Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Ketika Guru Melakukan Tindak Kekerasan pada Siswa

(Tulisan ini keluar dari hati sanubari saya yang terdalam karena raca cinta kasih yang tulus untuk seorang siswa yang sudah saya anggap anak saya sendiri. Saya tidak peduli apa pun anggapan orang tentangnya dan latar belakangnya sebelum dan sesudah kejadian ini. Rasa sayang saya padanya tidak akan pernah berubah. Doa-doa untuk kesuksesannya agar kelak menjadi manusia yang bisa berdiri membusungkan dada dan dengan bangga mengatakan dia adalah orang yang pantas dihormati, karena sikap dan perbuatannya yang mencerminkan pribadi yang layak menerima segala bentuk penghormatan dari sesamanya. Itu yang saya selalu doakan untuknya dan juga anak-anak lain yang saya cintai tanpa pamrih. Dia dan semua anak di dunia ini adalah amanah Tuhan yang harus dididik dengan cinta kasih yang tulus.

Saya tidak mempedulikan semua bentuk resiko yang mungkin akan saya terima dengan mempublikasikan tulisan ini. Karena tulisan ini murni lahir dari sebuah cinta kasih yang tulus untuknya dan berharap dia dapat menyelesaikan permasalahannya dengan damai tanpa dendam. Karena anak yang mampu memaafkan orang tuanya adalah anak yang pantas didoakan untuk menerima tempat terbaik di antara orang-orang mulia lainnya. Dan saya percaya putra saya yang satu ini pantas mendapatkan tempat itu).

Saya tidak sibuk menyalahkan siswa ketika seorang siswa melaporkan tindakan kekerasan yang dilakukan gurunya kepada pihak kepolisian. Cara yang dipilih siswa untuk melaporkan segala tindakan di luar cara-cara pendidikan kepada pihak lain adalah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap individu di negara ini. Segala tindakan kekerasan seharusnya tidak dilakukan terhadap siapa pun dalam bentuk apa pun. Karena tindak kekerasan tidak pernah akan memberikan pendidikan yang baik. Masalahnya siswa tersebut seharusnya tidak melaporkan tindakan itu pada pihak di luar sekolah sepanjang masalahnya belum diselesaikan oleh pihak sekolah.

Saya juga menghormati pihak orang tua yang dengan sigap menyikapi tindakan tersebut. Suatu sikap yang pantas dipuji. Karena jaman sekarang ini di mana kesibukan orang tua seringkali menyita waktu dan melupakan keluarga, masih ada orang tua yang dengan cepat tanggap terhadap permasalahan putranya. Saya termasuk salah satu orang tua yang sering telat mengetahui permasalahan anak-anaknya sehingga saya terketuk untuk belajar lebih peduli pada anak-anak saya setelah melihat sikap yang ditunjukkan oleh orang tua salah satu anak didik saya ini.

Kasus ini terbilang sensitif untuk semua orang, baik guru, sekolah, siswa-siswi, maupun pihak-pihak yang bertikai. Umumnya tidak ada komentar karena tidak menginginkan segala sesuatunya menjadi lebih buruk. Saya sebagai orang yang –mungkin– paling akhir mengetahui kasus ini, merasa seperti kehilangan pijakan tanpa tahu harus berbuat apa. Saya tidak suka mencampuri urusan orang lain, tapi masalahnya yang bertikai adalah orang-orang yang saya cintai.

Di satu pihak, siswa itu adalah anak yang saya cintai dan berharap banyak hal akan dilakukannya untuk dirinya dan keluarganya. Saya masih ingat bagaimana saat kelas X sambil tersipu-sipu dia mengatakan pada saya di depan teman-teman sekelasnya bahwa dia ingin menjadi polisi. Suatu cita-cita yang luhur dan pantas didukung. Saat itu juga saya doakan agar cita-citanya terkabul dan dia dapat menjadi polisi yang baik.

Saya juga masih ingat bagaimana saya dicibirkan karena mau memberikan pelajaran tambahan padanya dan beberapa anak lain di malam hari –karena hanya itu waktu saya yang tersedia– tanpa tujuan lain selain karena saya ingin mereka dapat mengejar ketinggalannya dan dapat berhasil dalam studi. Semua itu saya lakukan dengan tulus dan karena kasih saya pada mereka semua. Menurut saya hanya berdoa untuk kesuksesan anak-anak tanpa usaha mewujudkan kesuksesan itu, adalah hal yang bodoh. Karena itu selain berdoa untuk mereka semua, saya juga memberikan pelajaran tambahan seizin kepala sekolah. Harga yang saya minta dari mereka hanyalah membuktikan pada saya bahwa mereka dapat menjadi anak yang baik dan saya akan bangga mengatakan pada dunia bahwa mereka anak-anak saya.

