena satu alasan yang klise banget: saya lagi sakit!

Kalau hanya pusing atau masih bisa berdiri tegak, saya akan jalani pekerjaan-pekerjaan saya. Tapi akhir-akhir ini saya bahkan hanya tergolek di atas tempat tidur dalam kamar remang-remang, sambil berselimut tebal menahan mual atau dengan nafas tersengal-sengal, meski waktu sudah menunjukkan pukul 10 siang. Mata saya juga makin ga tahan sinar. Saya merasa nyaman dalam ruang bercahaya remang-remang. Hal inilah yang membuat saya berulangkali harus beradu mulut dengan putra saya yang lebih menyukai suasana terang.

Saya hampir ga pernah bercerita bahwa saya sedang sakit, kecuali pada orang yang berkepentingan. Biasanya saya akan memberitahukan bahwa saya sakit begini-begitu setelah saya sembuh. Alasan saya sebenarnya cuma: saya ga mau dikasihani seolah saya ga berdaya. Tapi sungguh menyakitkan ketika mendengar orang meragukan saya sakit saat saya sedang berjuang menahan sakit dan ga mampu bangkit minta pertolongan. Baca selebihnya »

21 Juni 2009 Ditulis oleh wyd | Personal | , , , | & Komentar

Pilih 1, 2 atau 3???

Ulasan berikut sama sekali ga politis banget. Tapi mungkin apa yang saya rasakan juga dirasakan banyak orang yang123 akan menggunakan hak pilihnya di Pilpres bulan depan. Jika di Pileg banyak yang enggan menggunakan hak pilihnya, kayaknya di Pilpres jumlahnya akan sedikit berkurang.

Sebelum nama-nama pasangan calon presiden dan calon wakil presiden diumumkan, saya rada ga susah memutuskan siapa yang akan saya pilih. Karena waktu itu, sosok SBY cukup oke di mata saya untuk meneruskan apa yang sedang dibangun bangsa ini. Tapi setelah nama-nama pasangan pemimpin itu diumumkan, dan terutama setelah kampanye mulai berjalan, saya malah bimbang.

Saya bukan tipe orang yang suka melihat pemimpin menyindir orang lain tanpa berani menyebutkan nama. Dan sayangnya itu dilakukan SBY akhir-akhir ini. Kalau Megawati yang melakukannya, saya agak-agak maklum, biasa… perempuan! Kelambatan dan keraguan SBY sebagai presiden dalam menangani beberapa kasus yang dihadapi bangsa ini, juga antara lain alasan saya menengok kandidat lainnya. Baca selebihnya »

12 Juni 2009 Ditulis oleh wyd | Opini | , , , , , , , , , | & Komentar

Dok, Tolong Dong!

4docLupa di mana istilah di atas pernah saya baca, tapi istilah itu cocok dengan kondisi saya. Saya bukan tipe orang yang mudah mengeluh sakit tapi semua orang bisa melihat saya menahan sakit nyaris tiap hari. Untungnya saya bisa menyelesaikan semua pekerjaan saya tepat waktu meski dengan tubuh lemah atau kepala sakit.

Berikut beberapa penyakit yang pernah atau masih bersemayam di tubuh saya:

Darah saya punya masalah. Saya harus minum vitamin C dua kali dari orang normal karena darah saya hanya mampu menyerap vitamin C setengah dari orang normal. Karena terlalu banyak minum vitamin C, saya kena maag. Kadang kambuh tanpa tanda-tanda. Beberapa kali saya dibawa ke UGD karena maag kambuh dengan sakit ga tertahankan. Dokter pernah meminta saya opname tapi saya menolak. Waktu di jalan ketemu orang, ada yang mengira saya lari dari rumah sakit habis operasi karena muka saya pucat pasi. Maag bikin saya muntah. Tapi sejak setahun belakangan saya jarang muntah. Dulu saya muntah tiap hari. Bisa pagi, siang atau malam. Baca selebihnya »

7 Juni 2009 Ditulis oleh wyd | Umum | , , , , , , , , | & Komentar

Inilah Indonesia, Manohara!

Entah bagaimana latar belakang hidup gadis cantik bernama Manohara Odelia Pinot itu. Yang pasti, dada saya ikut sesak karena sedih bercampur geli.
Sedih melihat gadis muda yang usianya hanya terpaut dua tahun lebih tua dari putra saya, harus mengalami nasib mengenaskan. Lebih sedih karena nasib jelek itu malah diperolehnya karena kemolekannya.
Namun saya geli mendengar komentar-komentar polosnya yang diucapkan dengan bibir yang hanya terbuka kecil. Suaranya yang lembut masih terlalu polos untuk menyuarakan nasib bangsa ini di mata bangsa lain, terutama tetangga bebuyutan, Malaysia.

Cerita pilu Manohara di mata saya tak lebih buruk dari cerita para TKW, yang katanya penyumbang devisa bagi negara ini. Tentu bukan tentang cerita kesuksesan TKW di negeri orang hingga bisa membangun rumah megah. Walau bisa jadi rumah yang dibangun di kampung halaman dan sejumlah uang yang dikirimkan malah digunakan sang suami untuk memikat wnaita lain di kampung halamannya, sementara si TKW harus beradu fisik dengan majikannya di negeri orang. Baca selebihnya »

7 Juni 2009 Ditulis oleh wyd | Opini | , , , | & Komentar