My Partner
(This post is created cuz of someone who has accompanied me for years in happy and sad times. A special gift for the owner of lovely Samantha.)
Jangan tanya kapan pertama kali kami bertemu. Baik dia, apalagi saya, ga akan bisa mengingatnya. Namun saya masih ingat dengan jelas bagaimana saya tersentuh saat dia bilang: ‘I just wanna take you on the beach.’ Padahal saat itu dia belum tahu bahwa saya mencintai pantai dengan sangat. Itu pertemuan pertama kami di usia mudanya dengan tubuh langsing, sebaris kumis, dan rambut kriwil yang ditutupi cap.
Baca selebihnya »
Kejadian Lucu Kecelakaan Jalan Raya
Beberapa hari lalu saya mendapat musibah di jalan raya. Kecelakaan motor. Alhamdulillah ‘cuma’ luka-luka dan memar. Artinya, saya masih sadar saat kecelakaan terjadi, sehingga otak saya masih paten sablengnya :D Tapi justru kejadian lucu dan bikin miris hati yang paling saya ingat.
Kalimat pertama yang saya teriakkan sesaat setelah membuka kaca helm, saat sadar saya mengalami kecelakaan adalah: ‘Sorry, you didn’t put on the lighting! I didn’t see your lighting on!’ Si pria yang mengalami kecelakaan bersama saya terheran-heran. Saya baru ‘ngeh’ bahwa saya menggunakan bahasa Inggris! Baca selebihnya »
Muslim Rakitan
Terlahir sebagai Muslim campuran dengan latar belakang keluarga berdarah campuran Cina-Melayu-Arab, plus perayaan Sin Chia hingga remaja, mendapatkan pendidikan dini di lingkungan Katolik fanatik beserta ritual natalan hingga usia dua puluhan, dibesarkan dalam kultur campuran Cina-Melayu yang kuat, saya menjadi orang yang menaruh simpati pada keanekaragaman agama dan kepercayaan.
Hingga SMA saya masih menyalakan hio di altar sembahyang Kong Fu Cu. Saya sering ikut menyaksikan ritual pemanggilan roh nenek moyang meski disertai rasa takut dan cemas akan dirasuki. Namun saya juga sering mencuri buah-buahan persembahan saat Pek Cun tiba.
Waktu kecil dulu saya terbiasa menunggu jemputan hingga sore hari di dalam kepastoran dan menjadikan kediaman pastor sebagai rumah kedua. Saya masih mengunjungi kepastoran dan masih ikut mempersiapkan misa saat awal-awal SMP. Hal yang saya suka waktu mempersiapkan misa adalah saya boleh ‘mencicipi’ anggur lebih dari satu sloki
Baca selebihnya »
Sialan, Cewek!

Kalau saya tanya putra-putra saya, mereka bilang saya ibu paling lembut sedunia. Menurut partner saya, saya sama seksinya dengan gadis-gadis kalender! Aha, saya harus sering-sering ngaca, nih!
Anehnya, selain keluarga dekat, saya sering dikira (separuh) pria. Sekali-sekali dikira pria, tidak masalah buat saya. Tapi keseringan? Wow, pasti ada sesuatu yang salah dalam diri saya!
Puluhan bahkan mungkin ratusan orang awalnya menganggap saya seorang pria, cuma karena membaca tulisan atau komentar saya di media, baik online maupun offline. Karena itu saya menuliskan ini. Serius, sumpah (mati), saya seorang wanita. Tulen. Maksudnya, bukan trans-seksual.
Beberapa pengalaman ‘menjadi pria’ saya tuliskan di sini.
‘Mau beli apa, Pak?’ pertanyaan sang penjual kaki lima sebelum mendongakkan kepala menatap saya.
‘Terima kasih, Mas,”’ kata seorang pria muda setelah saya turunkan di depan gang rumahnya. Saya membuka helm, tersenyum. Pria muda itu meminta maaf berkali-kali karena mengira orang yang barusan memberinya tumpangan adalah seorang pria.