Jika saya berpihak padanya, saya akan setuju untuk menghukum pelaku tindakan kekerasan. Tapi masalahnya, pelaku itu adalah teman sejawat yang sudah saya anggap saudara laki-laki saya yang juga saya cintai tanpa pamrih. Kesedihan bagi saudara saya berarti juga kesedihan bagi saya. Sakit yang dideritanya berarti tugas saya dan orang-orang terdekatnya untuk berusaha menyembuhkannya.
Meskipun, ketika seseorang memutuskan melakukan suatu tindakan maka dia harus menanggung konsekuensinya. Saudara saya telah melakukan tindakan kekerasan pada siswanya maka dia layak menerima ganjaran agar tidak mengulang perlakuan yang sama. Dan putra saya telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk saudara saya. Sekaranglah waktu yang tepat untuk menunjukkan bahwa putra saya adalah pemenang karena telah memaafkan orang lain yang lebih tua meski orang itu menyakitinya.

Seorang pemberi maaf jauh lebih terhormat daripada seseorang yang membiarkan hatinya diliputi dendam.

Ketakutan terbesar saya jika masalah ini tetap diteruskan adalah rasa cinta saya pada putra saya akan terasa ‘aneh’ untuk saya sendiri, karena berarti saya telah mendidik seorang anak yang membiarkan dendam menguasainya. Dan saya tidak ingin itu terjadi. Karena saya tahu dia bisa diandalkan dan harapan gemilang di depannya akan terbuka jika dia tidak membiarkan dirinya terperangkap dalam dendam.

14 May 2008 - Posted by | SMAN 17 Palembang | , , ,

23 Comments »

  1. assmlkum wr wb..bu wyd….
    ehm kyaknya sdikit dilematis ne keadaannya…satu sisi anak didik..satu sisi teman sejawat….but…yang terpenting mnurut sya….negara qta bukanlah negara komunis dan otoriter sperti orde baru…qta sudah berevolusi menjadi ngara demokrasi terbesar no 2 d dunia (ktanya)….tetapi perlu d pertanyakan…..apakah yang dimaksud demokrasi itu?…..paradigma berpikir manusianya atau hanya gelar bangsa yang usang karena politikusnya?….spertinya yang kedua lebih cocok…. dan poin pertama itu jga paradigma berpikir manusianya yang masih komunis dan otoriter…..spertinya akan lama untuk terkikis….ya yang terpenting sbagai seorang pendidik sudah seharusnyalah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa (sperti d nyanyian itu)….bukan menjelma menjadi pahlawan yang ingin berkuasa pada anak didiknya…hidup guru2 Indonesia…..Lihatlah disana banyak anak didikmu menuggu mendambakan bimbinganmu….trima kasih Guruku….Engkaulah pahlawanku…slalu….wss

    Comment by adrian cf | 16 May 2008

  2. meski tanpa tanda jasa, harus dibayar dengan layak, kan?

    Comment by wyd | 17 May 2008

  3. Saya b9ingung kenapa kami harus berbondong bondong ke polsek hanya untuk sebuah tindakan yang tidak ingin kami lakukan, tetapi jika kami (terutama saya) tidak ikut kami akan mendapatkan cibiran baik dari guru maupun sesama siswa.

    Tulisan mam keren

    Comment by r n | 17 May 2008

  4. ehm…jelaslah..maksudnya gak mungkin gratisan….trus guruny gmana klo gak d gaji…hehehehe….wss

    Comment by adrian cf | 17 May 2008

  5. siipppp!

    karena banyak orang yang menginginkan orang lain bekerja keras tapi tidak mau menghargai mereka dengan layak, baik dalam segi materi maupun secara moral.

    Comment by wyd | 19 May 2008

  6. buat r n:

    ibu ga bisa ngerti kenapa masih ada orang atau generasi muda seperti kalian yang ga berani ngomong apa yang ada di otak kalian.

    kalau memang kamu ga mau ke poltabes saat itu kenapa kamu ikut? tidak ada seorang pun yang memaksamu ikut.

    mengenai cibiran dari guru atau sesama siswa, itu hanya apa yang kamu pikirkan, hanya apa yang ada di kepalamu.
    kamu pikir akan sepicik itukah sikap guru-guru SMA Plus Negeri 17 Palembang, ibu sebagai contoh? wooow… itu bertolak belakang banget dari pandangan orang tentang sikap yang ibu ambil selama ini.

    jangan pernah mengkambinghitamkan kepengecutan kita sebagai kesalahan orang lain.

