Menjadi Pengecut Adalah Pilihan
Pernah menemukan hal-hal yang patut dipertanyakan tapi ga mendapatkan jawaban meski telah mengeluarkan sekian puluh pertanyaan?
Pernah merasa seseorang menyembunyikan sesuatu tetapi ga bisa mengungkapkannya apakah benar ada yang disembunyikan?
Lelah rasanya dipertontonkan hal-hal semacam itu di sekitar saya. Cuma bikin capek kuping mendengar uraian panjang lebar tapi ga satu pun yang secara esensi menyinggung apa yang dibahas. Ga ubahnya berjalan muter-muter percuma padahal jalan pintas ada di depan mata.
Saya ingin punya keberanian untuk bukan sekedar berkata-kata tapi juga bertindak. Tapi semua itu hanyalah ‘keinginan’. Artinya saya ga pernah menggerakkan tangan untuk menyumbat mulut yang mengumbar kebohongan. Saya ga pernah mengirimkan telapak tangan untuk menggampar mulut yang menjual nama Tuhan tapi ngacir duluan saat dimintai pertanggungjawaban. Seperti kebanyakan orang lainnya, saya memilih menjadi pengecut yang hanya menonton. Saya hanya berani bilang salah adalah salah pada si pelaku tapi ga berani mengambil sepotong kayu dan menghantamkan ke tubuhnya untuk menyadarkannya. Padahal saya punya tangan, saya punya kayu yang siap dihantamkan. Hanya saja tidak melakukannya! Pengecut adalah sebutan yang sesungguhnya untuk orang-orang seperti saya, yang membiarkan (mungkin malah menikmati!) berbagai bentuk kezaliman dan kemaksiatan berlangsung di depan hidung saya. Kepengecutan itu membuat saya hanya mampu berkata tapi tidak bertindak. Kata-kata, bagaimana pun kerasnya, kadang kala tidak bekerja sama sekali.
Kepengecutan seperti itulah yang kami hadirkan di rapat sekolah tadi siang.
Bahwa sebagian dari kami hanya berani berkata tapi tidak melakukan hal lebih yang seharusnya bisa kami lakukan, sementara yang lainnya memilih bungkam karena sudah mencapai puncak kelelahan sejak sekian minggu yang lalu. Saya dan beberapa orang lainnya bertanya dan bertanya tapi ga mendapatkan sebuah jawaban pun hingga akhir pertemuan. Hingga akhirnya kami capek sendiri. Capek hati, lebih tepatnya.
Saya dapat merasakan sebagian besar dari kami sungguh ga peduli masalah uang. Bukan berarti kami ga perlu uang. Tapi uang bukanlah segala-galanya bagi kami. Loyalitas pada pekerjaan, cinta kasih pada anak-anak, kebersamaan yang telah terjalin sekian tahun lamanya mengubah kami jadi saudara satu sama lain. Kami tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi di sekolah kami. Sayangnya kami masih belum bisa menangkap komitmen yang dimiliki pimpinan sama antusiasnya dengan kata-kata yang beliau ucapkan. Atau mungkin kami yang ga pintar mempolitisasi kata-kata sehingga ga bisa menghubungkan antusiasme kata-kata beliau dengan apa yang diterapkannya? Kalau akhirnya sebagian dari kami merasa patah arang, itu karena kami terlalu cinta anak-anak kami.
Anak-anak Adalah Pemimpin Terbaik
Di bidang saya, pendidikan, saya ga pernah punya impian muluk tentang pemimpin saya, kepala atau direktur sekolah dalam hal ini. Bukan karena saya belum menemukan sosok pemimpin ideal sesuai isi kepala saya, tapi karena kok rasanya kayak mimpi siang bolong di musim kemarau untuk menemukannya. Saya tipe orang yang ga terlalu peduli soal keuangan kecuali bahwa uang yang saya terima adalah hak saya setelah melakukan kewajiban. Juga ga peduli siapa yang menjabat direktur sekolah, karena tanggung jawab terbesar pekerjaan saya bukan pada beliau tapi pada anak-anak didik, o
rang tua yang telah memberikan amanah mengasuh putra-putri mereka, masyarakat yang telah memberikan support, terlebih Tuhan yang Maha Melihat. Tanggung jawab saya terhadap direktur sekolah hanyalah sebatas bentuk melakukan yang terbaik atas apa yang telah dipercayakan dan diembankan pada saya, meski beliau tidak mengawasi langsung.