Seorang ibu menghentikan laju motor saya. Sang ibu minta diantarkan ke rumah sakit. Sampai di depan rumah sakit, beliau mengangsurkan lembaran dua puluh ribu. Wuih, saya dikira tukang ojek! Baca selebihnya »
Penyebar Kebencian

Secara personal, saya belum pernah terkagum-kagum setengah mati pada seorang tokoh di bidang apa pun, kecuali Axl Rose dan Michael Jackson untuk puluhan lirik yang menyentuh dan membantu mengatasi berbagai permasalahan di usia muda saya. Namun beberapa tokoh saya kagumi atas berbagai pemikiran atau pilihan hidupnya. Salah satunya Ahmed Dheedat, seorang ulama besar dari Benua Afrika.
Dari dalam negeri, kekaguman saya sering berbuah kekecewaan. Dan itu terjadi lagi dua minggu lalu. Saat itu saya menghadiri dialog dua arah di Jawa Timur dengan nara sumber seorang budayawan religius. Sang budayawan terkenal dengan kelompok seninya dan sepertinya memang diciptakan untuk berada dalam lingkungan seniman. Setidaknya, beliau menikahi seorang wanita yang pernah berprofesi sebagai penyanyi cantik bersuara merdu, dan memiliki putra yang juga penyanyi sebuah group band populer. Saya tak perlu menyebutkan nama sang budayawan, karena hal itu tak ada kaitannya dengan tulisan ini. Pemikirannya yang dikeluarkan dalam dialog tersebut yang patut dipertanyakan.
Baca selebihnya »
Mama Kok….
Putra saya saban hari menilai saya. Tapi (menurut saya) kadang penilaiannya tak cukup fair. Dia kerap berlagak lebih tahu dari saya. Padahal saya kan ibunya!
Saya takut percikan minyak saat menggoreng, kecuali minyak diganti dengan mentega. Herannya dia selalu menyempatkan diri mengomentari hal ini. Dia bahkan cekikikan melihat saya berlindung di balik lemari atau handuk yang membungkus wajah saya.
Saya juga takut menyalakan kompor. Walau disertai gerutuan, biasanya dia selalu mau membantu menyalakan kompor saat diperlukan, meski di pagi buta. Baca selebihnya »
Perkenalkan, Mantan Pacar Saya….
Seringkali seorang suami atau istri memperkenalkan pasangannya (suami atau istri) kepada orang lain dengan mengatakan: ini mantan pacar saya.
Waduh, buat saya itu ga banget! 
Kebayang kan bagaimana kita mengejar pasangan kita sebelum dia menjadi istri atau suami? Kebayang kan bagaimana kita mempersiapkan diri, mungkin dengan sedikit mematut diri di depan cermin, untuk memberikan kesan menarik di mata si dia? Plus segudang aktivitas lain yang tak biasa kita lakukan untuk orang lain, kecuali dengan alasan si dia ‘spesial’ dan pantas menerimanya.
Jika kemudian dia telah menjadi istri atau suami, sesuatu yang dulu kita impikan dan sekarang menjadi kenyataan, adalah sesuatu yang seharusnya patut disyukuri. Namun seringkali kebiasaan manis yang dulu dilakukan, mendadak hilang saat si dia telah menjadi suami atau istri. Ucapan indah yang dulu kerap dilontarkan mendadak menguap entah ke mana. Baca selebihnya »
Bertameng Agama
Seorang teman bertanya dengan terjemahan bebas berikut ini:
“Dulu saat pertama bertemu dan saya bertanya siapa kamu, kenapa kamu menjawab ‘I’m Wyd and I’m a Muslim’. Dan saat kita bertemu dengan orang yang baru dan dia menanyakan hal yang sama, kamu juga menjawab dengan jawaban yang sama. Kenapa kamu selalu menyebutkan agamamu dalam perkenalan pertama?”