    Comment by wyd | 19 May 2008

  7. Saya pernah membaca cinta seorang murid kepada gurunya yang dituangkan dalam sebuah novel berjudul Laskar Pelangi. Dan sekarang, saya membaca sebuah tulisan tentang cinta seorang guru kepada muridnya.

    Saya sebagai alumni mendoakan agar semuanya selesai dengan damai, dan memberi pelajaran kepada semua pihak. Amiin

    regards,
    Husnul

    Comment by Husnul Hakim | 19 May 2008

  8. fuff.

    wkt ada kejadian ini, ada pertanyaan yg keluar dari mulut saya ketemen2 alumni.

    Apa yg bakalan kalian bilang,
    ah, untung aku dah lulus? ato ah, sayang aku dah lulus?

    hehe

    dan jawaban semuanya sama, ah, sayang aku dah lulus.

    duh, para alumni kyknya seneng banget kalo liat sekolah ada masalah, ck ck ck.

    yah, itu intermezo aja bu…hehe
    Kalo yg aku denger dari mata-mataku disekolah, katanya ini berbuntut panjang akibat dua reaksi berlebihan dari kedua pihak. hohoho

    kalo disuruh memihak?
    nah lo, pasti susah bett bu. Ibarat buah simalakama. hohoho.

    umm,gimana ya? aduh, kok aku nulis malah gag dapet pencerahan?
    hohohoho maaph bu… :D

    *buat adek RN, wah sayang banget tuh. Jaman sekarang kalo gag speakup udah dek… bablas! wassalam, bakal digusur orang laen… apalagi kalo adek udah ngerasain kuliah, trus kerja *cling, aku dah kerja louch!* kalo gag speak up bakalan ngendek dalam hati… dan jadi stress sendiri.
    hohohoho

    Kalo mau menggerutu jangan dalem hati, muntahkanlah! hoho.
    Karena orang lain pada gag punya indra keenam, jadi jangan salahkan mereka kalo mereka gag denger. :P

    Comment by rocco90 | 20 May 2008

  9. nah, ini pantes disebut jebolan 17!!! dont be afraid of speakin’ up….

    kayaknya bukannya alumni seneng lihat sekolah dapet masalah tapi kita2 kan seneng2 aja kalau jadi saksi langsung suatu ‘peristiwa besar’ :)

    kayaknya ibu ga termasuk yang memberikan ‘reaksi berlebihan’ itu deh….

    Comment by wyd | 21 May 2008

  10. Semoga segera tuntas dan menuju penyelesaian yang baik bagi kedua belah pihak.

    Doa saya dari jauh untuk anda.

    Comment by agusampurno | 21 May 2008

  11. Trims, Pak!

    Comment by wyd | 27 May 2008

  12. maam wyd keren tulisannya,,
    saya kira gak ada guru yang dukung kami,,
    dan saya kira guru2 hanya menilai kami secara angkatan,,
    tapi ternyata masih ada guru yg menilai kami personal,,,
    mkasih byk maam,,

    Comment by lia rizandra | 27 July 2008

  13. kalo aja masih bisa diadili secara musyawarah, mungkin gak perlu kayak gitu kan? kayak berbondong-bondong ke poltabes, ato marah marah terhadap satu angkatan, kayaknya berlebihan tuh, kalo kedua pihak masih bisa tenang, kayaknya gak bakalan saling dendam deh, ya kan?

    Comment by uongpening | 25 August 2008

  14. mam wid.
    wuiihh.
    tulisannya keren.keren. :)

    Comment by ochie | 27 December 2008

  15. Mam yang berlalu biarlah berlalu…

    sekarang kita tatap masa yang akan datang yang lebih menantang. tp Mam,, perasaan pasca kasus ini kok kayaknya si pelaku belum menunjukkan efek jera ya.??? soalnya koq sinis banget kalo ngeliat saya.. terutama angk.X
    *ga tw mesti gmna!!*

    Comment by Choirul Azim | 27 December 2008

  16. kondisi menmancing simpati dari yang terbuang, adalah suatu kesimpulan dari tulisan kamu
    kekerasn yang dilakukan oleh rekan kamu, adalah reaksi yag terakumulasi dari kondisi keadaan yang seharusnya tetap kamu pertahankan.
    angin segar yang kamu terima ternyata ,tidak bisa merubah kondisi dirimu yang pada dasarnya dirimu adalah manusia yang tidak mau menerima tanggung jawab yang berat,
    apapun alasannya mengundurkan diri dari tanggung jawab yang seharusnya tidak dipanggul anak yang masih memerlukan bimbingan dirimu.
    adalah sempit membenarkan ketidak teraturan yang pada dasarnya mereka bongkar dengan arogansi seorang penguasa.
    adalah sebagian tanggung jawab kamu yang membenarkan ketidak teraturan yang semakin parah di lembaga kamu.
    benteng itu telah roboh oleh…………………..skak mat!