Jadi saya ga peduli berapa banyak uang masuk ke kas sekolah, sepanjang hak-hak putra-putri yang kami asuh terpenuhi. Bukan urusan saya seandainya ada uang sekian ribu bahkan jika jumlahnya sekian ratus juta atau sekian milyar, akan dikemanakan. Toh akhirnya setiap individu harus bertanggung jawab terhadap segala perbuatannya, baik atau buruk.
Saya lebih peduli bagaimana putra-putri saya tumbuh sebagai orang-orang berjiwa besar, yang berani lantang menyatakan hak adalah hak dan batil adalah batil, yang berani menunjukkan muka saat bicara dan bukannya menusuk dari belakang, yang mengatasnamakan kejujuran nurani sebagai prinsip hidup, yang berani bertanggung jawab atas setiap kata dan tindakan yang dilakukan, dan memilih jalan Tuhan untuk menapak masa depan.
Saya mencintai pekerjaan saya karena saya sungguh cinta putra-putri saya. Saya bertahan dalam pekerjaan saya karena setiap saya menatap mata mereka yang penuh harap untuk terus bersama mereka, saya ga tega berpaling. Saya sedih jika anak-anak yang saya didik dengan keras untuk bersikap jujur ternyata malah ditipu habis-habisan. Anak-anak, di mana pun mereka berada, adalah sebuah masa depan. Karena saya muak dengan segala bentuk penyelewangan dan ketidakadilan di bumi pertiwi ini, maka saya tidak mau mengajari putra-putri saya dengan ketidakadilan. Karena saya mungkin berasal dari generasi yang moralnya patut dipertanyakan, maka saya memilih menyemai tunas-tunas baru yang akan mengubah bangsa ini, setidaknya memiliki mental dan moral lebih baik dibandingkan saya.
Namun saya kuatir dengan jalan ini saya malah menyemai bibit-bibit pengecut seperti yang tumbuh dalam diri saya.

hohoho… dari dulu kala bertindak lebih susah drpd berkata-kata, ini pun sebenarnya udah jauh lebih bagus drpd diam saja. menurut saia, tentu saja.
Diam adalah emas, berkata-kata (benar dan baik) adalah berlian, bertindak (bagus) adalah sebisamu ambil daah… (kayak iklan di tv mode on)
akhirnya ma’am nulis hal ini di blog juga..
KAMI SANGAT KECEWA
1.5 tahun kami menggerutu, 1.5 tahun kami pasrah, 1.5 tahun kami KECEWA
kami pengen ngomong langsung dengan ‘atasan’
tapi kayaknya mustahil mereka mau mendengarkan, apalagi bertindak untuk mengubah
dunia makin aneh aja
jangan samapi dia keluar dari sekolah ini dalam kondisi sekolah ‘hancur’
arrrggghhh !!!
yaaaah…bgtulah dia mam….
qta mah ga tw mw diapain lg..
ma’am uda ngjerit mlengking nmpel d kuping dia jg ga bkal kdngran..klo kpingnya uda ktutup ama “setan”..
qta cma bsa pasrah..
qt doain mdah”an dy cpet sadar…
cma itu yg qt bsa dlakuin skrang…
‘coz…
klo qt ngmong(100% talk)…???ga ad respon….+ga ad jwaban yg jelas…
dan ga mngkin jg “GW” ikut “nggampar”(100%action)..dlm artian gw brtindak sndirian…
kcuali klo smua uda spakat bwat nggampar bareng2…
mngkin qt bsa brtindak….
“YOU’RE NOT A FOOLISH BECAUSE OF YOUR SILENT.BUT HE IS.(BECAUSE OF HIS MOUT WHICH FULL OF LIE)”
@Jiwa Musik: saya salut sama orang yang bisa bertindak. sayangnya saya masih terlalu pengecut melakukannya…
@weteka: maksudnya ‘dia’ siapa nih????
@gW: dont put urself on the fire, plz….
@buat pembaca lain: silakan ditafsirkan apa aja soal tulisan tapi pls ga berkomentar menggunakan bahasa kasar.
maaf untuk komentar yang ga bisa dimuat di sini. mudah2an bisa dimengerti
mam akhirnya kabel telepon tercolok kembali.
postingan yng ini,
sepertinyah saya mengerti. hwehwhe…
aku kopi tulisan mam 2 yg ini pragraf akhir ie..
