My Chemistry Teacher is A Real B*tch!
Dengan mengganti tanda bintang dengan huruf i, judul tersebut asli sebuah ungkapan kemarahan seorang anak muda pada guru kimianya, hasil oleh-oleh sembarang klik di Google. Untung saya bukan guru kimia yang dimaksud. Kalau pun iya dan terpaksa harus mengambil hikmah -seperti kata orang bijak- maka tentu anak asuh yang bisa saya biayai dengan uang itu akan bertambah jumlahnya. Tapi eh, boleh ga ya?
Just because I was curious so much, saya baca berbagai tulisan di blog pria muda itu. Ngakunya sih level XI senior high school. Sebenarnya tampilan muka blognya cukup menarik dan cerah. Tulisan-tulisannya lebih banyak berisi kegiatan hariannya dan perasaannya. Yah, kira-kira kayak blog saya di blogspot lah
Beberapa artikel berisi tentang pengalamannya di sekolah. Dan ampun… kata-kata yang digunakannya dalam tulisan-tulisan itu bikin dada saya sesak. Bahwa guru adalah makhluk menjijikkan, guru adalah makhluk yang ga pantas hidup di muka bumi ini, dan kata-kata sejenis itu. Padahal setelah saya baca, kadang alasannya amat sepele. Baca selebihnya »
Buka Kartu?
Iseng-iseng saya google untuk mengetahui gambar apa yang keluar jika saya mengetik kata kunci berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan salah satu putri cantik saya (serius, dia memang asli cantik!).
Ternyata yang nongol gambar-gambar berikut:
The age of next birthday
Nah, angka ini selalu menjadi jawaban saya kalau siswa-siswi bertanya ulang tahun ke berapa yang akan saya rayakan sebentar lagi. Mungkin karena udah terlalu tua, jadi suka lupa sama umur sendiri
Place I’d like to travel
Pantai dengan pasir putih lembut menghampar, batu-batu karang indah dan hempasan ombak yang ga terlalu buas adalah tempat yang selalu ingin saya kunjungi. Tiga bulan pertama tinggal di Palembang, saya stress berat karena tidak bisa menemukan pantai padahal sebelumnya saya tiap hari pasti ke pantai. Saya ga pernah kuatir kulit menjadi lebih hitam, ga kuatir betis tambah berat karena jalan berkilo-kilo menyusuri pantai. Ah, jadi kangen pantai nih!
Mimpi Rakyat dan Mimpi Pemimpin
Punya impian muluk bukan cara saya memandang hidup. Meski orang bilang seorang pemimpi besar akan menjadi sukses, saya tetap tak bergeming. Impian-impian saya ga seindah impian orang kebanyakan. Saya ga pernah bermimpi memiliki rumah mewah saat uang di tabungan hanya beberapa perak, sekedar agar tabungan ga ditutup bank. Saya ga pernah bermimpi akan bertemu dengan presiden negeri ini saat saya belum menyumbangkan sesuatu yang cukup berarti untuk bangsa ini. Sebuah pemikiran yang kelewat sederhana, mungkin. Namun lewat cara sederhana ini saya bisa menjadi seseorang yang bangga pada kehidupan saya, meski ga selalu bagus untuk diungkapkan, bisa bebas berkata apa yang mau saya bicarakan, dan bisa menjejakkan kaki ke mana pun ingin melangkah tanpa ketakutan tak beralasan.
Jangan Memberi Mimpi Terlalu Indah!
Apa yang bisa kita lakukan sekarang hendaknya tidak hanya menjadi bunga tidur, atau sekadar bumbu segar debat berkepanjangan. Setiap insan dianugrahi kepekaan terhadap lingkungan. Masalahnya, ga setiap orang mau mengasahnya. Kalau pun akhirnya mereka sadar bahwa mereka adalah bagian dari sebuah lingkungan -entah itu RT, RW, hingga lingkungan besar bangsa ini- banyak yang ga mau menaruh kepedulian. Yang dipikirkan adalah bagaimana memperbaiki nasib diri dan golongannya. Baca selebihnya »
Mama Penakut!
Itu kata-kata yang kerap diucapkan anak saya. Bagi orang lain, ini mungkin menggelikan.
Awalnya banyak yang ga percaya. Waktu saya harus mengikuti course dua hari di Jakarta bersama dua teman kantor dan keduanya pria, banyak yang mengira saya pasti akan nekat tidur sendiri. Tapi kedua teman ga bisa berbuat apa-apa, saat saya tanpa rasa bersalah tidur di atas ranjang yang sama padahal salah satu teman sudah tertidur di sana. Setelah saya benar-benar tertidur, teman yang mau tidur membangunkan saya dan dengan baik hati membukakan pintu kamar dan mengantarkan saya. Dia terkejut ketika mengetuk pintu kamar saya di Shubuh pagi, ternyata pintu itu ga dikunci plus TV menyala sepanjang malam seperti saat dia meninggalkan kamar saya. Keesokan harinya kejadian yang sama kembali terulang.
Kejadian lain saat penerbangan yang saya naiki dari Surabaya ke Jakarta di-delay 2 kali 3 jam. Akhirnya kami diinapkan di hotel bintang lima di Jakarta menunggu pesawat keesokan harinya. Apesnya, di antara sebelas penumpang transit malam itu semuanya pria dewasa, kecuali saya dan seorang anak laki-laki yang bepergian hanya dengan ayahnya.
Saya harus memelas di depan resepsionis agar membolehkan pegawai wanita mereka menemani saya tidur. Eh, saya dikira lesbian lagi cari mangsa. Baca selebihnya »