Wah, saya tidak tahu harus menjawab apa. Itu hanya kebiasaan memperkenalkan diri, terutama pada orang asing, yang umumnya non Muslim menurut perkiraan saya. Kadang saya juga memperkenalkan diri dengan mengatakan: ‘I’m Wyd and I’m blessed being a Muslim.’
Baca selebihnya »
Saya Racuni Tubuh Demi Hidup
Orang bilang zat kimia adalah racun bagi tubuh, meski dalam bentuk obat. Saya mulai rutin ‘mengkonsumsi’ obat-obatan sejak kelas 3 SD dan melakukan injeksi secara rutin sejak kelas 3 SMP. Berikut daftar zat kimia yang harus saya telan setiap hari agar saya bisa beraktivitas layaknya orang lain:
- Vitamin C minimal 1000 mg untuk menambah daya tahan tubuh. Biasanya saya konsumsi 2000 mg perhari.
- Vitamin E untuk menghindari iritasi kulit karena dehidrasi. Saya harus minum jauh lebih banyak dibandingkan kebutuhan normal. Seorang teman berkomentar saya minum bagai onta kehausan.
- Obat maag untuk mengurangi gejala maag akibat terlalu banyak mengkonsumsi vitamin C.
- Obat tambah darah untuk menaikkan Hb.
- Obat sakit kepala, kalau lagi sangat sakit hingga mata berair, saya telan 4 biji sekaligus!
- Multivitamin cair 2 sendok makan untuk menaikkan Hb.
- Amphetamine untuk mengurangi nyeri/sakit di sekujur tubuh, terutama kepala (Saya tahu ini berbahaya!).
- Obat anti muntah (obat mual) untuk mengurangi rasa mual tapi obat ini bikin ngantuk.
Baca selebihnya »
Pemuja Iblis
Di kamar tidur, di bagian depan pintu lemari pakaian, tertempel sebuah karton putih dengan tulisan ukuran besar berhuruf kapital dari spidol hitam:
Iblis tak mau menyembah Tuhan selain Allah.
Mengapa kita tak belajar dari iblis?
Itu yang tertulis di pintu lemari pakaian di kamar tidur saya saat SMP-SMA. Baca selebihnya »
Alhamdullilah untuk Duka Indonesia
Banjir menerjang kehidupan sekian ratus orang. Erupsi gunung berapi menelan puluhan korban jiwa. Gempa dan tsunami menyapu ratusan nyawa.
Terpana menyaksikan berita di TV, akun Twitter saya menjadi lebih aktif memantau berbagai komentar dunia. Semua memperbincangkan hal yang sama: negara ini dilanda musibah sambung-menyambung. Indonesia menangis.
Apa yang diperbuat anak bangsa pada saudaranya sebangsa yang tertimpa musibah? Saya mengatakan ini pada boss saya yang bertanya soal tsunami di Sumatera: Alhamdullilah tempat saya rada aman.
Boss saya marah besar, seperti marahnya daddy saya waktu beliau mendengar jawaban saya tentang gempa Jogja: Alhamdullilah keluarga kita di Jakarta dan Bandung. Ada satu di Jogja tapi lumayan aman.
Dengan nada tinggi beliau berucap: ‘What are you talking about, my girl? Keep your words or be silent are much better than you thank for the terrible earthquake isn’t around your place!’
Baca selebihnya »
Thx God, I’m Still Alive!
Kesehatan saya makin memburuk sejak setahun lalu. Diagnosis kelainan genetik dalam darah yang harus saya tanggung seumur hidup makin terasa dampaknya dalam tubuh saya. Sudah terlalu banyak obat yang harus saya telan setiap harinya. Dengan cek Hb terakhir hanya 8,5 dokter meminta saya istirahat panjang. Tapi it’s something impossible. Meninggalkan pekerjaan sama artinya membiarkan tubuh merasakan sakit yang lebih.
