Internet Connection Cuts Off… Gila!
Untungnya judul kalimat itu bukan menggambarkan isi kepala saya tapi hanya kata-kata yang saya lontarkan berkali-kali setiap mengecek apakah koneksi internet di tempat saya tinggal sudah tersambung kembali. Karena tersambar petir dua kali selama dua hari berturut-turut, hotspot di lingkungan tempat tinggal saya putus sejak hampir seminggu yang lalu.
Selain karena saya ditodong oleh anak-anak…, ‘kapan? kapan? kapan?’ menanyakan hal yang sama dengan yang ingin saya ketahui, membuat saya berpikir lagi tentang ketergantungan hidup saya dengan internet. Memang sih koneksi di luaran masih tetap jalan seperti biasa. Tapi saya hanya punya waktu di atas jam sebelas malam untuk mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan internet dan kesenangan dunia maya karena hanya waktu-waktu itulah saya terbebas dari pekerjaan rutin dunia nyata saya di negeri ini. Padahal tengah malam bukanlah waktu yang sehat buat keluyuran ke warnet. Siang ini saya paksakan pergi ke perpustakaan untuk mendapatkan koneksi internet sekitar satu jam. Saya sempatkan mampir ke blog ini.
Saya telah menghitung-hitung kerugian yang telah dan bakal saya bayar jika koneksi internet tak juga tersambungkan hingga minggu depan.
1) Kerugian uang
Untuk saat ini jumlahnya masih bisa saya tanggulangi. Tapi akan bertambah dengan cepat jika saya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan saya. Dalam perjanjian yang kami tandatangani sekian bulan lalu, saya harus mengembalikan uang client saya jika saya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan saya tepat waktu. Jumlahnya dua kali lipat uang muka yang telah saya terima. Hari ini saya baru saja memindahkan sejumlah uang dari rekening net saya ke rekening net client saya. Besarnya: 3000 dolar Amerika!
2) Ketinggalan berita
Biasanya saya nonton berita lewat Youtube di malam hari. Dari situ saya menutupi informasi yang tak bisa saya peroleh dari koran atau televisi karena ketiadaan waktu untuk membaca atau menonton.
3) Kehilangan teman bicara
Berhubung dan berhubung saya punya waktu luang di malam hari setelah jam 10-11 malam, maka teman paling pas buat diajak ngobrol adalah teman yang tinggal di luar negeri. Biaya telpon yang mahal membuat saya hampir selalu menghubungi mereka lewat internet. Selain membicarakan soal pekerjaan, sekedar say hello bahkan tak jarang kami juga membicarakan masalah-masalah agama yang ingin saya ketahui atau hal-hal ringan lain. Di saat orang-orang di sekitar saya sedang bermimpi ke langit ke sekian belas, saya bisa menyelesaikan banyak hal yang berhubungan dengan internet.
4) Kehilangan mood bagus
Dengan harus menyerahkan sejumlah uang pada orang lain padahal itu bukan murni kesalahan saya, mood saya benar-benar jumping down. Kalau sudah begitu, nyaris tak ada inovasi positif yang dapat saya kerjakan.
Bagaimana dengan anda? Seberapa parahkah ketergantungan hidup anda dengan koneksi internet?

wew. bener Bu… kayaknya jaman sekarang udah bukan hal aneh kalo kita “tergantung” ama internet…
hoho ^^
berdasarkan ramalan dan penerawangan saya…
lama-lama “internet” bisa-bisa nggak lagi disebut “maya/second life”
hahahahaha
Bu, ada yang ngira aku ini anaknya Ibu lo…
hohohoho
penerawangan..??? tinggi euy bahasanya!
di antara ratusan anak yang ibu miliki, salah satunya ya kamu…
ga salah, kan?