KEREN!
Wah ini yang mengerti seutuhnya anak-anaknya bu Wyd dan rekan-rekan bu Wyd nampaknya
bu wyd..
justru orang seperti andalah yang kami butuhkan
yang masih mempunyai niat yang mulia di tengah kemunafikan yang ada
lakukanlah saja hal terbaik yang mampu anda lakukan
dengan penuh niat dan rasa percaya
mudah2an akan diberi jalan oleh-Nya
buktikanlah
bahwa pengecut juga mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik
ini memang perasaan saya atau komen2 terlalu menjuru?
padahal di postingan tidak ada menyebutkan pribadi tertentu?
hehhe
dengan ibu menulis disini sudah menyumbangkan sesuatu kok bu..
tetep maju bu…semoga Allah senantiasa bersama niat kita yang baik…Amin
dalam sistem apapun, setiap yang memperjuangkan humanisme itu akan mendapatkan lawan. Apakah siap untuk bertahan dan menghantam ketidakadilan itu dengan segala konsekuensinya???
Itu harus kita jawab bersama…
ehmmm….
salut, bu, mo komentar jadi bingung sendiri.
Bingung, Inikah yang disebut pengecut, bingung dan selalu gundah terhadap apa yang diyakininya.
salam hangat bu,
selamat Hari Guru Bu…”Pahlawan penyemi benih cendekia”
*QUOTE WETEKA
“SETUJU !! TAPI KAMI LEBIH MENDERITA !! HAMPIR 3 TAHUN COY !!hwhwh !”
kayaknya sebelum aku baca post ini, dari label aja aku dah tau maksudnya bu !
*sekiranya mungkin ada ga sih yang bisa kami lakukan untuk membantu ?
kami ingin demo tapi dilarang oleh beberapa pihak, jadi gimana bu ?
selamat hari guru…………..
semoga semua guru dirahmati oleh ALLAH SWT. Amien……..
asslamualaikum ma’am.
Udh Lma jga yh ga bersua..
Aku s7 sma yg ma’am biLang.
Jujur aku udh sering bget mrah2 -entah dgn alsan yg mna- dn itu bkin aku ga nyaman tnggal lma2 dskolah itu.
Udh byak bukti nyata kalo hampir semua warga sma kita ga s7 dgn -hampir semua- ‘kebijakan2′ yang dibuat.
Semoga semua ini cepet berlalu.
Jangan sampe skolah yang udah nyampe masa kejayaan nih jadi hancur cuma gra2 ‘petinggi’ yg gak punya jiwa pemimpin sama sekali.
ma’am..
aku pengen konsul masalah novel yang lagi ku buat..
^.^
Seandainya nama sekolahku tak seharum yang dibilang orang, mungkin aku sudah mencaci maki keadaannya sekarang.
Seandainya nama sekolahku tak sehebat yang dibilang orang,
mungkin aku sudah demo agar ‘dia’ turun sekarang.
Seandainya nama sekolahku tak semegah yang dipandang orang,
mungkin aku sudah merusak sekolah yang mulai keropos itu.
Tapi aku cinta sekolahku.
Sekolah yang ‘dulu’ begitu polos dan lugu.
Sekolah yang ‘dulu’ begitu penuh kejujuran dan terang-terangan.
Sekolah yang gak merugikan.
Sekolah yang gak penuh dengan sumpah serapah.
Sekolah yang gak cuma omong kosong doang.
aku lihat masa lalu
sinar menuju jalan sempurna terbuka untukku
masa depan terjamin tinggal maju
tetap di tempat syarat tuk berhulu
tika satu seseorang terluka
diminta ku menahan suara
ingin maju tak bisa
satu pulau kutinggal sementarariwayat
pulang jua
ingin harap tetap ada
hanya bagai jalan mundur kudera
kutitipkan angan di sebuah lahan
tempat belajar katanya unggulan
maju ku tenaga kira – kira
ada nama dahulu dicoba
sayang ada sedikit aroma dusta
entah sengaja mungkin salah kira
nama luar biasa
namun,
tiada pudar hati percaya
suatu hari ku kan berdiri
semua dunia memukai
kan kupikul nama tujuh belas
atas tangan pahlawan tak harap balas
jagad raya kuingin taklukan
temukan arti realita kebenaran
dan lalu arti kehidupan
karena tuhan yang maha esa
sekarang ku ada di sini
bersama masa depan era bangsa sejahtera
untuk indonesia berseri
mam…
adis cuma pngen blang sma mam…
adis sayang bnget sma mam…
adis sayang sm guru2 yg “telah membimbng” adis n temn” adis slam ini..
salut dgn mam..
for all: thx atas kebersamaan membangun sekolah yang dicintai. jika salah satu komponen berniat menghancurkan, maka komponen yang lain ga bisa berjalan dengan baik. semoga tuhan yang maha perkasa memberkati jalan kita. amin.
hoho ! jwban yang cukup singkat dan padat bu !