Saya tak mau menyerah pada rasa sakit. Kalau sudah tak tertahankan, saya tambahkan dosis pengobatan. Tak berdaya menentang keadaan membuat saya justru makin kuat berupaya memperbaiki kesehatan. Memiliki kesedihan adalah manusiawi sekali, tapi terlarut dalam kesedihan tak berujung hanyalah manusia bodoh.
Baca selebihnya »
Saya Hanya Ingin Istirahat
Dengan alasan kesehatan dan semilyar alasan lainnya, saya memutuskan berhenti menulis di blog ini. Untuk semua teman dan pembaca yang telah meluangkan waktu membaca tulisan-tulisan saya di sini, saya mengucapkan terima kasih yang tak terbalaskan.
Saya juga mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kata-kata atau tulisan saya yang kurang berkenan di hati pembaca atau pihak mana pun. Apa yang saya tulis hanyalah pengalaman-pengalaman dan opini pribadi, tanpa bermaksud menyinggung siapa pun.
Saya tidak tahu kapan saya akan kembali atau apakah saya akan kembali. Saya hanya ingin menutup pintu perjuangan yang telah saya mulai sejak bertahun-tahun lalu namun tak kunjung tampak ujungnya. Daddy saya bilang saya adalah wanita yang penuh kasih dan layak dicintai. Saya tidak yakin jika saya masih seperti itu.
Saya hanya ingin beristirahat. Entah sampai kapan.
Sentuhan Kematian
Empat orang yang sangat saya cintai di masa hidup mereka, seringkali mengunjungi saya belakangan ini.
Yang pertama pergi adalah suster kepala. Kami biasa memanggilnya Suster Bernadeth. Meski tak pernah memuji di depan hidung saya, beliau selalu menceritakan cinta dan kasihnya terhadap saya di depan anak-anak lain. Tujuh tahun dalam hidup saya, saya lalui bersama beliau hingga wafatnya dan selama itu pula saya belajar mengisi hati dengan cinta kasih.
Ayah pergi sesudahnya. Ayah adalah pria yang selalu saya banggakan nomor satu jika bicara soal kejujuran dan keteguhan pada kebenaran. Baca selebihnya »
Saya Berharap Tertidur Selamanya
Pernah merasakan hatimu kosong meski telah membaca kitab suci sekian lembar?
Meski berada di keramaian namun merasa begitu kesepian. Orang-orang di sekitarmu berbicara namun kamu tidak bisa mendengarkan suara mereka. Saat suara-suara itu bisa didengar, malah membuatmu mual.
Kamu bisa merasakan kulit mereka namun tak mampu merasakan kehangatannya. Tatapan keingintahuan mereka malah membuat hatimu menggigil.
Ingin rasanya melarikan diri, namun semua jalan berujung buntu, seolah terkunci gembok raksasa. Kamu mencoba berlari sejauh mungkin namun nyatanya langkahmu terpaku di lantai yang sama.
(Saya harap saya tertidur selamanya.) Baca selebihnya »
Tips Melupakan Patah Hati. Hasilnya Nyata!
Saya belum pernah patah hati. Karena saya ga pernah siap mempertaruhkan segalanya buat seseorang yang bukan sanak keluarga saya. Tapi atas permintaan beberapa komentator di tulisan Are U in Love? saya menuliskannya di sini.
Berikut ini tips yang pernah saya berikan pada beberapa teman yang menanyakan bagaimana caranya melupakan patah hati:
Berteman dengan internet. Jadi perokok berat. Konsumsi alkohol banyak-banyak. Petantang-petenteng di sekitar preman.
Hasil nyatanya bisa dilihat di akhir tulisan. Baca selebihnya »
Suamiku Tersayang, Setengah Milyar untuk Layananku
Bukan bermaksud menjadi oven pemanggang ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia, atau sok membela gadis cantik yang katanya sempat ‘bagaikan hidup di sangkar emas’, maka tulisan ini hadir.