    Comment by kelana | 25 January 2009

  17. @kelana: kalau anda membaca tulisan saya yang lain, misalnya ‘menjadi pengecut adalah pilihan’ atau tulisan2 saya di blog berbahasa inggris saya, mungkin anda akan tahu sikap yang saya jalankan di lembaga saya.

    benar sekali, saya bagai berada di dua sisi mata uang. masalahnya, mata uang selalu punya dua sisi. jadi saya ga bisa melepaskan salah satunya.
    tapi kalau anda membaca teliti, terutama kalimat ini:

    ‘…..Saudara saya telah melakukan tindakan kekerasan pada siswanya maka dia layak menerima ganjaran agar tidak mengulang perlakuan yang sama. Dan putra saya telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk saudara saya….’

    anda pasti tahu ke mana saya berpihak….

    anyway thx for comment….

    Comment by wyd | 27 January 2009

  18. iy mam, memang sih kami mengkambing hitamkan kepengecutan kami, dari pada kami di cacimaki lagi kayak waktu di aula, yah tapi yang berlalu biar la berlalu. Biar jadi pengalaman hidup lah pernah demo ke POLRES, hehehehe.

    @rocco90
    oke ka

    Comment by r n | 8 December 2009

  19. tulisan mam keren..
    sungguh..itu kejadian yg pasti tidak akan diinginkan oleh kita semua..

    Comment by pelangi | 10 March 2010

  20. saya tidak sependapat dgn wyd

    Comment by M | 5 May 2010

  21. menurut saya apapun alasannya tindak kekerasan di sekolah adalah hal yg amat sangat TIDAK BERPENDIDIKAN !!! Guru ahrusnya penjadi pelopor anti kekerasan dilingkunan sekolah bukan sebaai pelaku. Sayangnya masih banyak OKNUM PENDIDIK YG TIDAK BERPENDIDIkan yg mengatasnamakan ‘pelajaran’ lewat kekerasan. Mengapa harus kekerasan yg diambil sebagai bentuk mendisiplinkan atu hal ? Mengapa tidak dengan pendekaan yg berbau KASIH SAYANG yg tidak aan menimbulkan efek trauma kepada murid yg NB nya adalah calon2 pemimpin bangsa.

    saya menulis panjang kali lebar karena anak (kelas 1 SD) saya adalah korban kekerasan oleh OKNUM pendidik dalam kelas, yaitu memberikan hasil ulangan dengan cara diremas2 dan dilemparkan kepada sanak saya. Ckckck…. pendidik yg ‘hebat’…saya sempat komplain dan merasa amat sangat keberatan kalo hal tersebut dilaukan kepada anak saya. tapi OKNUM tersebut tak mengakuinya hanya mengakui MELEMPARKAN kertas ulangan sebagai bentuk PELAJARAN agar lebih teliti dala menjawab soal. dan 2 hari yg lalu terjadi pelemparan SEPATU oleh OKNUM guru yg sama di dalam kelas dan mengenai kepada kepala salah seorang murid perempuan yg sebenarnya bukan sasaran target si ibu. MIRIS….

    Comment by Lusy mardiani, S.Pd | 16 October 2010

  22. @Lusy mardiani, S.Pd.
    saya turut prihatin, bu. saya juga bukan pendukung kekerasan, dalam bentuk apa pun. tapi kita terlahir dari latar belakang berbeda, yang kadangkala memandang sesuatu dengan cara pandang yang bertolak belakang.

    semoga pendidikan kita akan dipenuhi akhlak mulia seterusnya.
    terima kasih atas komentarnya, bu.

    Comment by wyd | 18 October 2010

  23. Pentingnya pendidikan kasih alias ramah bagi para pengajar…. karena, Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, kasih tidak sombong, kasih melakukan hal yang sopan, kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri, kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, kasih percaya segala sesuatu dan sabar menanggung sesuatu, karena apa yang kita kerjakan semuanya akan menjadi indah pada waktunya….

    Comment by malang | 2 November 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s