Tak semua masalah memberi dan membuat kita menemukan solusi!
tak semua pilihan memberi kita pilihan yang tepat!
tak semua perbuatan dianggap baik atau dianggap salah!
Apapun mungkin hanya sebuah cermin,buat kita supaya kita tidak melakukan hal dan perbuatan yang sama
tapi satu yang saya yakin,”yang baik dan benar suatu saat akan muncul kepermukaan,bagai air dan minyak baik dan benar tidak mungkin melebur menjadi satu,tapi mereka akan nampak dengan jelas,terpisah dengan jelas,oleh mata hati kita”.
apapun rintangan,tak membuatmu lemah,tetap semangat,banyak orang membutuhkanmu…mengalah bukan bearti kalah tapi coba buat strategi untuk memrubah cara pandangnya!
Sukse ya!
Memang yang paling bagus bila kita bisa bertindak dengan perbuatan melawan ketidakadilan. Bila tidak sanggup, dengan kata-kata. Bila tidak sanggup juga, paling tidak di hati kita membenci dan menolak ketidak adilan tersebut.
Mam, pertahankan kebencian itu!! Dan doakan pelakunya disadarkan Tuhan, dibuka pintu hatinya…
Mam bukan pengecut kok, seperti juga saya yang belum berani mengangkat senjata membela saudara-saudara yang teraniaya…
Loyalitas thdp ‘pekerjaan’ masih jauh lebih kecil persentasenya dibandingkan loyalitas kepada atasan, kenyataan yg kita lihat seperi itulah Bu Guru. Bibit yg akan kita semai tentu sdh kita pilih dulu, namun tidak akan semuanya tumbuh baik pasti ada yg menyimpang dari yg kita harapkan dan pada umumnya akan lebih banyak yg bagus. Jadi, Bu Guru jgn patah semangat, semai teruslah bibit yg baik itu.
posting yang ok, trm ksh telah berkunjung ke webblog kami
Seseorang pernah bilang:Allah menciptakan dunia yang penuh ketidakadilan agar dapat menilai kita dengan adil, yaitu bagaimana ikhtiar kita bereaksi terhadap ketidakadilan itu.Allah adil dalam menilai amal kita, dan Allah memang sengaja menciptakan dunia yang tidak adil. Adil yang sempurna itu (sepertinya) memang tidak ada. Apa yang dipandang adil seseorang, bisa dipandang zalim oleh orang yang lain.
Tuhan Yang Maha Adil (sungguh) telah membekali diri kita dengan `potensi keadilan’ untuk mengarungi dunia yang tidak adil.Bila sistem kerja di kantor belum bisa mencapai bentuk yang ideal (dimana keadilan terjadi dengan merata), maka kitalah yang harus cerdik memutar otak agar masih bisa berlaku adil minimal buat diri kita sendiri. Yang harus kita andalkan bukan sekedar kecerdasan emosi (tekun bekerja keras) dan kecerdasan spiritual (bersabar dan bersyukur), tapi juga kecerdasan power (menjadi cerdik dengan worksmart).
Dunia memang tidak adil, kawan.Mudah-mudahan kita masih bisa terus tersenyum ditengah badai ketidakadilan ini.
airmata adalah sesuatu yang amat sulit untuk ku mengerti
mengapa airmata ini selalu jatuh dan tidak bisa kubendung jatuhnya
aku ingin tegar menghadapi tapi jiwa ini terlalu pengecut untuk menghadapinya
tapi setegar apapun aku airmata selalu menemaniku
didalam airmataku terdapat sebuah makna yang tidak dapat aku cari apa maknanya
maka mulailah aku mencari makna dari setiap airmata yang ku keluarkan tapi sebelum aku mencari makna dari airmata itu aku sudah menyerah dan kalah