Masih dalam rangka liburan, saya jadi aktif menonton TV setelah jadi ‘ibu rumah tangga yang baik’. Dua hari berturut-turut melototin berita infotainment yang sama, tentang suami Manohara Odelia Pinot yang berbangga hati telah memenangkan kasus melawan istrinya sendiri di pengadilan negeri jiran itu. Meski tak beraliansi pada Manohara atau ibunya yang tampak terlalu ‘wah’ di mata saya, tak urung saya terhenyak dengan berita itu. Ini semua karena si Tengku dari Kelantan (silakan cari di Google namanya, saya lagi malas) sambil senyam-senyum plus bahasa yang ga banget buat telinga saya, dengan bangga menyatakan kemenangannya dan betapa adilnya pengadilan di negaranya mewajibkan istrinya membayar hutang-hutang sebagai seorang istri.
Di mata saya, si Tengku hanya mempertontonkan kedunguannya dalam Islam. Baca selebihnya »
Merry Christmas, Suster!

Merry Christmas, Suster! Merry Christmas, Pastor!
Lalu para suster biara dan pastor akan menciumi kening saya, menyapu telapak tangan di atas kepala saya sambil mendoakan keberkahan dalam hidup saya.
‘Merry Christmas, sayang!’ yang selalu diucapkan dengan senyum tulus.
Itu puluhan tahun lalu. Sekarang sang pastor sudah kembali ke negara asalnya, Belanda. Suster kepala meninggal saat saya SMP. Saya tidak pernah lagi mengunjungi kepastoran sejak itu. Keinginan mengabdi sebagai nun pun telah saya buang jauh-jauh. Namun kenangan itu selalu datang setiap Christmas tiba.
Terlalu banyak kenangan. Tahun lalu saya masih menerima sms ‘Wish you had a merry x-mas!’ dan ‘I’d hand u roses in next christmas. I promise.’ Baca selebihnya »
Kangen Ibu
(Tulisan ini ditulis dengan cinta. Sebentuk cinta yang saya persembahkan untuk ibu saya dan ibu-ibu lain di dunia ini yang merupakan salah satu orang terhebat yang pernah ada di hati putra-putrinya)
Ibu sekarang tinggal di Bandung. Beliau terbiasa ‘wara-wiri’ menetap di Jakarta atau Bandung, di tempat saudara-saudara saya. Tergantung mood, kayaknya ![]()
Saya akan menelpon beliau tiap kali memerlukan doa pendukung. Herannya, hingga detik ini saya selalu merasa, kok doa ibu saya lebih mujarab dibandingkan jika saya berdoa sendiri meski untuk keperluan saya pribadi
Terakhir bertemu ibu lebih dari dua tahun lalu. Ibu tinggal dengan kami tiga bulanan. Itu kali pertama dan terakhir ibu tinggal di rumah kami. Selebihnya bersama empat saudara saya lainnya. Putra saya sempat berkomentar: kok nenek ga fair sih, ga pernah tinggal lama di sini? Kan nenek milik kita sama-sama? Baca selebihnya »
Bunuh Diri. Tertarik?
(Semoga Sang Empunya Kehidupan mengampuni dosa-dosa kita semua. Semoga Dia memilihkan tempat indah buat saudara saya setelah Dia memberikan ‘rumah gelap gulita’ di dunia ini padanya.
Mohon maaf kepada semua pihak jika merasa saya mengungkit ‘cerita lama’.)
Kasus bunuh diri belakangan ini marak terjadi. Pilihan tempatnya pun mewah, misalnya hotel atau mall.
Seorang sahabat baik, yang sudah saya anggap saudara, juga meninggal karena bunuh diri. Setelah dua kali gagal, akhirnya dia benar-benar berhasil mewujudkan keinginannya dengan cara ketiga. Tulisan ini tidak untuk mengungkit atau menyalahkan pihak mana pun. Kami berdua telah melalui kehidupan yang amat berat. Saya mencoba keluar dari belenggu itu dengan mengikis satu-persatu rantai perangkap. Sedangkan dia memilih menyerah karena tak sanggup lagi melawan. Baca selebihnya »


